Translate

Quotes

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”
(Pramoedya Ananta Toer)

Minggu, 22 Januari 2012

DILEM(A)




Oleh: Jefri Setyawan ( Jef Kenzie)



Hatiku kacau. Seolah-olah ada seribu silet mancacah jantungku hingga membentuk bubur beraroma amis darah. Memuakkan dan mengilusikan tarian seram.

“Sungguh, Mak! Aku ora iso,” jawabku ketika emak menyampaikan keinginan Tuan Jamal yang menyukaiku pada pandangan pertama.

“Emak juga berat, Nduk!” sahut ibu sambil menuangkan kangkung pada air yang mendidih. Ia tampak semakin ringkih di usia akhir kepala empat.

“Sudah cukup hatiku untuk Kang Supiyan seorang Mak!” terdengar ibuku mendesis mendapat jawabanku.

“Mbok yo jangan lama-lama jadi janda, Nduk! Malu dibicarain orang, mumpung kamu masih muda. Jangan seperti Emak ini, terlanjur lama menanti bapakmu, Nduk!” ucapan Emak tak kala sinisnya hingga membuat aku tak hentinya mengusap dada berkali-kali.

“Tapi beda Mak, bapak kan memang niat cari istri lagi, tapi Kang Supiyan meninggalkan kita itu kan dipanggil Gusti Allah toh, Mak!” untuk urusan ini aku tak mau mengalah dengan ibuku. Hal seperti ini tidak hanya yang pertama, seringkali persoalan sama aku tolak mentah-mentah. Bahkan sering pula berujung pada kemarahan emak atas status jandaku. Sudah tiga tahun aku menjalani lika-liku kehidupan tanpa seorang lelaki. Memang sangat aneh bagi kebanyakan wanita lainnya. Tapi bagiku, semua itu tak bisa dibandingkan dengan segala yang aku terima dari Kang Supiyan. Kesederhanaan cinta yang diberikannya sungguh membuatkan candu tersendiri. Pun aku ingat saat kami makan klepon lupis di salah satu tempat makan di daerah Jalan Panglima Sudirman Kota Pasuruan. Makan dengan lahapnya, dan terkadang ia memainkan makanannya. Menusuk bentuk klepon yang bulat memaksa lahar gula aren itu muncrat dari dalamnya. Tak jarang kebiasaan Kang Supiyan ditiru oleh Kiran anak kami. Dan kini, aku pun tak mampu lagi melakukan hal serupa. Bahkan membelikan jajanan saja aku harus menabung seminggu. Upah sebagai buruh pabrik benang hanya cukup untuk kebutuhan makan saja.

Miris dan menyakitkan.

Aku terdiam. Kami berdua seakan mulai menggencarkan perang dingin. Ingin beranjak dari dapur tapi sungkan kepada Emak. Ingin bernyanyi memecahkan keheningan, namun sudah tak pantas berbangga dalam penderitaan.

Tanp` menunggu perang berakhir, beliau bangkit dari duduknya. Berjalan menuju kamar mandi dan entah melakukan apa di sana. Saat itulah aku merasa benar-benar merasakan kemenangan yang acap kali aku dapatkan.

Ibu datang dengan ember yang terisi penuh air. Percikan air kadang membasahi kakinya saat membawanya menuju luar rumah. Ibu bukan hanya membawa ember saja ditangan kirinya membekap handuk dan peralatan mandi seadanya itu.

“Kiran sudah dimandikan, Nduk?” suara ibu terdengar dari luar rumah. Di usia tuanya masih ingat kebiasaan mandi anakku. Aku saja yang ibunya selalu lupa.

“Belum Mak, sebentar Kiran tak cari dulu, mungkin masih bermain di depan” mendengar ucapanku barusan, Emak masuk kembali ke dapur melanjutkan acara memasaknya. Entah perasaan apa hatiku sakit ketika melihat tingkah Emak barusan. Aku sebagai anak memang keterlaluan.

*****

Malam ini acara tahun baru islam di gelar di pelataran Alun-alun kecamatan. Dalam acara ini semua warga membawa sesaji yang berupa makanan yang nantinya akan dibagi secara merata. Aku dan Emak membawa nasi krawonan. Perlu perdebatan panjang untuk memutuskan membuat nasi yang terdiri dari sayur mayur yang dicampur dengan ikan asin dan parutan kelapa ini. Karena, ruwetnya pembuatan adalah alasan emak enggan membuatnya. Tapi tetaplah aku yang selalu memenangi perdebatan itu.

“Nduk,terimalah lamaran Tuan Jamal. Kurang apa lagi, Nduk? Sudah kaya, baik dan Emak yakin istrinya bakal nerima kamu” masih sempatnya Emak melontarkan bujuk rayunya saat do’a dibacakan.

“Ingat Nduk, kamu ada Kiran yang perlu dibesarkan. Itu semua ndak gampang. Kalau kamu jadi....”

“Sudahlah Mak!” aku memotong bicaranya.

*****

Hal yang aku nanti tiba, Emak dan Tuan Jamal tengah memandang lekat mataku. Aku semakin bingung dengan keputusan yang nantinya kuberikan pada Tuan Jamal. Aku tak ingin mensejajarkan Kang Supiyan dengan lelaki lain. Namun bayangan kemiskinan Emak dan buah hatiku terus menekanku dengan menerima lamaran itu adalah jalan terbaik kami.

“Mak...” aku mulai bicara.

“Ayu Nduk, jawab saja!” terlihat sepintas harapan matanya untukku katakan iya.

“Zahra menerima Tuan Jamal Mak...” mengatakan itu tenggorokanku seakan tercekat. Suara lirih yang aku katakan membuat semua kembali bertanya.

“Benarkah Nduk?” hanya anggukan kecil yang bisa aku berikan. Senyum Tuan Jamal tergambar kokoh. Begitu juga dengan ibuku. Transparan terlihat kristal bening yang meleleh lewati sela pipinya.

Waktu...

Izinkan ruh ku menengok balikmu.

Melihat apa yang aku dapat.

Bila hati ini merangkum dua hati.

Yang tak sempat terjangkau bilaku sendiri.......

Angin perdendangkan kayakinan.

Akan hati yang akan terpatri.



Pasuruan, 4 Desember 2011

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites