Translate

Quotes

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”
(Pramoedya Ananta Toer)

This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Kamis, 22 November 2012

Upaya Memberantas Bibit Koruptif di SMA Negeri 1 Grati


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pada tahun 2005, menurut data Political Economic and Risk Consultancy, Indonesia menempati ururtan pertama sebagai negara terkorup di Asia. Jika dilihat dalam kenyataan sehari-hari korupsi hampir terjadi di setiap tingkatan dan aspek kehidupan masyarakat. Mulai dari mengurus Ijin Mendirikan Bangunan, proyek pengadaan di instansi pemerintah sampai proses penegakan hukum.
Tanpa disadari, korupsi muncul dari kebiasaan yang dianggap lumrah dan wajar oleh masyarakat umum. Seperti memberi hadiah kepada pejabat/pegawai negeri atau keluarganya sebagai imbal jasa sebuah pelayanan. Kebiasaan itu dipandang lumrah dilakukan sebagai bagian dari budaya ketimuran. Kebiasaan koruptif ini lama-lama akan menjadi bibit-bibit korupsi yang nyata.
Kebiasaan berperilaku koruptif yang terus berlangsung di kalangan masyarakat salah satunya disebabkan masih sangat kurangnya pemahaman mereka terhadap pengertian korupsi. Selama ini, kosa kata korupsi sudah populer di Indonesia. Hampir semua orang pernah mendengar kata korupsi. Dari mulai rakyat pedalaman, pelajar, mahasiswa, pegawai negeri, orang swasta, aparat penegak hokum sampai pejabat negara. Namun jika ditanyakan kepada mereka kepada mereka apa itu korupsi, jenis perbuatan apa saja yang bisa dikategorikan sebagai tindak pidana korupsi? Hampir dipastikan sangat sedikit yang dapat menjawab secara benar tentang bentuk/jenis korupsi sebagai dimaksud oleh undang-undang.
Munculnya perilaku koruptif berawal dari perjalanan pendidikan yang tidak sempurna. Seseorang yang menjalani proses belajar di bangku sekolah sangatlah rawan menjadi agen korupsi. Sekolah yang memiliki peranan mendidik karakter sesuai dengan pengamalan pancasila nyatanya gagal dalam pemberian sosialisasinya melainkan menjadikan tempat sebagai pendukung pelatihan tindak korupsi seorang individu. Hal ini diperkuat oleh sistem sekolah yang memakai cara konvensional dalam segala kegiatan belajar mengajar. Munculnya kecurangan dalam ujian, tindakan nerimo ing pandum pada Program Intensifikasi Belajar (PIB) juga berbagai macam jenis pelanggaran dalam ujian lainnya. Selain itu, kegiatan curang dalam ujian tidak sepenuhnya dilakukan oleh pelajar melainkan secara tidak langsung tenaga pendidik juga berperan di dalamnya. Dalam kaitannya, dunia politik dan pendidikan sangat berkaitan. Politik Indonesia yang semakin bekembang tentunya berdampak pada lembaga pendidikan yang seharusnya dilakukan perubahan. Sistem pembelajaran yang tidak sesuai dengan situasi politik Indonesia menyebabkan gagalnya fungsi sosialisasi sekolah sebagaimana mestinya. Hal inilah yang selama ini mendukung aksi kegiatan koruptif yang semakin menjadi. Semestinya diperlukan beberapa pembenanahan dalam proses pembelajaran sekolah agar tidak melanjutkan sistem konvensional sebagai cara dalam mendidik siswanya.
Berangkat dari keadaan demikian penulis mengangkat judul “Upaya Memberantas Bibit Koruptif di SMA Negeri 1 Grati” dalam makalah ini.


1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah adalah: “Bagaimana upaya memberantas bibit koruptif di SMA negeri 1 Grati?”





BAB II
METODE PENELITIAN

2.1 Pendekatan Penelitian
Pada penelitian ini kami menggunakan pendekatan kualitatif yaitu pendekatan yang berusaha menangkap kenyataan sosial secara keseluruhan, utuh, dan tuntas sebagai suatu kesatuan kenyataan. Menurut pendekatan ini, objek penelitian dilihat sebagai kenyataan hidup yang dinamis, sehingga dengan penelitian ini data yang diperoleh tidak berupa angka-angka, tetapi lebih banyak deskripsi, ungkapan, atau makna-makna tertentu yang ingin disampaikan. Dalam pendekatan ini kami menggunakan penelitian deskriptif. Deskriptif dimaksud untuk mendeskripsikan suatu situasi. Pendekatan deskriptif juga berarti untuk menjelaskan fenomena atau karakteristik individual, situasi atau kelompok sosial secara akurat.

2.2 Populasi dan sampel
2.2.1 Populasi
  Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian (Arikunto, 2002: 18).
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X, XI dan XII SMA Negeri 1 Grati kabupaten Pasuruan pada tahun 2012 dengan jumlah populasi lebih dari 850 jiwa.


2.2.2 Sampel
Sampel adalah sebagian atau wakil dari populasi yang diteliti (Arikunto, 2002: 109). 
Besar sampel dalam penelitian ini diambil dari populasi kelas X dan XII RSBI yang terdiri dari X-1, X-2, XI-IA 1, XI-IA 2 yang secara akumulatif berjumlah 120 sampel. Hal ini mempertimbangkan pemilihan kelas RSBI sebagai sampel berdasarkan segi manajemen pembelajaran yang lebih baik dari kelas lainnya.

2.3 Metode Pengumpulan Data
2.3.1 Observasi
Metode observasi adalah teknik penelitian dengan melakukan pengamatan subjek kajian secara langsung turun ke lapangan untuk mengkaji subjek kajian secara spontan dan alamiah. Melalui inilah peneliti berusaha menjelaskan realitas dengan berusaha memperkecil atau bahkan menghilangkan subjektivitas peneliti.
2.3.2 Interview
Metode interview adalah wawancara atau dialog yang dilakukan oleh peneliti dan subjek penelitian yang bersifat dua arah, adapun pertanyaan telah terlebih dahulu disistematisasi sesuai dengan tema penelitian, pertanyaan secara fleksibel dapat berubah sesuai dengan arah pembicaraan agar tidak menimbulkan kecanggungan subjek kajian.






BAB III
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil Penelitian
3.1.1 Ulangan Harian
Kebiasaan mencontek yang semakin lumrah serta berbagai banyaknya modus/cara mencontek yang lebih canggih. Hal ini berdasarkan pengamatan merupakan kecenderungan untuk menghindari nilai mati (< KKM). Namun dalam perkembangannya menghindari nilai mati bukan lagi yang dinomor satukan, melainkan meraih nilai sempurna atas dasar “gengsi” antar sesama teman. 
Disisi lain, perbedaan nilai yang mencolok antar teman sepermainan membuat “si-oknum” memakai berbagai cara agar nilai dalam berbagai ulangan hariannya terangkat, minimal sama dengan temannya.

3.1.2 Ujian Tengah Semester
Merupakan kasus kecurangan terbaik sepanjang masa sekolah saya. Semua berlomba-lomba memiliki nilai sempurna baik melalui cara yang benar bahkan tidak sedikit melalui cara yang kotor. Hal ini didasarkan pada rasio mereka bahwa “UTS tidak ada remidi dan orangtua mengetahui nilai asli mereka, jadi UTS harus bagus”, sehingga pemikiran seperti yang sudah tertanam ini semakin memperparah kasus kecurangan yang masih belum tertuntaskan. Saya menemukan berbagai kejanggalan yang tidak hanya dilakukan oleh siswa, melainkan melalui “oknum” guru sendiri. Seperti, membiarkan kerjasama dalam situasi ujian berlangsung. Pada Ujian Tengah Semester diberlakukan penulisan presentase nilai kejujuran dalam pengerjaannya. Pemberian nilai 100% berarti siswa mengikuti ujian dengan sikap jujur tanpa melakukan kontak kecurangan. Berbeda dengan nilai 98% atau 75% ini dihitung sebagai kasus kecurangan meskipun tingkat kejujurannya tidak menurun drastis. Artinya, selain 100% maka telah melakukan kecurangan. Tolak ukur ujian tulis sebagai sistem acuan kemampuan siswa membuktikan sudah tidak cocok lagi digunakan. Berdasarkan data yang didapat pada pelajaran bahasa Inggris, tingkat kecurangan pada sampel lima kelas adalah sebagai berikut:
No. Kelas Jumlah Siswa Jumlah Kejujuran 100% % Kejujuran Tiap Kelas
1.     X-2              30                           5                                         16,6%
2.    XI IA 1         30                           4                                         13,3%
3.    XI IA 2         30                           6                                          20%
4. X-1              30                           8                                         26,6%
Total Responden  120 Siswa       23 Siswa                               19,1 %

Kesimpulan:
Dari jumlah total 120 sampel didapat tingkat kejujuran 19,1 %. Dengan demikian,  Ujian Tengah Semester dengan sistem tulis, sudah tidak cocok digunakan. Hal ini mengindikasikan sebanyak 80,9 % melakukan kecurangan. Jadi, kesimpulan dari hal ini ialah Ujian Tengan Semester dengan sistem ujian tulis mampu mendorong tingkat perilaku koruptif sebesar yang telah disebutkan diatas. 

3.1.3 Program Intensifikasi Belajar (PIB)
Opini saya selama mengikuti kegiatan PIB ini adalah sangat sia-sia. Alasannya: Sistem PIB lebih ditekankan pada pengerjaan soal yang terbilang materi kelas 10-12 dimana dominan siswa akan mengalami kesulitan dan akhirnya banyaknya waktu yang disediakan terhabiskan hanya dengan obrolan semata. Tidak ada usaha dalam menjawab soal PIB. Kegiatan dan tradisi mencontek masih berlanjut. Hal ini berlatar belakangkan bahwa hasil PIB “tidak akan” mempengaruhi nilai raport mereka. Kesimpulannya, PIB bukan jawaban yang efektif bagi pengukuran tingkat kejujuran maupun tahap pelatihan persiapan menghadapi Ujian Nasional. Karena PIB berkesan lebih memberikan porsi pengerjaan soal lebih banyak ketimbang waktu pembahasan yang relatif singkat.

3.1.4 Kantin Kejujuran
Kantin kejujuran merupakan upaya agar para pengunjung khususnya siswa di lingkungan SMA Negeri 1 Grati berperilaku jujur. Kantin kejujuran adalah kantin yang menjual makanan kecil dan minuman maupun alat tulis. Kantin kejujuran tidak memiliki penjual dan tidak dijaga. Barang dipajang dalam kantin (etalase). Dalam kantin tersedia kotak uang, yang berguna menampung pembayaran dari yang membeli makanan atau minuman. Bila ada kembalian, pengunjung mengambil dan menghitung sendiri uang kembalian dari dalam kotak tersebut. Di kantin ini, kesadaran pengunjung sangat dituntut untuk berbelanja dengan membayar dan mengambil uang kembalian jika memang berlebih, tanpa harus diawasi oleh  pegawai kantin. Namun dalam praktiknya, kantin kejujuran SMA Negeri 1 Grati yang dijalankan setelah dua hari peresmian sudah mendapatkan kerugian. Dari sinilah, selayaknya generasi muda berkaca, ternyata kejujuran untuk masyarakat SMA Negeri 1 Grati masih mahal harganya.

3.2 Pembahasan
Melihat latar belakang diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa permasalahan yang dihadapi ialah:
1. Kecurangan berorientasi pada nilai
2. Kecurangan berorientasi pada rasa malu dalam teman sepermainan
3. Tindakan guru yang membiarkan siswa berkerja sama dan memukul nilai sama rata juga merupakan tindakan kecurangan.
4. Kecurangan berawal dari adanya kesempatan
5. Kebijakan sistem yang tidak sesuai

3.2.1 Oral Test
Oral test (Ujian Lisan) merupakan bentuk ujian yang dilakukan secara langsung face to face (bertatap muka) dengan penilai. Ujian lisan ini sudah banyak dikenal sejak dulu. Namun penerapannya yang dirasa rumit, membuat metode ini jarang dipakai.

Keuntungan bagi tenaga pengajar:

  • Efisiensi dan efektifitas seorang pengajar untuk memberikan nilai, karena nilai akan lebih cepat diketahui.
  • Pelaksanaannya begitu sederhana. 
  • Pengajar lebih mengetahui masing-masing kemampuan siswa hingga mampu memberikan pengayaan dan perhatian yang seimbang terhadap setiap siswanya.
  • Turut menciptakan karakter jujur dalam pendidikan. Bayangkan bila dalam ujian masih menggunakan sistem konvensional. Setiap pertemuan 2x45 menit. Pengajar akan meluangkan waktu sepuluh menit untuk membacakan soal, sementara untuk 80 menit yang tersisa akan dimanfaat sebaiknya oleh setiap siswa untuk mengerjakan soal. Tidak menutup 80 menit tersebut untuk melakukan kecurangan. Dan siapa yang ikut andil?

Keuntungan bagi pelajar: 
  • Siswa mampu mengetahui kemampuan aslinya.
  • Siswa akan berusaha untuk menjadi terbaik hanya dengan kemampuan dirinya, karena ia tidak akan mampu meminta bantuan teman lainnya.
  • Siswa lebih termotivasi berbuat lebih baik karena tekanan “gengsi” untuk menghindari dari nilai buruk.
  • Siswa merasa lebih dihargai dan diperhatikan apabila mendapatkan pengayaan dan perhatian khusus pengajar.
  • Tidak ada konflik antar siswa yang menggunakan cara baik dan siswa yang menggunakan cara kotor dalam hasil ujian, karena setiap siswa lebih mengetahui masing-masing kemampuan kompetitornya.




Kelemahan bagi tenaga pengajar:

  • Oral test tidak bisa diterapkan pada pelajaran tertentu, yang membutuhkan keterampilan untuk berhitung (bukan penalaran). Tidak cocok untuk pelajaran eksak..
  • Membutuhkan manajemen waktu yang baik.

 Kelemahan bagi pelajar:

  • Sebagian siswa yang mempunyai karakteristik pendiam cenderung kurang bisa beradaptasi dengan sistem ini.



3.2.2 Online Test
Banyak cara diupayakan untuk mempermudah pelaksanaan tes, salah satunya adalah mengadakan tes online. Tes online dilakukan dengan menggunakan media komputer dan internet.Pelaksanaan tes online ini pada dasarnya sama seperti tes yang dilakukan seperti biasanya. Soal tes dapat berbentuk:
- Benar Salah
- Pilihan Ganda
- Menjodohkan
- Mengisi
Namun dengan tes online, banyak kelebihan yang dapat diperoleh, seperti soal yang urutan nomornya dapat diacak, jumlah pilihan yang dapat disesuaikan, hasil tes (untuk bentuk tes tertentu) yang dapat diketahui secara langsung setelah tes selesai dilakukan, dan masih banyak kemampuan lainnya.

Kelebihan bagi tenaga pengajar:

  • Semua bidang studi bisa dijalankan dengan sistem ini. Bidang studi yang membutuhkan perhitungan lebih cocok digunakan dengan sistem online test.
  • Tenaga pengajar mampu mengevaluasi setiap butir soal dari jawaban siswa
  • Memberikan kemudahan dalam pengolahan nilai, karena nilai ujian dapat diketahui saat itu juga.

Kelebihan bagi siswa: 
  • Siswa mampu melatih kemandiriannya dalam menjawab butir soal karena setiap unit computer yang dipegang siswa memiliki soal yang berbeda.
  • Penilaian cenderung terbuka, demokratis dan transparan.


Kelemahan bagi pengajar dan sekolah:

  • Sekolah perlu menyiapakan akses sistem informasi yang baik, agar tidak terjadi gangguan dalam ujian berlangsung.
  • Apabila memakai laboratorium sekolah, perlu memiliki manajemen waktu yang baik.
  • Tidak semua guru mampu mengoperasikan sistem ini.
  • Masih terbuka kesempatan untuk mencontek, bertanya dan melakukan kecurangan lainnya, seperti membuka buku atau lainnya.
Kelemahan bagi siswa:
  • Tidak semua siswa memiliki komputer. 





3.2.3 Peningkatan Standar Ujian Nasional
Sangat disadari oleh berbagai pihak, kecurangan pada penyelenggaraan UN 2012 masih terjadi. Kecurangan baik bersifat teknis maupun non teknis tidak dapat dihindari. Kecurangan ini ada yang terpublikasikan secara luas. Namun, ternyata lebih banyak yang tidak dipublikasikan. Hal ini karena berlangsung pada lingkaran orang-orang yang memiliki kepentingan sama. Sehingga lenyap ditelan bumi. Dalam konteks inilah, pemerintah mengeluarkan kebijakan menggunakan 20 paket soal UN. Kebijakan ini dikeluarkan untuk mengurangi kecurangan dan mengintegrasikan hasil UN sebagai instrumen untuk masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN). 

3.2.4 Penerapan Kembali PMP (Pendidikan Moral Pancasila)
Diperlukan upaya yang signifikan melalui pendidikan sejak dini untuk menyelamatkan Pancasila. Untuk itu salah satu cara adalah menghidupkan kembali Pendidikan Moral Pancasila (PMP) di sekolah. Hancurnya nilai-nilai Pancasila saat ini, lebih dikarenakan bobroknya moral para pejabat penyelenggara negara. Kondisi seperti ini, sudah sangat mengkhawatirkan, sehingga sangat berpengaruh terhadap kondisi negara yang berujung pada ketidakadilan. Yang dirugikan, adalah rakyat jelata, baik secara ekonomi, pendidikan, maupun hokum. Pengkhianatan Pancasila itu, tidak saja terhadap Sila Kedua, yakni "Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, dan Sila Kelima "Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia", tetapi sudah mencakup seluruh sila yang ada.
 Sila Pertama, juga sudah dikhianati, dimana seluruh elemen masyarakat, baik di tingkat elit, maupun di tingkat akar rumput, tampak sudah menjadi bagian dari pengkhianatan itu. Seperti soal lunturnya sikap toleransi beragama dengan munculnya konflik antar agama yang belakangan marak terjadi.





BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan sebelumnya, maka kami dapat mengambil kesimpulan bahwa:
1. Tingkat kecurangan pada Ujian Tengah Semester siswa SMA Negeri 1 Grati mencapai 80,9 % yang berakibat semakin tingginya perilaku koruptif siswanya.
2. Kantin kejujuran mengalami kerugian setelah dua hari beroperasi.
3. Upaya metode oral test maupun online test mampu dijadikan alternatif pengganti ujian tulis yang sudah tidak sesuai dengan kondisi siswa SMA Negeri 1 Grati berdasarkan rasio perbandingan kejujuran dalam Ujian Tengah Semester,
4. Pengembangan paket 20 soal merupakan upaya pemerintah dalam pemberantasan perilaku curang dalam Ujian Nasional.
5. Penerapan kembali mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila merupakan peningkatan fungdi dari mata pelajaran PKn selama ini.

4.2 Saran
Mengingat betapa banyaknya kekurangan dalam makalah ini, untuk kesempurnaannya kami sebagai penyusun mengharap berbagai kritikan dari pembaca agar berguna bagi kami ke depannya.


DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, 2002. Prosedur Penelitian Pendekatan Praktek (Edisi Revisi V). Jakarta: Rineka Cipta

Jauhari, Heri.2010. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (Edisi Revisi). Bandung: 
Pustka Setia

KPK, 2006. Memahami untuk Membasmi (Buku Saku untuk Memahami Tindak Pidana Korupsi). Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi

Rabu, 07 November 2012

Perahu Kertas

Blind Date

Derai

Rembulan di Mata Ibu

Selasa, 06 November 2012

Expressing Suggestion

Lembaga Sosial

Senin, 05 November 2012

Donor Darah

Adiwiyata SMAN 1 Grati

Ujian Lisan (Oral Test) sebagai Media Kontrol Kejujuran Pelajar SMA Negeri 1 Grati


Judul: 

 Ujian Lisan (Oral Test) sebagai Media Kontrol Kejujuran Pelajar SMA Negeri 1 Grati


Latar Belakang:

Ulangan harian. Kebiasaan mencontek yang semakin lumrah serta berbagai banyaknya modus/cara mencontek yang lebih canggih. Hal ini berdasarkan pengamatan merupakan kecenderungan untuk menghindari nilai mati (< KKM). Namun dalam perkembangannya menghindari nilai mati bukan lagi yang dinomor satukan, melainkan meraih nilai sempurna atas dasar “gengsi” antar sesama teman. 
Disisi lain, perbedaan nilai yang mencolok antar teman sepermainan membuat “si-oknum” memakai berbagai cara agar nilai dalam berbagai ulangan hariannya terangkat, minimal sama dengan temannya.

Ujian Tengah Semester. Merupakan kasus kecurangan terbaik sepanjang masa sekolah saya. Semua berlomba-lomba memiliki nilai sempurna baik melalui cara yang benar bahkan tidak sedikit melalui cara yang kotor. Hal ini didasarkan pada rasio mereka bahwa “UTS tidak ada remidi dan orangtua mengetahui nilai asli mereka, jadi UTS harus bagus”, sehingga pemikiran seperti yang sudah tertanam ini semakin memperparah kasus kecurangan yang masih belum tertuntaskan. Saya menemukan berbagai kejanggalan yang tidak hanya dilakukan oleh siswa, melainkan melalui “oknum” guru sendiri. Seperti, membiarkan kerjasama dalam situasi ujian berlangsung. Tidak hanya itu, salah satu nilai UTS mata pelajaran hampir kebanyak satu kelas dipukul sama rata. Rata-rata berkisar diantara 75-80. Hal ini berbeda bila dilihat dari segi soal ujian yang masih terbilang mudah, dan mampu siswa prediksikan meraih nilai kisaran 90.

PIB (Program Intensifikasi Belajar). Opini saya selama mengikuti kegiatan PIB ini adalah sangat sia-sia. Alasannya: Sistem PIB lebih ditekankan pada pengerjaan soal yang terbilang materi kelas 10-12 dimana dominan siswa akan mengalami kesulitan dan akhirnya banyaknya waktu yang disediakan terhabiskan hanya dengan obrolan semata. Tidak ada usaha dalam menjawab soal PIB. Kegiatan dan tradisi mencontek masih berlanjut. Hal ini berlatar belakangkan  bahwa hasil PIB “tidak akan” mempengaruhi nilai raport mereka. Kesimpulannya, PIB bukan jawaban yang efektif bagi pengukuran tingkat kejujuran maupun tahap pelatihan persiapan menghadapi Ujian Nasional. Karena PIB berkesan lebih memberikan porsi pengerjaan soal lebih banyak ketimbang waktu pembahasan yang relatif singkat.


Pembahasan:

Melihat latar belakang diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa permasalahan yang dihadapi ialah:

1. Kecurangan berorientasi pada nilai ujian
2. Kecurangan berorientasi pada rasa malu dalam teman sepermainan
3. Tidakan guru yang membiarkan siswa berkerja sama dan memukul nilai sama rata juga merupakan tindakan kecurangan.


Keuntungan sistem Oral Test bagi tenaga pengajar:

1. Efisiensi dan efektifitas seorang pengajar untuk memberikan nilai, karena nilai akan lebih cepat diketahui.
2. Pelaksanaannya begitu sederhana. 
3. Pengajar lebih mengetahui masing-masing kemampuan siswa hingga mampu memberikan pengayaan dan perhatian yang seimbang terhadap setiap siswanya.
4. Turut menciptakan karakter jujur dalam pendidikan. Bayangkan bila dalam ujian masih menggunakan sistem konvensional. Setiap pertemuan 2x45 menit. Pengajar akan meluangkan waktu sepuluh menit untuk membacakan soal, sementara untuk 80 menit yang tersisa akan dimanfaat sebaiknya oleh setiap siswa untuk mengerjakan soal. Tidak menutup 80 menit tersebut untuk melakukan kecurangan. Dan siapa yang ikut andil?

Keuntungan sistem Oral Test bagi siswa:

1. Siswa mampu mengetahui kemampuan aslinya.
2. Siswa akan berusaha untuk menjadi terbaik hanya dengan kemampuan dirinya, karena ia tidak akan mampu meminta bantuan teman lainnya.
3. Siswa lebih termotivasi berbuat lebih baik karena tekanan “gengsi” untuk menghindari dari nilai buruk.
4. Siswa merasa lebih dihargai dan diperhatikan apabila mendapatkan pengayaan dan perhatian khusus pengajar.
5. Tidak ada konflik antar siswa yang menggunakan cara baik dan siswa yang menggunakan cara kotor dalam hasil ujian, karena setiap siswa lebih mengetahui masing-masing kemampuan kompetitornya.

Selasa, 16 Oktober 2012

YUDISTIRA



 Udara begitu dingin. Menggerogoti tubuh menyisakan ngilu yang menusuk tulang. Gemericik gerimis di luar melambai menyurut birahi. Jalanan sepanjang Messacuset Country merangkakkan hujan yang semakin menjadi. Tak ada salju setiap bulan ke delapan. Udara bulan Agustus yang sudah 3 tahun aku lalui disini seakan mudah aku hafal. Entah mengapa setiap Agustus datang, nyaliku seakan padam. Semua kekuatan yang menjadikanku bertahan disini, sekejap luluh. Aku mencoba menerawang kejadian itu. Sudah lama memang, namun tak mudah untuk dilupakan.

 Surabaya boleh berbangga dengan Taman Remaja Surabaya (TRS), yang konon ikon kebonafitan kota pahlawan, namun enam tahun lalu anggota koperasi Suka Makmur berdecak kagum atas ide gila seorang anggota. Mereka seakan merombak malam itu menjadi malam perayaan kemerdekaan Republik Indonesia yang jor-joran di instansi itu dengan konsep yang mengadopsi modernisasi tanpa meninggalkan budaya asli. Apa jadinya jika Malang Tempo Doeloe dipadu dengan teatrikal bergaya TRS? Mungkin tidak terbayangkan. Realitanya, anggotanya pernah menikmati.

 Jam dinding berestafet dari angka ganjil hingga genap menusuk dua belas. Aku masih terjaga meratapi apapun pilihan akhir-akhir ini. Keputusanku sudah kuyakini tak sepenuhnya tepat. Sebelumnya aku pernah berprinsip yang lebih mirip seperti iklan rokok dengan sang tokoh kambing tengah berselonjor di bawah pohon: “rumput gue lebih asik dari rumput tetangga”. Agaknya kubebaskan malam ini untuk merenungi nasib tersebut. Ya, hanya untuk kali ini. Tuntunan jemari bergerilya pada tuts komputer menuliskan hal yang seharusnya kusimpan dan kugerendel erat. Namun apa kataku barusan, kubiarkan hanya untuk malam ini: ‘tuk setahun sekali.

Yudistira, seorang pemuda lulusan perguruan tinggi swasta di Yogyakarta, yang mengabdikan dirinya baru dua tahun di koperasi milik pemerintah, menjadi salah satu saksi hidup dalam perjalanan dan perubahan demi perubahan kecil di koperasi unit desanya. Berbekal “Man Jadda Wa Jadda” sebuah torehan langkah yang diyakininya takkan berhasil hanya dengan lisan belaka.  Tidak jarang dia menjadi ujung tombak tatkala harus melobi pihak atas dan birokrasi pusat yang setara rumitnya. Hingga dalam sebuah rapat khusus yang dihelat akhir tahun, yang membahas segala aspek koperasi Yudistira dipercaya memangku amanah ketua koperasi unit desa sekaligus ketua RT. dusun Kalirejo tanpa interupsi, tak terbantahkan, dan sangat didukung.

 Angin malam semakin kencang memaksa masuk lewat celah jendela. Aku beranjak menuju perapian-menambah kayu- untuk menghangatkan badan. Kurasakan ada yang beda, lebih mirip sebuah kerinduan akan kehangatan tanah kelahiranku-Indonesia. Bersama bercengkerama dalam paguyuban yang masih fanatik akan tradisi. 


16 Agustus 2009…

 Tidak hanya kegiatan memorial semacam gerak jalan Agustusan dengan doorprize yang bejibun meski tak mewah, Khotmil Qur'an dan doa tasyakuran kemerdekaan, bazaar serta panggung gembira tujuhbelasan. Agaknya juga kegiatan-kegiatan yang benar-benar memperintim antar anggota, yang konon belum pernah ada, semacam senam kaum hawa setiap jumat, jamaah yasin dan tahlil bagi bapak-bapak setiap dua minggu sekali, pelatihan koperasi bersama pelajar sekitar sebulan sekali, dan sebagainya.

 Bertambahnya anggota baru koperasi bisa menuai berkah juga masalah. Kekompakan Suka Makmur mulai digoyang. Duryudana seorang anggota, mulai tersinggung lantaran Yusdistira dianggapnya tidak sesuai memilih perwakilan dalam Jambore koperasi. Yudistira menelaah bahwa jabatannya pasti dipertanggungjawabkan di akhirat kelak, meski hanya sekelas ketua koperasi.

 Lain lagi Drupadi, perempuan yang senang berpoliandri bertubuh seksi layaknya miss universe, juga menyimpan benih kebencian akibat teguran halus Yudistira kepadanya. Kesenangan untuk berpoliandri dengan lima suami, dinilai warga tidak sesuai bagi perempuan pada kodratnya. Bukan mancampuradukan hak pribadi dengan wewenang sebagai ketua RT, terlalu banyak laporan warga atas kegaduhan antar suami dirumahnya. Satu dua warga meminta dengan kekeluargaan agar dipindah. “Halah, ini ‘kan sumai-suami saya juga!” jawabnya ketus.

 Kemana lagi rakyat mengadu jika bukan kepada pemimpin.
 Nakula dan Sadewa mengisahkan ini kepada Yudistira, berikut cerita-cerita lain di balik keonaran yang dibuat oleh Drupadi. Dengan tenang Yudistira menanggapi,”itu wajar, kita juga harus menghargai perbedaan, bukan menyalahkan tentang poliandrinya, bapak-bapak? Ya sudah, saya coba bicara sama beliau. Sekalian kenalan secara resmi”.

 Sepulangnya membeli atribut agustusan bersama Bima adiknya, Yudistira mendatangi rumah Drupadi. Mendengar arah tujuan pembicaraan Yudistira, Drupadi mulai mengkritik pedas bahkan mencaci-yang dinilainya tidak adil-atas teguran tersebut. Merembet. Tuduhan “semena-mena” dia hujamkan dengan kejam. Yudistira meluruskan: “setidaknya kita saling mengormati saja ya, Bu”. Tanpa suguhan juga jabat tangan, Drupadi mengakhiri percakapan dengan pintu yang dihempas sekeras-kerasnya.


 Messacuset, 11.17 PM…

Senyap. Dadaun Wild Banana Orchid bergelanyut manja pada pucuk-pucuk pohon fig. Gigil.

“Hei! Besok pagi hari spesial bagi anak bangsa sepertimu! Seharusnya kau cuci muka, gosok gigi dan tidur,” Aku terkaget. Jeff melongokkan kepalanya dari pintu yang kamarnya. Aku diam. Lebih baik Aku berpura-pura tidak dengar. Jiwaku seakan terancam bila sudah ada sosok manusia yang tingkahnya mirip sosok Baby Huey di serial kartun yang sama. Sekalipun menjengkelkan, ia sangat kaya akan kelebihan. Termasuk berat tubuhnya yang menyamai karung beras.

“Hei! Kau lihat aku disini kan?” Suara kakinya menghampiriku. Ia tertarik dengan kesibukanku.

“Menulis lagi?”

“Apa kau lihat aku tengah merebus sosok bayi idiot besar, heh?” Jawabku ketus.

“Ayolah, tak seharusnya hatimu yang baik itu terus-terusan mencelaku,” rengeknya. Aku menahan tawa agar tak meledak. Kapan lagi menjahili Jeff yang tak hentinya menyusahkanku: tiap jam menit bahkan saat ke toilet pun banyak tingkahnya yang usil.

“Yudis…!”

“Hem…” jawabku cuek. 

“Aku baru putus!” ujarnya. Oh, sejarah apakah ini Tuhan, si bayi raksasa sudah pernah mengalami cinta? 

Dan yang tak bisa kuduga lagi… Tuts… tuts… tuts… !

“Suara apa itu,” gumamku. Sekejap kulihat layar monitorku mendadak gelap. Akhhh!!!

“Ini ulahmu kan?” tatapku pada Jeff. “Kau yang memulai kan?”. Aku mengepalkan tanganku siap-siap menonjok perutnya yang buncit. “Stop!!! Bukankah kau sering mengatakan: dalam pewayangan Yudistira itu pandai memerangi nafsu pribadi, dan itu berarti kau tak boleh marah padaku.”

“Sejak kapan kau pintar mengutip perkataanku, hah?”

“Sejak tiga tahun lalu, ketika kau hijrah kesini…”
Malam itu menjadi puncaknya. Sebuah sambutan haru Ketua RT sekaligus ketua koperasi membuka acara tujuhbelasan di tahun kedua dengan penuh semangat.

“….Dipercaya oleh warga lebih dari penghargaan buat saya dan keluarga. Diamanah menjadi ketua koperasi, merupakan kebanggaan. Namun jika itu harus ditukar dengan perpecahan juga ketidakharmonisan, akan membuat saya tidak tenang di dunia hingga akhirat nanti. Pada perayaan kemerdekaan negeri kita hari ini, dengan segala kerendahan hati, permohonan maaf kepada bapak, ibu, dan rekan-rekan anggota sekalian, ijinkan saya mengundurkan diri. Hal ini karena pertimbangan juga dukungan keluarga dan harapan agar kembalinya kerukunan dan indahnya kampung sekaligus kemajuan koperasi desa. Cukup bagi saya berjuang bersama bapak ibu sekalian menjadi pemimpin yang mandiri dan disegani. Saatnya kita mengembalikan itu di bawah kepemimpinan seseorang yang lebih hebat, tentunya....”,

“Aku sudah mengerti…,” celetuk Jeff. Tatapanku yang sempat melayang atas ucapannya dipaksa lagi menelaah perkataan keduanya.“Malam sebelum Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Di flat ini aku begitu kagum padamu. Baru kali ini kutemui teman yang jauh dari penampilan tua, bisa memiliki jiwa cinta pada bangsanya.”

“Aku melakukan karena keterbatasanku. Kau tahu, alasanku hijrah kemari…”. Ia menyela perkataanku, 

“Karena kelak dirimu ingin meng-gratiskan persatuan di Indonesia. Dan pengabdianmu pada negaraku adalah step by step mencari bekal untuk dibawa pulang”

“Bagi warga Kalirejo dan anggota Suka Makmur, momen kemerdekaan selalu menyisakan kenangan tersendiri, terlebih semenjak malam yang tidak biasa itu. Butuh transisi berat juga kepercayaan diri yang lebih bagi mereka untuk bangkit dari keterpurukan dua tahun lalu.”

Tik…
Suara itu.

“Dubes mengundangmu di acara kemerdekaan bukan?” Tanya Jeff dalam keheningan.“Ya, seperti biasanya,” ucapku santai.

“Dan kau membuat tulisanmu lebih menarik yang kau kirim agar termuat dalam Koran hangat esok, kan?” tanyanya. Kuberpikir sejenak, “Tapi itu tak terjadi karena beruang jelek mengacaukannya”. 

Tikk… Tik.. 
Suara itu lagi. Kucuri pandang ke arah muka Jeff, “Aku maksudmu?”.

“Saljunya turun… Jeff!!!,” kuberteriak mendekati jendela. 
Ini malam kemerdekaan yang Indah. Merah putih di benua biru. Antara gembira dan berkecamuk luka. Aku memang menyadari: Ternyata kerukunan di Indonesia masih terlalu mahal harganya.

(J. Setyawan)

Senin, 24 September 2012

Elegi Sahabat


Udara begitu dingin. Mengerogoti tubuh menyisakan ngilu yang menusuk tulang. Gemericik gerimis diluar melambai menyurut birahi. Jalanan sepanjang Messacuset Country merangkakkan hujan yang semakin menjadi. Tak ada salju setiap bulan terakhir. Udara bulan Desember yang sudah 3 tahun aku lalui disini seakan mudah aku hafal. Entah mengapa setiap Desember datang, nyaliku seakan padam. Semua kekuatan yang menjadikanku bertahan disini, sekejap luluh. Aku mencoba menerawang kejadian itu. Sudah lama memang, namun tak mudah untuk dilupakan.

*******
Aku sendirian.
Menatap hamparan sabana yang belum pernah aku temui sebelumnya. Tak ada pandangan istimewa di depanku. Semua seakan diam. Entahlah hal apa yang membuatku terus berlama-lama di tempat ini. Satu menit tak ada sesuatu yang menarik. Menit kedua juga demikian. Ketiga dan keempat bahkan satu jam lamanya aku terpaku. Hanya memandangi ilalang yang diterpa angin.
Aku mulai bosan.

Aku mengikuti langkah kaki yang membawaku menjauhi tempat itu. Suara gesekan sepatu kets yang kupakai menjadi nada tersendiri. Terdengar suara lain yang aku yakin bukan aku yang membuatnya. Suara itu terus mengikuti ritme langkahku. Kulirik sekelilingku. Kosong. Aku berhenti karena merasa ada sesuatu yang mengikutiku. Tak ada siapapun di tempat luas ini. Hanya ilalang yang tetap bergoyang serta angin yang berkolaborasi dengan kesibukannya hujan. Tak lama seakan bulu kudukku merinding. “Ah, persetan!”. Aku terus berjalan menapaki arah yang sepertinya tanpa batas. Tarian ilalang kini mulai tak berirama. Goyangannya pun liar menciptakan penampilan yang menakutkan. Terlintas di benakku sosok Suzanna hantu yang melegenda. Film klasik yang belum lama ini aku tonton di laptopku. Ia bersembunyi di antara ilalang yang tengah bermain liar. Terlihat kembang sundel yang sering menghiasi gulungan rambutnya. Ia menatapku tajam. Aku bergidik ngeri. Aku menghindari tatapan yang membuat keringatku mengucur deras. Aku berlari dengan tertatih-tatih. Seakan Suzanna mengejarku. Menerkamku dan membuatku limbung dalam dekapannya. Ia tak berhenti disitu, aroma kembang sundel menyeruakkan aura mistis. Tawanya yang khas memecah angin yang bersiar-siur. Tawanya memaksa masuk paling dalam dari rasa ketakutan manusia.

Aku terjebak di tengah angin dan hujan yang mulai mengganas. Di tempat asing dengan suasana mencekam. Aku mempercepat langkah, menepis segala praduga dan pikiran yang meluap-luap bagai lahar di kepala. Ini adalah ketakutan semu. Aku berlari menghindari tempat terkutuk ini. berusaha menghindari tangan-tangan yang asing menyentuhku. Dari ilalang yang menjuntai tinggi itu, Suzanna menerkamku tiba-tiba. Menyeretku ke tengah rerimbun rerumputan. Dengan ganas ia membuka pakaianku. Secara paksa. Aku mencoba melawan, tapi gagal. Ia menelanjangiku hingga raut senyum tergambar di wajahnya. Keringatku mengucur. Tak hanya sampai disitu, tangannya yang terubah kokoh kini mencengkeram leherku. Ia jilati leherku terus ke atas hingga hampir menyentuh bibirku. Ia terhenti. Mungkin keringatku tak sedap baginya. Aku salah, cengkeramannya semakin kuat. Dengan kuku yang menghitam runcing ia tusuk bibirku. “Arggghhh,” aku merintih pilu. Aku mencoba meronta tapi adegannya kembali terulang pada mataku. Ia cungkil dan ia keluarkan perlahan. Ia bisa melakukannya. Mataku ia mainkan seakan itu sebuah gundu. Darah yang memoles pipiku keluar segar. Amis dan merah kental.
Aku meraung.

Arrrrrrrgggghhhh!!!!!!!

Riaaaaannnnnnnn!!!!!

Sahabatku Mr.Linco mengguncangkan tubuhku. Di goyangkan tubuh ini hingga aku tersadar. Di berikannya minum yang biasa aku letakkan diatas meja kerjaku. Ia berkata aku menceracau sambil berteriak-teriak. Mimpi yang sama seperti mimpi-mimpi yang hadir pada malam-malam Desember sebelumnya. Mimpi yang selalu meneror kehidupanku. Mimpi yang membuat hidupku kacau. Dan mimpi yang membuatku mengingatkan pada seseorang. Nafasku masih memburu. Butiran jagung cair keluar dari pori-pori kulitku.Di luar angin berhembus kencang. Hujan di luar rupanya sudah reda. Aku berdiri dari kursi kerja yang telah menidurkanku. Kuberjalan menambahkan kayu bakar pada perapian. Kutatap jendela kaca tepat di atasnya. Sengaja aku berlama mencerna dan menyimpulkannya dengan rona malam. Sesuatu yang aku sendiri sudah memprediksi.
Kubenamkan kembali wajah dalam bantal. Mencari kembali serpihan ketenangan dalam tidur menjelang dua dini hari.
*******

“Lebih baik kau pulang sejenak, ambil cuti saja. Toh selama ini cutimu belum kau gunakan sama sekali,” Hera tersenyum menatap kegundahanku. Hera adalah rekan kerja sebangsaku. Garis Jawa yang berkombinasi dengan Thailand tak menampik mempunyai tubuh yang proporsional. Awal aku kenal dengan dia ketika masa-masa kuliahku dulu di salah satu universitas ternama di Yogyakarta. Tak ada hubungan spesial antara aku dengannya, karebna perbedaan agama menjadi alasan kami berkenalan lebih jauh. Ia menghormati agama nasraninya sedangkan aku menjunjung tinggi islamku. Namun begitu, rasa saling menghormati selalu tercipta diantara persahabatan kami.

“Aku takut dia masih tak memaafkanku Ra,” kali ini aku mulai mengkapkan rasa bersalahku padanya.

“Sudahlah Jef, seiring waktu berlalu pasti ada penyesalan atas masalah kalian. Aku yakin, tak hanya kamu yang mengalami ini. Dia juga pasti menyadari kesalahanmu,” aku mengangguk. Di berikannya tissue itu dari dompet make up-nya.
*******

“Kau penghianat Jef, tega-teganya kau hancurkan duniaku. Apa salahku hingga kau berbuat begitu, heh..!!!!,” Rian menahan amarahnya. Di genggamnya tangan itu. Ia sudah siap untuk meninjukan kepalan tangannya.

“Maaf Yan, aku tak bermasksud melakukan itu poadamu. Demi tuhan Yan, aku menyesal,” Rian hanya diam. Tersirat kepedihan pada matanya. Tangannya mulai melonggar.

“Sudah dari awal kubilang jangan terlalu percaya wanita itu. Kau sudah termakan perangkapnya. Bukan hanya itu, kau tahu apa yang terjadi dengan aku dan juga keluargaku?,” Aku terus menunduk menahan malu menghindari tatapan matanya.

“Kau benar lebih mementingkan wanita pujaanmu itu. Tak sadar kau tak mementingkan hatiku Jef. Aku dengan Rani bertahun-tahun merintis usaha ini. Dan akhirnya usaha itu semakin berkembang. Lalu, kau datang. Aku sudah menganggapmu sebagai saudara sendiri Jef. Akupun pernah berkata jangan terlalu percaya pada wanita yang baru kau kenal. Dan ini hasil dari kelengahanmu. Tak lama lagi kita akan ditendang dari rumah ini. Kau bodoh Jef! Bodoh!!!!!! Pergi kau!!!!!!!,” Rian begitu emosi. Terlihat Mbak Rani menenangkan suaminya. Aku melangkahkan kaki keluar rumah yang telah memberiku arti selama ini.
*******

Aroma Zamrud Khatulistiwa meyeruak di hidungku. Masih tak percaya aku telah kembali ke tanah perantauan ini. Rasa ini persis seperti pertama kali aku meninggalkan kota ini. Tak habis waktu aku mengingat pertengkaran dengan Rian sahabatku. Aku semakin gundah tatkala taxi yang aku sewa memasuki pekarangan rumah Rian. Terlihat sepi rumah yang masih sama 3 tahun yang lalu. Tak ada orang yang berseliweran yang dapat menandakan rumah itu berpenghuni.

“Maaf mas, ini rumahnya Mas Rian kan?,” tanyaku pada seorang yang berada pada rumah sebelahnya.

“Tidak mas, Pak Rian dan istrinya pulang ke rumah orang tuanya di Gunung Kidul,” ternyata benar. Rumah itu bukan milik Rian dan Mbak Rani lagi. Penyesalanku semakin bertambah besar. Orang itu membalas ucapan terima kasihku. Pernah 5 tahun lalu aku diajak Rian kerumah orang tuanya. Saat itu hubunganku memang lagi baik-baiknya. Aku lupa-lupa iongat alamat rumah ibu Rian. Jalanan yang masih beralaskan tanah membuat kesan tersendiri. Tak seperti dulu, kanan kiri jalanan sudah di bangun rumah-rumah. Aku hampir lupa gang menuju rumah ibu Rian. Semua berubah selama beberapa tahun belakangan. Hingga aku harus turun jalan kaki karena taxi tidak bisa memasuki gang yang akan mengantarkanku bertemu Rian. Sudah dekat. Tak butuh hitungan kilometer lagi. Cukup beberapa langkah rumah bercat biru tua terpampang jelas. Bangunannya masih seperti yang dulu. Bahkan kolam ikan buatanku dengan Rian masih terjaga.
Terlihat sosok itu. Lelaki berambut ikal tengah menyuapi seorang bocah. Apakah itu anaknya?  Apakah ia ingat dengan aku? Apakah perlakuannya akan sama seperti waktu itu?. Pikiranku mulai ragu untuk melangkahkan selangkah kakiku. Hinga dia menyadari kehadiranku.

“Kamu….,” aku mengangguk pelan.

“Rian, maafkan salahku selama ini. Aku mohon Yan, aku terbebani atas semua kejadian kala itu,” Rian masih memasang wajah melongo. Seakan aku adalah hantu baginya.

“Jefri, benarkah itu kau Jef?,” aku mengangguk. Rian mengangkat bahuku yang tengah merengkuh kakinya. Ia dekap aku layaknya aku adalah istrinya.

“Yan, maafkan aku…..,” bisikku pelan di telinganya.

“Sudahlah Jef, aku tak bisa berlama-lama marah denganmu. Kau sahabatku. Kemana saja kau selama ini?.”

“Maaf Yan, aku tak ingin buat keluargamu susah lagi. Aku pergi dan aku mencoba mencari pekerjaan. Hingga Hera mengajakku bekerja di Boston Yan, kau masih ingatkah dengan Hera sahabat kita?,” Rian mencoba berpikir. Membuka kembali memori yang selama ini tertimbun.

“Hera yang sering bantu kamu mencari bahan skripsi dulu Yan!,” aku mencoba membantu mengingatkannya.

“Oh iya, aku baru ingat. Bagaimana kabarnya?”

“Baik yan,” jawabku singkat.

“Berkat dia aku berani menemuimu. Aku sudah kuat bila perlakuanmu masih seperti saat itu,” tambahku.

“Memang Jef, kemampuan bahasamu dari awal kuliah sudah bagus, pantas kau diterima di sana. Sudahlah 
aku sudah melupakan itu,” Tiba-tiba suara ibu-ibu mengagetkan perbincangan kami.

“Jefri……!!! Kamu kan itu?,” Mbak Rani masih ingat denganku. Aku menjabat tangannya. Mbak Rani ikut mengobrol juga. Tak disangka Mbak Rani semakin keibuan.

“Anakmu Yan?,” tanyaku ketika gadis kecil naik ke pangkuannya.

“Iya,” jawab Rian yang kemudian dilanjut dengan ucapan Mbak Rani.
Lama perbincangan kami. Hingga membahas masing-masing pekerjaan kami sekarang hingga masalah 3 tahun yang lalu. Ternyata keluarga Rian sudah memaafkanku sudah lama. Bahkan meraka mencariku, karena khawatir atas riwayatku yang tak mempunyai keluarga di sini. Rian dan juga Mbak Rani ternyata bekerja sebagai buruh pabrik rokok. Sungguh berbeda saat dulu mereka mengelola TOSERBA keluarganya.

“Oh ini Yan, hampir aku lupa. Aku ada oleh-oleh sedikit,” aku serahkan bingkisan itu pada mereka.

“Boleh dibuka Yan?,” aku mengangguk kecil. Aku bersiap melihat dunia mereka yang tak lama akan berubah.

“Surat tanah?!?!,” Rian nampak kebingungan begitu pula mbak Rani lalu melihatku.

“Baca dulu Yan?,” jawabku.

“Maksudnya ini apa, aku tak mengerti Jef!,” suara Rian kini mulai kalut. Di lemparkannya surat itu ke pangkuanku. Entah apa yang ada di pikirannya.

“Untuk keluarga mu Yan, itu surat beli tanah TOSERBAMU dulu,” terlihat Mbak Rani mulai mengerluakan air mata.

“Bagaimana kamu mendapatkan ini Jef, kamu menemui wanita ular itu?”

“Bukan Yan, wanita ular itu telah lama menjual TOSERBA kalian, seminggu setelah aku memberikan surat tanah milikmu dulu. Maafkan aku Yan, aku buta karena cinta. Aku tak melihat ada kalian yang sudah menganggap aku keluarga. Ini aku beli kembali untuk aku kembalikan pada kalian. Maaf bila aku selama ini meyusahkan hidup kalian,” linangan air mata Mbak Rani membuat aku dan Rian juga terbawa suasana.

“Terimalah Yan,” aku memeluk Rian. Hal ini yang lama aku rindukan dari hangat sahabat yang menyayangiku lebih dari sekedar keluarga.
Persahabatan bukanlah tentang apa yang kita punya tetapi tentang apa yang kita berikan, yaitu kasih sayang dan maaf yang setulus hati…..

(J. Setyawan)
   





Sabtu, 08 September 2012

Bapak… Andai Aku Terlahir Istimewa


Gili Ketapang, Januari yang memerah…

    Aku gagal. Manusia terbodoh sepanjang kehidupan keluarga. Semua telah aku abaikan untuk terfokus pada satu yang kuanggap tepat. Dari kehidupan sekolah yang kutinggal selama berminggu-minggu. Ketidak hadiranku dalam kelas bimbel, hingga keluarga yang kuasingkan atas mauku. Semuanya atas kehendak egoku yang terlampau imajiner. 
    “Aku bisa!”. “Akan kubuktikan pada mereka!” seringkali berbagai perdebatan mewarnai hariku yang kian buruk. Aku percaya pada dasarnya manusia terlahir istimewa. Sejak kecil aku merasakan diriku berbeda. Aku tak menyukai keramaian. Aku merasakan tak pandai dalam berhitung. Bahkan aku juga menyadari diriku tak terlahir untuk menghabiskan waktu dengan hitungan fisika. Duniaku adalah sedetik terlebih berharga dengan kesunyian. Kedamaian yang harusnya kuraih dari menulis serasa ada yang mencegah. Aku terbiasa untuk diam diantara ribuan komunikasi pasang mata. Tapi jangan salah, aku juga bisa tersenyum. Namun senyumanku sebatas tulisan yang tertuang melalui pena yang kugerakkan. Bagi orang berilmu kegemaranku terlampau gila. Bagiku tak sebanding dengan kerumitan menghitung luas bidang dengan trigonometri. Itulah yang menjadi kekuatanku untuk hidup,  bahwa aku terlahir tanpa kerumitan, dirumitkan dan merumitkan.  
***
    Dalam tetesan embun sebatang api mengasap diantara keheningan pagi. Bapakku sudah muak dengan seminggu ini aku tak bersekolah. Bukan karena aku sakit-sakitan melainkan jiwa yang terlebih enggan menyentuh benda selain secarik kertas dengan pena. Kesibukkan untuk berimajinasi terpaksa terhenti ketika bapak yang selama ini diam menampar mukaku. Bukan kekagetan saja, melainkan seperti seenggok parang yang memaksa masuk tenggorokanku. Sangat tajam berusaha mengiris trachea lalu mematikanku. 
    “Anak goblok! Mau jadi apa kau, hah!” bentakan bapakku pagi itu kian berbedah. Ada semacam penyesalan yang tersirat dari makiannya. 
     Aku terkapar tak berdaya meratapi detakan detik yang baru saja berlalu. Ada sebulir kepedihan keluar dari mata. Merembes pelan melalui lekuk pipi menyusurinya hingga jatuh. Disaat demikian masih sempat aku menguatkan diriku sendiri. Aku memerintahkan semua bagian tubuhku untuk menahan kenyataan ini. Aku harus kuat.
***

Gili Ketapang, Sampai kapan, Aku?

    Aku mulai bersekolah kembali.

    Beberapa lalu lalang pelajaran sempat menjadi tontonan sesaat. Matematika yang menyuguhkan logaritma kutepis mentah-mentah. Beberapa hari sekembalinya aku bersekolah hanya kupusatkan untuk membuat komik. Sudah berlembar-lembar sejak tiga hari yang lalu. Hobiku merangkai kata lalu menuliskannya dengan gambaran yang bercerita. Meskipun berlembar-lembar tak ada satupun teman sejawat yang mencoba memuji karyaku. Sekedar berucap “waw bagus” bahkan bertanya “bagaimana kau membuatnya?” pun tak ada. Bukan aku tak memamerkannya, itu terlebih bodoh seukuran manusia macam aku. Sudah jauh hari mereka mengetahui aku bukanlah anak 16 tahun yang tak pandai melukis. Jangankan melukis, membuat bidang datar saja aku perlu penggaris. Bukankah aku bodoh? Sebodoh-bodohnya orang yang bersekolah? Ini tak akan terjadi bila bukan karena seorang pendidik yang seakan-akan membenarkan semua perkataannya. Dari sinilah awalku berbalik pada jalan yang sepatutnya lurus. 

-flash back-
    “Kamu bisa apa? Maumu apa? Anak gelandangan juga bisa menggambar rumah! Apalagi kandang ayam seperti gambar jelekmu ini!” beberapa cacian dari beliau sungguh merendahkanku. Aku tak menangis, karena aku sudah lelah setiap tugas menggambar selalu menguras air mataku.
    “Orang hidup itu harus punya bakat! Orang bodoh, bakat wajib punya. Kalau sudah bodoh, bakat tak punya, mau hidup makan apa!” Oh Tuhan, ini merupakan puncak aku direndahkan. Hatiku hancur berkeping-keping, salahkah jika aku terlahir tak istimewa?
-end flash back- 

    Aku tak ingin memikirkannya lagi. Bahkan mengingat kejadian ini sangat membuatku semakin membenci guruku. Aku tak terlahir istimewa, tapi aku tak pernah berbuat menyakiti orang. 
Hari ini aku kembali dipertemukan dengan beliau; guru seni rupa. Aku tak bisa membayangkan hal apalagi yang beliau perbuat setelah terakhir membuatku malu dihadapan teman sekelas. Aku tak bisa dan tak kuat menahan rasa sakit ucapan mulut siletnya. Seminggu lalu aku absen pelajarannya, ini akan menjadi bahan caciannya untukku. Lama berselang, sosok tua bertubuh tambun yang kubayangkan tak datang, malah kini bapak kepala sekolahku yang menggantikannya mengajar. Walaupun kebanyakan hanya diisi dengan gurauan. Bel istirahat pulang berbunyi, dan tak ada angin tak ada hujan aku dicegah bapak kepsek dan beliau mengajak berbicara diruangannya. Ada guru seni rupa itu, bapakku dan kepala sekolah. Hatiku kian miris tiga orang yang tak pernah terbayangkan bersamaan dihadapanku.
***

    Baru kuketahui atas keberanian bapak mengungkapkan masalahku kepada kepala sekolah semua menjadi lebih baik. Tak ada lagi perlakuan semena-mena semenjak hal itu. Semua keseharian yang terobsesi atas ego, mulai tersapu pada sembari doa dan usahaku.

Sabtu, 18 Agustus 2012

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1433 H

 Presented by: Jef Kenzie

Rabu, 06 Juni 2012


Text 1
Once up on a time, the Israelites were at war with the philistines. The leader of the philistines was a giant named goliath, who was three meters tall. A spear was long across his shoulders and a heavy sword hung from a belt around his waist. Goliath challenged the Israelites to send a leader to fight with him. “if he can kill me, we shall be your slaves,” he boasted.
“But if I kill him, then you should be our slaves.”
No one except a young shepherd boy dared volunteer to fight goliath. The shepherd boy’s name was David. He was armed with only a sling.
When goliath saw David, he laughed, “what?”are you the only one they can send to fight with me ? why, I will tear you apart and feed you the birds ! “Then he charged at David with his sword. Calmly, David took a stone, put it on his sling and took careful aim at the giant’s eyes.
The stone struck goliath and he fell to the ground. David freed his people from the terror of goliath.

1. What is the writer’s purpose of writing this kind of text? To …..
a. entertain the readers
b. tell a story of giant
c. inform an event in the past
d. tell the terror of the leader of the philistines
e. report the war between the Israelites and philistine

2. What is the type of the text?
a. report
b. narrative
c. description
d. procedure
e. recount

3. Who dared to fight the leader of the philistines?
a. a giant
b. goliath
c. David
d. a have
e. people

4. What did David use to defeat the leader of the philistines?
a. a spear
b. a sward
c. a sling
d. a stone
e. a belt

5. “But if I kill him, then you shall be our slaves.” The word “you” refers to …..
a. David
b. the volunteers
c. the philistines
d. the Israelites
e. a shepperd boy

6. “David took goliath’s sword and slew him with it.” Slew means …..
a. cut
b. tore
c. struck
d. fought
e. killed

text 2
Once upon a time, a rabbit wanted to cross a river but e could not swim. He had an idea. He saw a boss of crocodile swimming in the river. The rabbit asked the boss of crocodile, “How many crocodiles are there in the river?” The boss of crocodile answered, “We are twenty here.” “Where are they?” the rabbit asked for the second time. “What is it for?” the boss of crocodile asked.
“All of you are good, nice, gentle and kind, so I want to make a line in order. Later I will know how kind you are,” said the rabbit. Then, the boss of the crocodile called all his friends and asked them to make a line in order from one side to the other side of the river. Just then, the rabbit started to count while jumping from one crocodile to another; one…two…three….four….until twenty, and finally, he thanked all crocodiles because he had crossed the river.

7. The story mainly tells us about ….
a. twenty crocodiles
b. the boss of the crocodile
c. a rabbit and twenty crocodiles
d. a rabbit and the boss of crocodile
e. the boss of the crocodile and all his friends

8. We know from the first paragraph that the rabbit actually wanted ….
a. to cross the river
b. to swim across the river
c. to meet the boss of crocodile
d. to know where the crocodiles are
e. to know the number of crocodiles there

9. “All of you are good, nice, gentle, and kind …”(Paragraph 2)
The underlined word is synonymous with ….
a. wild
b. diligent
c. cheerful
d. easygoing
e. honorable

text 3
A fox fell into a well and couldn’t get out. By and by a thirsty goat came along. Seeing the fox in the well it asked if the water was good. “Good”, said the fox “It’s the best water I’ve tasted in all my life. Come down and try it yourself.”
The goat was thirsty so he got into the well. When he had drunk enough, he looked around but there was no way to get out. Then the fox said, “I have a good idea. You stand on your hind legs and put your forelegs against the side of the well. Then I’ll climb on your back, from there. I’ll step on your horns, and I can get out. And when I’m out, I’ll help you out of the well.”
The goat did as he was asked and the fox got on his back and climbed out of the well. Then he coolly walked away. The goat called out loudly after him and reminded him of his promise to help him out. The fox merely turned to him and said; “If you only had thought carefully about getting out, you wouldn’t have jumped into the well.”
The goat felt very sad. He called out loudly. An old man walking nearby heard him and put a plank into the well. The goat got out and thanked the old man.

10. The text tells the story of ….
a. a fox
b. a goat
c. a fox and a goat
d. an old man and the fox
e. the goat and an old man

11. Paragraph 2 mainly tells ….
a. how the fox helped the goat
b. why the fox got into the well
c. how the fox got out of the well
d. the fox’s idea how to get out of the well
e. how both the goat and the fox got out of the well

12. “The goat did as he was asked….” (Paragraph 3)
What does the above sentence mean?
a. The goat drank enough and locked around.
b. The goat came down to the well and drank.
c. The goat called out loudly after the fox got out.
d. The goat waited someone who might help him.
e. The goat stood on his hind legs and put his forelegs against the side of the well.

Text 4
The Smartest Parrot

Once upon time, a man had a wonderful parrot. There was no other parrot like it. The parrot could say every word, except one word. The parrot would not say the name of the place where it was born. The name of the place was Catano.
The man felt excited having the smartest parrot but he could not understand why the parrot would not say Catano. The man tried to teach the bird to say Catano however the bird kept not saying the word.
At the first, the man was very nice to the bird but then he got very angry. “You stupid bird!” pointed the man to the parrot. “Why can’t you say the word? Say Catano! Or I will kill you” the man said angrily. Although he tried hard to teach, the parrot would not say it. Then the man got so angry and shouted to the bird over and over; “Say Catano or I’ll kill you”. The bird kept not to say the word of Catano.
One day, after he had  been  trying so many times to make the bird say Catano, the man really got very angry. He could not bear it. He picked the parrot and threw it into the chicken house. There were four old chickens for next dinner “You are as stupid as the chickens. Just stay with them” Said the man angrily. Then he continued to humble; “You know, I will cut the chicken for my meal. Next it will be your turn, I will eat you too, stupid parrot”. After that he left the chicken house.
The next day, the man came back to the chicken house. He opened the door and was very surprised. He could not believe what he saw at the chicken house. There were three death chickens on the floor. At the moment, the parrot was standing proudly and screaming at the last old chicken; “Say Catano or I’ll kill you”.
13. From the text above, we know that the social function of the text is …
a. to persuade
b. to describe
c. to explain
d. to entertain
e. to advertise

14. Why the man got so angry and tried to kill the Parrot?
a. because the parrot could not say even one word
b. because the parrot could say Catano
c. because the parrot hate the man
d. because the parrot could say every word except Catano
e. because the parrot is stupid

15. What is Catano?
a. the name of the Parrot
b. the name of the man
c. the name of the place where the parrot was born
d. the name of the place where the man was born
e. the name of the chicken house

16. The first paragraph of the text above is called …….. part
a. resolution
b. orientation
c. reorientation
d. complication
e. reiteration

17. “Although he tried hard to teach,….” (Paragraph 3). The word he refers to….
a. the man
b. the parrot
c. Catano
d. the Chicken
e. the Chicken house

Text 5
This text is for questions number 6-10!
Conventionally, students need book, pen, eraser, drawing book, ruler and such other stuff. Additionally, in this multimedia era, students need more to reach their progressive development. Students need mobile keyboards to record every presented subject easily. Of course it will need more cost but it will deserve for its function.
First, modern schools tend to apply fast transferring knowledge because the school needs to catch the target of curriculum. Every subject will tend to be given in demonstrative method. Consequently students need extra media cover the subject. Since there is a laptop on every student’s desk, this method will help student to get better understanding.
  Secondly, finding an appropriate laptop is not difficult as it was. Recently there is an online shop which provides comprehensive information. The best is that the shop has service of online shopping. The students just need to brows that online shop, decide which computer or laptop they need, and then complete the transaction. After that the laptop will be delivered to the students' houses. That is really easy and save time and money.
From all of that, having mobile computer is absolutely useful for students who want to catch the best result for their study. Buying laptop online is advisable because it will cut the price. This online way is recommended since online shop also provides several laptop types. Students just need to decide which type they really need.
18. What is the main idea of the third paragraph?
a. the laptop will be delivered to the students' houses
b. finding an appropriate laptop is easy
c. there is an online shop which provides comprehensive information
d. the students just need to brows online shop
e. buying laptop in online shop is difficult

19. Which of the following is NOT TRUE based on the text above?
a. students need laptop to reach their progressive development
b. there is an online shop which provides comprehensive information
c. finding an appropriate laptop is difficult
d. buying mobile computer online is recommended
e. students can buy laptop at online shop

20. The word advisable in the last paragraph has the same meaning with …..
a. recommended
b. important
c. cheap
d. difficult
e. easy

21. What is the appropriate title for the text above?
a. students have been in multimedia era
b. students need to have laptop
c. online shop is the best way to buy laptop
d. buying laptop in online shop is not difficult
e. the importance of having laptop

22. What is the genre of the text above?
a. narrative
b. report
c. hortatory exposition
d. analytical exposition
e. descriptive
This text is for questions number 23-24!












23. What is the function of the text ?
a. To inform readers that there was a new outlet opened.
b. To persuade readers that the outlet should be opened.
c. To retell the events of the outlet opening ceremony.
d. To present two points of view about a new outlet.
e. To explain the processes of the outlet opening.

24. How long has the outlet been opening?
a. 2 months     b. 3 months       c. 4 months     d. 5 months    e. 6 months

Text 7
Many years ago, there lived a hermit in a forest in Sumatera. He did not grow foods but depended on the jungle to survive. Soon, there was a drought, all the plants and fruit trees in the jungle died

The old man had nothing to eat now, so he turned to begging. He went to nearby village trying to get some food. At first, the villagers were very happy to help him. However, when he came continually, they refused to give him any more food. They told him to grow his own food.

One day, while the hermit was sitting in his hut, sad and hungry, he began to think about growing his own food. Just then a boatman stopped by and taking on the hermit, gave him some rice seeds.

Before the boatman went away, he said, “These seeds will grow and give you everlasting harvest if you work very hard. If you are tired of the work, the rice plants will turn into weeds”.
The old hermit worked hard to clear the land and sowed the seeds before the rains came. Strangely, after a short period of time, the rice was ready for harvesting. The old man got a lot of rice from the harvest. After each harvest, the plants grew back again right away.

When the villagers heard about the hermit and his wonderful rice, they flocked to his rice-field and took home as much rice as they could.

One day, the hermit became so tired of harvesting the rice that she shouted. “Oh, stop growing, you wretched thing!” As soon as he had said this, the rice plants turned into weeds.
25. What is the type of the text?
a. Narrative
b. descriptive
c. Argument
d. Persuasive
e. Exposition

26. What did the boatman give to the hermit?
a. Fruit tree
b. Some food
c. Rice plants
d. Some weeds
e. Some rice seeds

27. Which statement is true about the hermit?
a. He lived a small town
b. He went to the village to ask for some food
c. He liked to give the villagers fruit and rice
d. He died in the jungle when there was a drought
e. He hated begging through there was nothing to eat

28. What is the main idea of paragraph 5?
a. The succession of rice harvest
b. The hermit should clear the land
c. The hermit was successful as a farmer
d. It needed a short of time to harvest the rice
e. The seeds should be shown before the rains came

Text 8
           Two friends were traveling on the same road together when they came face with a bear. One, in great fear, and without a thought of his companion, climbed into a tree and hid. The other, seeing that single handed he was no match for the bear, threw himself on the ground and feigned death, for he had heard that a bear will not touch a dead body.
           The bear approved him, sniffing at his nose and ears, but the man, with great courage, held his breath and kept still, and length the bear, supposing him to be dead, walked slowly ahead.
            When the bear was well out of sight the first traveler came down from his tree and asked what it was that the bear had said to him. “For,” said he, “I observed that he put his mouth very close to your ear.” Why,” he replied the other, “it was no great secret. He only advised me not to keep company with those who, when they get into difficulty, leave their friends in the lurch.


29. What type of writing does this passage belongs to?
a. Descriptive
b. Narrative
c. Explanation
d. Argumentative
e. Discussion

30. What is the orientation of the text above?
a. Two friends were traveling on the same road together when they came face to face with a bear
b. One in great fear, and without a thought of his companion, climbed intro a tree and hid
c. When the bear was well out of sight the first traveler came down from his tree and asked whet is was that the bear had said to him
d. “For,” he said, I observed that he put his mouth very close to you ear
e. “Why,” he replied the other, “it was no great secret.”

31. Which of these phrases has similar meaning with this phrase;
“When the bear was well out of sight …”
a. The bear had lost his eyesight.
b. The bear had left the site.
c. The bear watched them from a far.
d. The traveler got blind.
e. The traveler got into difficulty

32. The word him in paragraph 2 line 3 refers to?
a. The bear
b. The firs traveler
c. The second traveler
d. Both traveler
e. The man

33. What is the moral for this story?
a. Pretend to be dead when you come face to face with a bear.
b. A real friend will never leave his friends even in difficult times.
c. A real friend will leave his friends in difficult times.
d. Always bring a company when you’re traveling away.
e. Don’t mess up with a bear.
Text 9

I personally believe that libraries are among humanity’s most important institutions for several reasons.
Firstly, most of humanity’s collective knowledge is stored in libraries. Secondly, libraries protect and preserve this knowledge. They also classify or group the materials into logical and easily available divisions.
Furthermore, libraries make the materials available to everyone and even provide librarians to help us find what we need.
Finally, libraries are our link to the past and our gift to the future.
From the facts above, I conclude that libraries are important institutions for humanity.
34. Libraries are among humanity’s most important institutions for . . .  reasons.
a. one
b. two
c. three
d. four
e. five

35. Libraries also classify or group the materials into logical and easily available divisions . . . readers can find the materials easily.
a. it
b. because
c. after
d. however
e. therefore

36. “Libraries are our link to the past and our gift to the future.”
This means that we . . . to the past and the future by libraries.
a. is linked
b. was linked
c. were linked
d. are linked
e. am linked

37. What do you call the text above?
a. Analytical exposition
b. Hortatory exposition
c. Discussion
d. Explanation
e. Review

38. The organization of the text 5 is . . .
a. thesis - arguments - reiteration
b. thesis - arguments - recommendation
c. general statement – a sequence of explanations - closing
d. identification - description
e. general classification - description

39. “From the facts above, I conclude that libraries are important institutions for humanity.”
The last paragraph of the text is called the . . .
a. orientation
b. re-orientation
c. thesis
d. arguments
e. reiteration

Text10
Mother’s Day

Julia Ward Howe and Anna Jarvis were the best known pioneers who took up the cause of Mother’s Day in the United States. Julia Ward Howe’s “Mother’s Day” in 1872 was a call for disarmament by women. Anna Jarvis, in 1907, organized a day to raise awareness of poor health condition in her community, a cause she believed would be best advocated by mothers. She called it “Mother’s Work Day.” In 1914, US President, Woodrow Wilson signed a Joint Declaration. He declared the second Sunday of May as Mother’s Day, the day to honor motherhood. Today, however, some may think that the commercial community purposely created Mother’s Day to make some extra money.
Nowadays, this auspicious day has literally become commercial affair. Many people spend their time buying material gifts for their mothers. In order to sell more products, many restaurants, gift shops, cake shops and florists usually give special offers on Mother’s Day. Consequently, their cash registers keep ringing non stop. Obviously, Mother’s Day has become a major profit makes for businesses.
It is important to remember that the reason behind celebrating Mother’s Day is to say thanks to the most important person in our life – our mother. It is the day to tell her how much we love her and how special she is for us.
Therefore, instead of merely giving material gifts, giving our mother what she needs and really wants is more precious. Showing off our love by spending more time with her, for example, will certainly give us nothing but heartfelt thanks and real gratitude from our mother.

40. Some people thought Mother’s Day was . . . .
a. purposely created just to make money
b. created to honor the mother
c. created to make the mother happy
d. created to respect the mother
e. created to pay tribute to mother

41. Who was the creator of Mother’s Day?
a. Anna Jarvis d. Mary Thompson
b. President Woodrow Wilson e. Joan of Arc
c. Julia Ward Howe

42. What did Julia Ward Howe do in the 19th century?
a. She worked for the NGO.
b. She worked in a military service.
c. She called for disarmament by women.
d. She raised awareness of poor health conditions in her community.
e. She became a charity worker.

43. When did the Mother’s Day become officially recognized?
a. In 1758 d. In 19th Century
b. In 1924 e. In 1914
c. In 1800

44. According to the text, when the Mother’s Days celebrated?
a. On the 1st week of June d. On the 2nd week of April
b. On the 2nd week of May e. On the 1st week of December
c. On the 3rd week of May

45. What does Mother’s Day bring to the commercial community?
a. It brings havoc to the commercial community
b. It brings problems to the commercial community
c. It brings adversities to the commercial community
d. It brings disasters to the commercial community
e. It brings immense business to the commercial community

46. Who will get benefits from Mother’s Day?
a. The children
b. The hawkers
c. The taxi drivers
d. Restaurants owners, gift shops owners, cake shops owners and florists owners
e. The beggars

Text 11

A Lion and a Mouse
A lion was awakened from sleep by a mouse running over his face. Rising up angrily, he caught him and was about to kill him when the mouse piteously entered, saying, “If you would only spare my life, I would be sure to repay your kindness.”
The lion laughed and let him go. It happened shortly after this that the lion was caught by hunters, who bound with him with strops to the ground. The mouse, recognizing his roar, came, gnawed the rope with his teeth, and set him free, exclaiming, “You ridiculed the idea of my ever being able to help you, expecting to receive from me any repayment of your favor; now you know that it is possible for even a mouse to confer on a big lion.”
(Source: Encarta)
47. The text above is a ….
a. recount text
b. procedure
c. narrative
d. hortatory exposition
e. analytical exposition

48. The characters in the text above are ….
a. the lion and the hunter
b. the mouse and the hunter
c. the lion and the mouse
d. the lion and the farmer
e. the mouse and the farmer

49. The orientation of the text above is stated in ….
a. 1st paragraph
b. 2nd paragraph
c. 1st sentence
d. 2nd sentence
e. last sentence

50. The reorientation of the text is ….
a. the lion ate the mouse
b. the mouse helped the lion
c. the hunter killed the tiger
d. the lion helped the mouse
e. the hunter helped the lion


Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites