Translate

Quotes

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”
(Pramoedya Ananta Toer)

Minggu, 22 Januari 2012

3G (Gara-Gara Gula)


Hari itu tak seperti biasanya, fajar yang menyingsing begitu menjanjikan untuk dipinang. Kicauan cendet ayah seakan berfeaturing dengan aroma ubi goreng buatan ibuku. Sesekali keduanya mengembang kempiskan hidung serta telingaku. Berbeda pada hari sebelumnya, tak kutemui genangan air yang biasa menjadi tontonan pagiku. Mungkin hujan sudah bosan mengguyur ranahku. Seperti hari senin biasanya, sebagai anggota Osis aku harus datang lebih awal. Aku akan mendapati sanksi bila tak ikut mempersiapkan perlengkapan upacara. Pilihan menjadi Osis bukanlah sebatas unjuk nama saja, ketertarikan dengan dunia berorganisasi membawaku masuk ke dalamnya.

Pagi itu ibuku sibuk mengemasi bekal sarapanku.
"Ini yang di atas ubi goreng dan di bawahnya nasi rames. Habiskan jangan buang-buang makanan. Dan ini di botol air teh, belum ibu kasih gula. Gulanya ibu pisahkan di plastik ini biar tehnya tidak basi kalau diminum nanti", khotbah ibu panjang lebar.

"Serasa mau minggat saja!", gumamku. Kumasukkan semua barang itu ke dalam tas ranselku.
"Sudah berangkat, nanti di hukum lagi kamu!", kujabat tangan ibuku.salam sekaligus uang lima ribu beliau selipkan ke tanganku. Aku kerapkali tertawa bila sudah mencapai adegan ini.
"Kayak nyalamin pak camat saja", ucapku dalam hati.

*****

Sudah menjadi kebiasaan bila hari senin diadakan razia. Entah handphone, flash disk atau barang-barang lain yang dianggap tak lazim bagi pelajar menjadi incaran petugas tatib. Setelah aku selesai dengan tetek bengek urusan Osis, langsung aku sempatkan untuk menyantap sarapanku. Ibuku memang pintar memasak. Tak salah bila aku selalu kecanduan dengan masakannya, termasuk nasi rames ini. Namun, karena selera pedasnya tinggi, hampir semua masakan beliau masak dengan cabe diatas rata-rata.

“Ah.... minum.. minum....!!!!” tak sadar cabe bonsor aku makan. Aku segera mencari teh botolku. Bibirku seakan menyalakan panas lampu 20 watt. Aku baru menyadari teh itu tak terasa apa-apa. Hanya terasa tawar dan pahit residu teh saja. Aku ingat, ibu memisahkan gulanya dalam plastik. Dan plasti itu....

“Loh... kemana gula itu?” gumamku keheranan. Bibir yang semakin menyala bak lampu diskotik itu belum menemukan penawarnya.

“Rek... ada yang liat gula di tasku?” aku semakin samar-samar akibat bibirku yang sudah tak ada bedanya dengan ikan mas koki. Wajah teman-temanku seketika berubah polos, lugu dan ingin aku damprat mereka semua.

“Apa jangan-jangan..... !?!?” Aku segera berlari menuju ruang BK. Sesekali kututupi monyongku. Di BK petugas tatib menyambutku dengan tatapan aneh. Ah, seakan aku adalah makhluk ganjil dimata mereka. Sesekali ada yang tertawa melihat tingkahku.

“Pak.. iu uan anja, ao nar oba,” ucapku terbata-bata. Karena spontan, mereka langsung tertawa melihat cara berbicaraku. Aku melihatkan bibirku yang bengkak gara-gara memakan cabe bongsor tadi.

“Ini minum dulu,” salah satu tatib perempuan memberiku air kemasan. Tak butuh sepuluh detik untuk menghabiskannya.

“Pak.. tadi kan ada razia, lah gula saya di tas kok hilang. Pasti bapak dan ibu mengira kalau itu narkoba atau ganja. Saya mau menjelaskan itu hanya gula bubuk, tadi ibu saya yang berikan untuk rasa teh saya,” kembali terlihat senyum aneh tersungging dari mereka.

Lagi-lagi aku mirip badut konyol. Menjadi bahan tertawaan mereka lagi. Ternyata mereka memang curiga atas gula bubuk itu sebagai narkotika. Namun, mereka percaya setelah guru kimia mengujinya di laboratorium sekolah, Jadi perlu beberapa jam saya menunggu sekedar meminum teh itu, hanya karena gula. Ketika dari ruang BK itu, semua guru mencercaku dengan seribu candaan yang justru membuat seperti hantu yang tak tahu malu. Ahhhhh..........



Pasuruan, 11 Desember 2011

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites