Translate

Quotes

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”
(Pramoedya Ananta Toer)

Minggu, 22 Januari 2012

Bintang yang Terus Bersinar


Kasih ibu,

kepada beta

tak terhingga sepanjang masa

Hanya memberi,

tak harap kembali,

Bagai sang surya, menyinari dunia.

Seuntai klimaks panjang tergambar pada rona wajah ibuku. Senyumnya selaksa setetes embun, mengalir perlahan mengetuk celah hatiku. Tak ada penampilan yang sempurna dari dirinya. Rambut yang kumal, ibuku bahkan tak suka dandan. Ejekan teman-temanku seringkali mengurungkan niatku untuk pergi sekolah. Mereka seringkali mempersoalkan fisik ibuku yang berjalan sempoyongan. Bahkan hinaan batin seringkali menancapkan belati pada hatiku. Aku selalu berkata, "Aku malu bu!" dan dengan setetes embunnya aku selalu lunak di hadapannya. Memang, sejak dulu ibu lah yang membuatku mengerti.

*****

Menginjak usia SMA, aku tumbuh menjadi gadis yang tegar. Seperti lakon ibuku. Sepeninggalan ayah sejak aku berusia 4 tahun, memang ibu adalah sosok yang berjuang keras membiayai kehidupan kami. Mulai dari memasak sarapan pagi, lalu berangkat bekerja dan sorenya masih sibuk mengotak-atik pekerjaan. Padahal setiap harinya aku selalu membantu pekerjaan rumah, namun ibu selalu bilang kalau aku belum pandai melakukannya. Ibu, sedari dulu memang begitu. Masih mengkhawatirkan anaknya, padahal aku sudah SMA. Bukan anak kecil yang perlu di jaga layaknya waktu SD dulu. Iya, ibu menjaga aku disekolah sejak TK hingga SD. Lagi-lagi sore ini ibu memulai kegiatan rutinnya. Ia ambil seember air dan lap pel. Dasar ibu, padahal baru saja aku mengepel.

"Nduk, ini kamu pel lantainya," ucapannya begitu parau ku dengar.

"Loh buk, sudah dari tadi," jawabku dengan suara yang lebih jelas.

"Udah nggak apa-apa di pel lagi, ibu ingin liat kamu ngepel,"

"Ya udah, sini buk," aku mengambil ember itu dari tangannya. Tercetak keriput hitam pertanda kerja kerasnya selama ini.

Sepanjang waktu mengepel ubin rumah, matanya tak lepas sedetikpun dari rambut sapu pel. Arah matanya mengikuti kemana sapu pel itu aku gerakkan. Kadang jika tak dapat dijangkau oleh mata tuanya, beliau melonggokkan kepalanya. Saat sapu pel itu masuk ke bawah lemari, kepalanya ikut menunduk seakan-akan sesuatu menarik terjadi pada sapu pel usangnya. Tak kusangka perkataannya membuat jeruji tersendiri bagi anaknya. Aku melongo mendengar ucapannya yang semakin parau. Sepintas kulihat senyum indah terlukis jelita pada kanvas yang mulai keriput usia. Aku tak habis pikir ucapannya tadi begitu seperti tak ada beban.

"Yo wes nduk, makan dulu. Itu ibuk beliin gado-gado," ujarnya mengagetkan lamunanku.

"Ibuk sudah makan toh?," anggukan dari kepala yang memperlihatkan uban dirambutnya memberi jalan hijau. Tak ku sia-siakan makanan yang memang menjadi jawara hati. Ibu melihatku kembali dengan senyum indahnya. Senyum sang jelita, entah begitu berbeda hari ini.

Pagi-pagi buta aku melangkahkan kaki menuju tempat biasa aku menumpang angkot. Jarak 1 km antara rumah dengan jalan raya menjadi saksi bisu perjuangan kami. Ibu, juga melewati jalanan ini jika menuju tempat kerjanya. untuk menuju ke tempat kerjanya ibu harus menumpangi angkot F yang berjalan menuju utara. Akan tetapi aku begitu kasihan bilamana ibu menghadiri undangan sekolah yang arahnya berlawanan dengan tempat kerjanya. Kulihat di saku bajuku ibu menyelipkan uang Rp7.000 rupiah.

"loh, banyak amat," gumamku. Memang tak biasanya ibu memberiku uang sekian. Ibu kadang memberiku tak lebih dari Rp4.000 saja. Aku tak habis pikir atas tingkah ibuku akhir-akhir ini. Begitu berkesan, seakan ucapannya akan terbukti.

"TIIIDAAAAKKKK.....!!!"

"Ada apa neng?," ternyata jeritanku telah mengagetkan sopir angkot yang berada disampingku. Kulihat dari kaca spion atas tak ada penumpang sama sekali dibelakang. Untung, mungkin aku disngka orang tak waras berteriak tanpa sebab. Tatapanku terus melihat lurus jalanan depan. Lama-lama pemandangan jalan semakin kabur. Entah mataku yang salah atau memang hari masih pagi. Pagi ini tak ada orang yang berlalu lalang. Biasanya ku temui gerobak sayur yang melintas dan riuh ibu-ibu penjual ikan menyeberangi Pasar Tradisonal tempat ayahku jualan dulu. Teringat tatkala ibu mengajakku mengunjungi lapak ayah setiap minggu. Namun, di jalan ini nyawanya terambil. Ayah korban dai tabrak lari. Ah, fikiranku pagi ini belum-belum sudah mellow. Padahal sudah ada ulangan Kimia yang siap menyambutku. Pasti tak ada yang mellow lagi. Semakin dekat kearah pasar itu, terlihat mobil besar terparkir sembarangan. Baru ku ketahui mobil itu adalah milik dinas pemadam kebakaran. Ternyata pasar ini tadi malam terlahap jago merah. Terbukti dari asap padam yang masih mengepul. Persis fenomena wedus gembel.

"Pantas saja jalanan tak terlihat, wong kacanya kena abu neng. Kirain mata bapak yang memang udah tua," pekik pak sopir yang biasa ku sapa pak haji. Memang bukan haji, tetapi setiap naik angkot beluau selalu menggunakn peci putihnya. aku yang mendengar lawakannya hanya tertawa tipis saja. Tak terasa pak haji sudah mengantarkanku hingga sekolah. semua penumpang Tadi menuju arah sekolah turun. Terlihat Susi, Amel kedua sahabatkudan juga Fendy cowok sekelas yang juga sahabat, saingan dan sudah beredar rumor kami pacaran. Aku dan Fendy menanggapinya dengan santai. Toh, selama kami SMA tujuan kami bukan pacar, tetapi orang tua. Betul, aku dan Fendy berangkat dari keluarga yang sama. Namun, Fendy lebih beruntung karena masih mempunyai bapak.

"Pagi Shinta....!!!," suara itu acapkali menyapaku.

"Pagi juga ndy?," jawabku dengan senyum lebar di hadapannya. Namun, anehnya ia langsung nyelonong mendahuluiku. Aku tak sempat memamerkan senyum indahku padanya.

Suasana kelas begitu aneh hari ini. Semua sahabatku seakan diam. Semua menganggapku tak ada hari ini. Apalagi dengan tak sengaja aku membuat Fendy marah. Hanya karena aku tak sengaja menginjak kakinya. Aku diam seharian. Bayangan ibuku terlintas sejenak.

"Ngunu pinter, ibuk tenang lek ninggal mati awakmu nduk" ucapannya sempat terekam dalam memoriku. Ingatan akan setiap lekuk kata-katanya membuatku hancur. Air mata telah lama menetes hingga jatuh membasahi tulisan yang terpajang luntur pada buku tulisku. Lama aku menangis sendiri. Aku menantikan ketiga sahabatku memelukku, memperhatikanku. Namun ku curi pandang mereka tengah tertawa lepas bersama teman sekelas yang lain.

"Apa salahku????," kalimat itulah yang berduet dengan ingatanku tentang ucapan ibu kemarin sore.

Suasana rumah sore ini begitu sepi. Namun kucium aroma sedap dari arah dapur. Tak ada apa-apa. Ku tengok ke kamar ibuku berharap ada sosok yang aku cari. Semua sudut rumah hanya terisi pertanyaan dimaa ibu. Sudah pukul lima sore ibuku tak kunjung pulang. Biasanya paling lambat, jam empat beliau sudah ada di rumah. Kali ini aku benar-benar khawatir. Semua pikiran berkecamuk menjadi satu. Pikiran hingga hal jelek terjadi pada ibu rupanya menguasai otakku. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku takut kesendirian, hingga kembali air mataku keluar. Menetesi ubin rumah yang lupa aku pel.

"ibukkk.....,"suaraku lirih. Berkali-kali kuucap namanya namun tak kunjung tubuh itu datang. Hampir jam enam. Ada suara gemuruh di teras depan. Aku segera melihatnya. Namun sial, tak ada siapa-siapa.

"SURPRISE.......!!!! Selamat Ulang Tahun.....!!," suara itu datang dari pinti belakang rumah. Terlihat gerombolan teman-teman sekelasku membawa kue. Amel, Susi dan juga Fendy datang membawa bingkisan hadiah. Namun sosoknya lama aku nanti. Ditengah-tengah terlihat ibuku membawa kue tart yang diatasnya bertuliskan angka 17. Hari ini usiaku genap 17 tahun. Aku baru sadar mereka semua sudah merncanakan hal ini sejak awal. Ya, ibuku juga bersekongkol dengan mereka.

"Selamat ya Shinta...."

"Semoga sehat..."

"Banyak rezeqi, semakin pintar..". Berbagai ucapan dan do'a teman sekelasku ucapkan. Tak terkecuali ibuku. Beliau tak bisa berkata apa-apa lagi hingga kami berpelukkan lama.

*****

"Shinta, mau kemana?," ujar Fendy dengan suara merdunya.

"Ke ibu dulu, kamu ikut ndy?," ujarku.

"Ayo aku antar!"

melintasi jalan yang begitu terasa lama bagiku. Sudah beberapa bulan lamanya aku tak menengok ibuku. Kesibukkan kuliah rupanya sudah memulai kehidupan baruku.

Di tempat ini. Ibuku kembali.

"Assalamu'alaikum buk, Shinta datang menjenguk ibuk. Ibuk, kini Shinta sudah jadi perempuan yang tegar. Seperti apa yang ibu mau dulu. Dan ibuk, Shinta kini juga ada yang menjaga. Di samping Shinta sekarang ada Fendy buk. Ibuk dulu pernah bilang Fendy orang yang ibuk harapkan jadi mantu ibu kelak. Tetapi ibuk sudah pergi duluan. Maaf buk, jika semasa ibuk ada, Shinta tak bisa banyak membahagiakan ibuk. Shinta janji buat ibuk bangga, Kelak Shinta jauh lebih tegar dari ibuk, akan Shinta kalahkan ketegaran ibuk," rupanya aku masih kalah dengan ibuk. Begini saja aku sudah meneteskan air mata. Lama sudah kami berdo'a untuk ibu, hingga langkah kami keluar dari pelataran pemakaman itu. Terlihat dari kejauhan tanggal kematian ibuku. Sehari setelah acara surprise ulang tahun itu. Hadiah ulang tahunku, begitu sederhana namun kini begitu bermakna. Bukanlah kalung, liontin atau handphone tetapi do’a dan nasehat beliau, yang tanpa kusadari itu nasehatnya yang terakhir. Ibuk, pagi itu aku takut, engkau tak bernafas, dan saat itu aku sendiri. Dan benar jiwamu begitu ada dalam hembus nafasku. Semenjak itu, aku memutuskan untuk bersekolah dan bekerja sebagai penyiar radio. Alhamdulillah, berkat beasiswa dari sekolah aku bisa melanjutkan kuliah. Tentunya sebagai guru Kimia yang dirasa ibu sebagai pelajaran aneh. Ibuk, engkau aksara pengukir hati, selamanya tiada pengganti, sesuci dan sepertimu. Lagu itu terus mengingatkanku akan masa-masaku bersama makhluk Tuhan, seorang ibu.

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites