Translate

Quotes

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”
(Pramoedya Ananta Toer)

Selasa, 24 Januari 2012

Mak Sulis dan Batik


"Dengan mengingat, menimbang, memutuskan, menetapkan bahwa PT. XERO STYLE bebas dari segala tuntutan yang di ajukan oleh penuntut umum"

"Tok...tok...tok...", ketukan palu bercumbu dengan meja hijau menjadi titik akhir jalannya kehidupan. Menerima pernyataan itu, semua indera seakan kerasukan belati yang begitu tajam hingga menguliti kulit sampai tulangnya. Keadaan tersebut tak jauh beda dengan mak Sulis serta suaminya pak Tomo.
"Bapak... itu mereka yang salah kok bebas dari tuntutan sih?", suara centil Fara masih sempatnya bertanya, menyeruakkan telinga pak Tomo yang tengah menenangkan istrinya.
"Iin sungguh tak adil!!!, itu sangat keterlaluan! ibarat pepatah, pagar makan tanaman. Dasar orang tak tahu terima kasih" suara serak mak Sulis tehenti ketika ia kehilangan kesadarannya.
"Braakkkkkk...!!!," tubuhnya terjatuh dan kepalanya tak sengaja membentur ubin ruangan pengadilan itu. Kerabat mak Sulis bergegas memboyong tubuh sintalnya menuju mobil avanza yang siap terparkir di depan pintu pengadilan.
*****
Pagi yang cerah membelai kulit wanita paruh baya yang tengah senam pagi dengan ditemani anturium kesayangannya. Usia yang hampir kepala empat itu tak terlihat tua, bahkan mirip sekali dengan anak kuliahan. Tinggi yang sepadan dengan tinggi wanita Indonesia pada umumnya 165cm ini, tak jarang menghabiskan seharian waktunya di salon. Sekedar meni pedi, spa atau apalah ada saja alasannya untuk menghabiskan uang suaminya yang seorang walikota itu. Tentu, kegemarannya  untuk berbelanja tak dapat tertandingi oleh wanita manapun di kota ini. Alih-alih belanja di kotanya, tak jarang uangnya dihambur-hamburkan hingga Paris, London atau yang terdekat saja Singapura. Seringkali pula perempuan yang sering di sapa Mak Sulis ini dikecam masyarakat sekitar.
"Punya usaha baju sendiri kok nyelonong ke luar negeri" adalah ucapan yang acapkali ia terima. Namun bukan mak Sulis namanya bila tak tersenyum menanggapi celotehan dari para teman-teman arisannya..
Sore ini cuaca sudah mulai tak bersahabat. Pijaran mentari yang seringkali mengganggu mang Fara tak lagi menyeruput kulit putih lelaki ini. Oppssss... sejak dua tahun yang lalu ia mengubah namanya dari Fandi menjadi Fara. Gayanya yang begitu flamboyan sering menjadi ajang tontonan gratis bagi warga kampung. Ia awalnya adalah juru masak keluarga mak Sulis. Tetapi, karena pengetahuannya yang luas tentang dunia fashion ia diangkat, berat kaleee.... ia diangkat menjadi asisten pribadi mak Sulis.
Seringkali gayanya yang lemah gemulai membuat mak Sulis tertawa tujuh hari tujuh malam. Busyett... lama amat. Sore ini mak Sulis tengah bersiap pergi melihat keadaan pabrik tekstil miliknya. Perjalanan sore yang mendung seakan begitu cepat dari biasanya. Lalu lintas kota yang biasanya padat merayap kini teralihkan berkat mendung yang rupanya kian pekat.
"Bu, ini tanda tangan untuk distribusi barang dulu" ucap salah seorang pegawai marketing pria bertubuh atletis berkemeja putih begaris dengan santun. Terlihat name tag nya "Muhammad Fardhan", hingga dengan gaya centilnya Fara memaksa berkenalan sambil melambaikan tangannya, memanggil nama Fardhan layaknya tukang angkot. Melihat pertunjukan aneh itu, mak Sulis sudah terbiasa namun ia tetap tak bisa menahan gelak tawa. Hingga ia selalu meninggalkan asistennya berkeliling sendirian memantau keadaan pabrik. Puluhan ribu gelondong kain batik setiap minggunya didistribusikan menuju pasar lokal, pasar nasional hingga meloncat sampai benua biru. Selain itu gaun batik langsung jadi pun mampu digemari hingga Malaysia, Singapura dan pemasok terbesar datang dari Australia. Tak khayal bila mak Sulis ini memiliki dua gelar yang diberikan pemerintah kota setempat, pertama sebagai ibu wali kota dan yang kedua adalah sebagai duta batik kota tersebut.
Setelah puas melihat kondisi pabriknya, mak Sulis menyeret mang Fendi, eh.... Mang Fara si kembang kota menuju butik langganan mak Sulis. Apalagi yang diperbuat kalau bukan belanja, menghambur-hamburkan uang.
"Itu jeng sekarang yang ngetrend itu model belahan dadanya itu dinaikkan segini" ucap Fara sambil memperagakan satu persatu ucapannya.
"Aku kan bukan anak muda lagi far, yang sopan saja deh yang penting kelihatan kalau tubuhku langsing dan tampilannya glamour"
"Batik lagi jeng?"
"Iya dong sis, aku kan perempuan Indonesia" ujar mak Sulis sambil menggoyangkan kipas berlapis renda biru, padahal hawa dingin sudah cukup mendinginkan seluruh kota.
"Biar deh jeng, eke mah ogah dandan kayak jeng... Eke ntu sekelas dengan Britney Spears gitu lah" mang Fara tak mau kalah mempromosikan kesukaannya, hingga celotehannya terhenti setibanya di butik "Claud's" yang tengah disebut sebagai sentra batik terbaik dari beberapa butik batik di Indonesia. Dan konsumennya pun, adalah kelas pejabat semua. Padahal, berpakaian batik tak perlu semahal yang dilakukan mak Sulis. Tak perlu membutuhkan uang banyak untuk menikmati mahakarya Indonesia yang telah diakui UNESCO dua tahun lalu. Namun, alasan performance maksimal kerap kali butik dipilih orang sekelas mak Sulis. Lalu, yang lain bagaimana? Cukup membeli kain ecerannya saja, mereka menjahitnya di penjahit desa. Langkah itupun cukup simple bagi peminat batik dari kalangan low social economy. Berbeda jauh dengan yang dilakukan mak Sulis. Namun, it's all come from our heart. Begitulah filosofi penggemar batik  di Indonesia.
 "Ini produk dari Malaysia ibu, kainnya tidak bikin iritasi pada kulit dan ini adalah produk terbaik saat ini di butik kami," ujar perempuan pemilik butik yang turun langsung menangani istri  pejabat sekelas mak Sulis. Lama mak Sulis terdiam. Sepertinya ada sesuatu yang ia simpan jauh-jauh dalam lubuk hatinya. Dipegangnya batik itu. Raut mukanya terhenyak ketika ia membalikkan banderol harga yang menggantung cantik di icon pakaian itu. Sepertinya mak Sulis bukan mengamati bandrolnya saja, tetapi ada yang lainnya. Entah apa yang dirasakan mak Sulis kemudian. "Dari Malaysia ibuk, kainnya sudah diolah dengan keahlian yang lebih bagus" ujar ibu pemilik butik ketika mak Sulis mengajukan pertanyaan.
"Mbak, saya bisa minta alamat distributornya tidak? Soalnya saya ingin memesan langsung kain yang serupa. Dan sekalian ini di bungkus juga mbak," ujar mak Sulis dengan nafas yang lega. Dadanya mengembang kempis, seakan beban berat tertahan di punggungnya.
Pagi yang mengaruk-garuk lintas alun-alun kota menyisahkan bau basah. Aroma air hujan sempat tercium tajam pada angin yang membawanya terbang. Bingkai panorama kota Surabaya terlihat seakan kota yang sudah mati. Tak terlihat banyak orang yang berlalu lalang sepanjang jalan utama. Semua begitu sepi, senyap dan lelap. Namun berbeda di suatu tempat. Banyak kerumunan warga yang berdesak-desakan berebut tempat nonton. Banyak sekali wartawan dari media cetak maupun elektronik terlihat tak sabar menanti hal yang besar. Dua minggu yang lalu, kehebohan besar terjadi ketika sepasang pasutri mendatangi pengadilan negeri kota Surabaya. Dan, hari ini juga semua issue itu akan diputuskan.
"Ibu Retno Widianingsih alias Mak Sulis menuntut PT. XERO STYLE atas dakwaan pelanggaran kode etik dalam dunia industri tekstil dan pelanggaran terhadap hak kepemilikan," melalui proses yang panjang akhirnya kalimat itu mulai terucap. Terlihat berbagai wartawan tengah jeprat-jepret foto tak ingin ada satu hal pun terlewat.
*****
"Kita harus lebih banyak belajar ma, ini adalah Pembelajaran yang begitu indah ma. Dengan ini semua kita bisa bebuat lebih baik ke depannya," ucapan pak Hutomo nyaris seperti pidatonya di hadapan pejabat yang lainnya.
"Tapi....," suara itu ia gantungkan, pak Hutomo pun menambahinya "Tak ada tapi-tapi. Papa ngerti mama mikir gengsi kan? Sudahlah ma, dengan hal ini mama sudah menjadi guru sekaligus pemeran dalam pelajaran berharga ini," mang Fara begitu terharu mendengar ucapan tuannya itu. Tak begitu lama bagi Fara menjatuhkan air matanya.
"Semoga pa!," senyumnya tersungging anggung penuh seakan kemenangan itu dipihak mereka.
PT. XERO STYLE berhasil menang atas hak paten kepemilikan batik yang diproduksi oleh pabrik tekstil yang dikelolah oleh mak Sulis. Kesalahan terbesar mak Sulis adalah kurang memperhatikan batik, karena batik juga perlu didaftarkan layaknya akta kelahiran.

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites