Translate

Quotes

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”
(Pramoedya Ananta Toer)

Selasa, 24 Januari 2012

Karena Kusanggup


KARENA KUSANGGUP...

Semua seperti mimpi. Semenjak kuberkenalan dengan sosok perempuan yang behasil membawaku pada dunia roman. Seperti lembayung senja dan aku terduduk di atas hamparan siluetnya. Lalu perlahan menghilang dan ketika itulah sosoknya jua buatku padam sebagai lilin tuhan.
****
Rabu, 12 Januari 2011...
Masih kuingat, senja sore itu adalah yang terpanjang dari senja biasanya. Senja yang terekam oleh dua sejoli pada awal jumpanya. Dua sejoli itu adalah aku dan dia. Tak perlulah aku menyebut namanya, sebut saja dia "Gadis Senja". Tak ada obrolan menarik untuk ukuran perkenalan pertama. Masih ada perasaan setengah-setengah sekedar mencari keingintahuan masing-masing. Memang terasa canggung bagiku yang memang pendiam. Aku sempat mengutip beberapa kalimat dari mulutnya. Yang justru itu membuat aku tersedak dan mencerna baik-baik kata per kata ucapannya.

Minggu ke-dua  Februari 2011...
Langit Februari meranggas tak ubahnya pohon jati. Kuning merekah sinarnya tajam menusuk pori kulit terkecil sekalipun. Kejadian sebulan lalu, membuat hubunganku dengan "Gadis Senja" semakin erat. Meskipun hubungan SLJJ perantaranya. Ada keinginan yang muncul untuk bertemu. Suatu waktu pernah keluar lagi kutipan itu darinya. Entah sadar atau tidak itu membuat aku kembali dilema. Cukup! Sudah kedua kalinya ia mengucapkannya.
Benar saja, sorenya kami sepakat untuk bertemu kembali. Hal yang tak terduga kembali terucap darinya di tengah lalu lalang jalan raya. Namun, ini beda, bukan kutipan yang terakhir kali lalu. Mendengar itu aku mencoba bersikap sewajarnya. Tak ingin aku kacau dalam keadaan berkendara. Aku beruntung memiliki ilmu sandiwara yang kupelajari di sekolah. Saat itu kulajukan kencang motorku, entah bagaimana hingga bermuara di sebuah pantai.
Sepanjang perjalanan menuju pantai itu, sesekali ia mengagumi panorama yang jarang ia lihat. Memang beberapa kawasan di Pasuruan begitu elok. Tak banyak aku menimpali kegembiraannya. Di pantai itu, ia begitu asyik bermainan dengan ombak. Dalam keadaan kacau, aku lebih memilih diam di atas motor. Aku mengingat kutipan yang masih terekam jelas saat senja dulu.
"Aku tak masalah bila kau tembak (baca: menyatakan cinta) aku saat ini". Hampir seminggu aku mengolah perkataannya. Kutipan pertama yang buatku mendilema.
Hingga tiba ketika aku sudah siap membangun cinta itu, ia kembali meyakinkanku kedua kalinya. "Kapan kau sempat nembak (baca: menyatakan cinta) aku?". Itu kutipan keduanya. Ya, aku mulai percaya akan cintanya. Bagiku, kata awal terlalu singkat untuk memulai entah bagi dia.
Memang setelah pernyataan keduanya itu, aku merasakan perbedaan yang mencolok dari sikapnya. Dari yang biasanya dia sms dulu, semenjak itu harus aku yang mendahului. Namun, perhatian dan kasihnya masih sama seperti biasanya. Lalu, aku beranjak dari kutipan kedua melanjutkan ke ucapannya tadi. Tidak!!! Aku tak ingin mengingat!! Kuamati dirinya yang tengah duduk di batu besar. Sesekali mata kita beradu, dan selalu akulah yang menyudahi. Tak bisa secara terus menerus menatap mata senjanya yang akan buatku canggung. Oh Lebay!! Kembali melewati hamparan alam yang menggoda mata. Tak terasa tangan kiriku menggenggam tangan kirinya. Jalanan menurun, tak kuhiraukan lagi satu tangan untuk menyetir. Hatiku was-was antara pikiran yang berkecamuk selama ini. Berharap ingin menuntaskannya segera. Senja indah menyinari tubuh kami. Kutafsir kala itu masih pukul 05.30 sore. Entah keyakinan apa yang buatku memberhentikan laju motorku. Tepatnya pada tikungan menurun yang begitu tajam. Kumasih berperang dengan pikiranku di atas motor. Sementara ia tengah asyik berfoto. Memang wanita, tak bisa lepas dari naluri narsisnya. Tak lama, ia menghampiriku. Ia mengajak pulang. Lalu, aku mengiyakannya. Namun, kembali kekuatan ajaib itu muncul. Aku balikkan tubuh menghadap kearah wajahnya. Kupengang tangan dan kusapukan mata dari ujung jalanan itu.
"Aku cinta kamu, aku mau cinta ini menyatu" perlu waktu satu menit untuk mengucapkannya. Aku malu, kualihkan wajahku menatap senja yang akan tenggelam. Aku juga sudah siap kata penolakan itu keluar darinya.
"Aku 'tlah menjalin hubungan dengan orang lain, meskipun jarak membentangkan kami, tetapi aku mencoba setia" kembali kutipan ketiga keluar dari mulutnya. Entah kekuatan apa hingga aku berani menyatakan cinta pada gadis yang jelas-jelas sudah menjalin cinta dengan lelaki lain. Tak kusadari ia telah beranjak menjauh dari hadapanku. Tak lama tubuhnya kembali sambil memberikanku setangkai kembang liar dari tepi jalan. Ia mengatakan, apabila ia memberikanku tiga tangkai bahwa ia menerima cintaku. Kami pulang, sepanjang perjalanan belum ada tanda-tanda kembang kedua ia berikan lagi. Harapanku perlahan hilang seiring tenggelamnya senja kami. Kurasakan dekapan tubuhnya menyenderkan kepalanya di bahuku. Aku semakin tak mengerti tingkahnya. Lambat, ia dongakkan lagi kepalanya. Di selipkan dua tangkai kembang itu sekaligus ditangan kiriku.
"Benarkah kau menerimaku?" tanyaku tak percaya. Namun hanya anggukan yang kudapat.
"Lalu, bagaimana seseorangmu di kota lain itu?" tanyaku agak canggung.
Dari kaca spion kulihat ia berfikir sejenak,"Denganmu aku milikmu, disana aku miliknya". Aku kaget mendengar ucapannya. Sosoknya kini buatku ragu. Ia menjalani dua hati, dua kasih yang buatnya kapan saja berubah. Rupanya masalah itu semakin melebar. Aku hanya tersenyum masam. Hatiku terdalam berkata untuk tetap mencintainya. Rasa memang aneh.

Minggu ke-tiga Februari 2011...
Ketika senja itu retak...
Seminggu sudah kisah cintaku berjalan. Sudah tiga hari pula aku tak mendengar kabarnya. Terakhir, ia berpamitan menjenguk pacar pertamanya di kota Blitar. Bagaimana dengan aku?
Entahlah, dibilang kecewa pastinya namun aku seakan bungkam. Apalagi semenjak aku menjadi kekasih gelapnya. Hanya pacarnyalah yang jadi trending topic setiap kami mengobrol. Seringkali pula ia mengatakan bahwa aku tak perlu mencemburuinya. Memang aku tak khawatir ia akan menemui pacarnya. Karena terbilang jarak kota Pasuruan dengan Blitar sangatlah jauh. Tetapi manusia hanya bisa berharap. Selama tiga hari itu, aku tak diizinkan berkomunikasi dengannya. Sekedar telepon bahkan sms pun. Kejamnya terduakan!

Awal Maret 2011...
Senjaku pudar...
Sudah dua minggu setelah hari jadian kami. Aku mencoba menelepon dia. Tepat saat ia tengah belajar untuk persiapan try out menjelang UN. Ya, dia SMA kelas tiga, sedangkan aku baru duduk di kelas satu SMA. Perbedaan usia tak dirasa penghalang hubungan kami. Pacarnya di Blitar ternyata kelas dua SMA. Lama tak berkomunikasi dia begitu wellcome atas sikapku. Tapi aku menyayangkan sikapnya yang seolah aku adalah tetangganya. Tak ada kesannya seperti sepasang kekasih. Tuhan, salahkan jiwa hamba mendapuk dirinya. Ia malah menyuruh aku untuk tak menseriusi hubungan itu. Ya, sepanjang obrolan yang tak menarik itu, terselipkan pujian untuk pacar pertamanya. Sesekali ia menceritakan jaket dan flashdisk serta beberapa barang lain pemberian pacarnya. Mendengar itu, aku sangat kecewa. Tak jarang ia juga memuji fisik "Orang Pertama" tersebut. Dan setiap kali membahas pacarnya, aku selalu menangis. Entahlah, tetapi aku tak mempunyai daya untuk berontak. Karena aku mencintai dia.
"Lalu yang kemarin apa artinya?" tanyaku mengingatkan pada hari aku menyatakan cinta itu.
"Lupakan, aku tak ingin buatmu sakit hati" begitu entengnya dia mengeluarkan kata najis tersebut.
"Aku ingin menghilang dari kalian, ku ingin tenang bersamanya". Aku tercekat mendengar penjelasan yang tak kuduga. Sesekali isakanku terdengar dari ujung teleponnya. Namun, sepertinya sosok gadis senja itu, tak memperdulikan keadaanku. Ia juga mengatakan, bukan hanya aku saja yang sakit hati. Tetapi masih ada seseorang yang lebih sakit hati. Dialah orang pertama yang memacari “Gadis senja” ku. Sehingga jelas sudah, aku bukanlah orang keduanya melainkan ketiga di hatinya. Ia lebih memilih orang kedua di kota Blitar itu.
"Sudahlah dek, aku belajar dulu" hanya itu kalimat terakhir darinya. Ia memanggilku adek, itu artinya tak ada hubungan istimewa lagi antara aku dan dia.
Semenjak peristiwa itu aku tak pernah lagi menghubunginya. Bahkan ia lebih dulu memblokir pertemananku di facebook. Tak ingin kalah start lagi aku mengganti nomor hapeku segera setelah aku mengirimkan sms perpisahan terlebih dulu. Ya, aku tak bisa marah. Toh ini aku yang bermain hati. Keseharianku di sekolah tak semenarik biasanya. Namun, perlahan aku berkat motivasi sahabatku lambat laun aku mampu berkonsentrasi menata masa depanku. Tak kusadari beberapa bulan aku masih menyimpan sesuatu dari “Gadis Senja” itu.
Di dalam toples itu, tiga tangkai bunga telah mengering. Seperti hatiku padanya kini. Kubuang semua tentangnya berharap tak ada lagi virus yang kemungkinan menginfeksiku suatu saat. 

Dalam senja lapang, setiap waktu...
 Sosokku begitu damai. Dalam balutan kehidupan baru. Bermain dan menantikan lagi senja baru. Menyaring dan memasukkannya lagi dalam toples kehidupannya. Senja yang terangi gelapnya sajak-sajak kejujuran.
 

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites