Translate

Quotes

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”
(Pramoedya Ananta Toer)

Senin, 28 Mei 2012

CINTA MEMBACA 3: Metafora Diri




Goresan tinta yang masih basah tercetak begitu ayu. Tangan yang menyangga dagu, mencari ide yang mengajak berteka-teki. Pojok kamar terlihat tumpukan buku yang tersusun rapi menampilkan dioama yang ceria. Keseharian sebagai pelajar suatu yang wajar dari dunia membaca dan menulis. Apa??? Wajar???. Omonganku ini berbanding terbalik dengan ketika ingat waktu itu. Keki banget dengan menulis, apalagi membaca. Namun, terbukti sekarang uang jajan yang biasanya untuk main PS kini terealisasikan dalam bentuk benda kotak yang tengah saat ini ku kagumi.
*****
Masih kuingat siang itu . Seperti remaja biasanya seusai sekolah tujuan utamaku ialah warnet. Maklum saat itu warnet adalah hal yang baru meracunu desa. Pesonanya seakan trending topic tiap harinya Tak luput dari rencana untuk membuka facebook, jejaring sosial yang makin ngetrend. Lama waktu klik sana klik sini tak terasa sudah 50 kali jarum bertemu kembali dengan angka 12 nya. Hari itu begitu miris, uang saku hanya cukup untuk membayar 1 jam, saya harus terima nasib akhir bulan. Akhir-akhir ini isi dompet memang kering. Berjuang memanfaatkan waktu seoptimal mungkin. Terlihat sebuah foto menarik terpampang di wall profil FB saya. Saat itu memang tak terbesit untuk melihat apa isi dan apa tujuan bahkan siapa yang menandai saya. Berhubung waktu yang mengejar, tancappppppp!!!!!!. Emosiku seakan dipermainkan. Sepintas terlihat tulisan rupiah yang cukup menggiurkan tercetak di dalamnya. Siapa yang menolak melihat bila ada pengumuman yang memancing uang di dalamnya. Klik.
Gambar itu menampilkan sosok aslinya. Namun masih proses. Loading. Ya memang lemot sekali warnet disini. Maklum penggunanya banyak, warnet baru belum satu minggu usianya.
 Jlebbbbb!!!! Komputer di depanku padam, suara tat-tit-tut komputer bilik lainnya mengikuti langkah benda di depanku. Aku menggerutu kesal dalam hati. Semua ibarat kita minum tetapi tanpa air. Benar-benar bikin naik darah. Kuputuskan untuk pulang, dan aku hanya membayar 1 jam saja.
Pernah ngerasain satu jam nahan pipis atau mules di tengah macet? Muka pucat, keringat mulai mengucur deras dan sudah diujung tanduk!
Perasaan itu aku alami sepanjang perjalanan pulang ke rumah.
Malamnya, tak ku sia-siakan pergi ke warnet. Apalagi kalau bukan melihat gambar itu. Memang rasa penasaran remaja lagi hot-hot nya.
"Monyetttttt!!!!!!"
"Biawak laknat!!!!"
"Eh Astaghfirullah!!!"
Tragedi! Hampir satu jam kombinasi sumpah serapah, kata-kata sampah, sekaligus ucapan tobat keluar dari mulut saya.  penyebabnya: Hampir satu jam lamanya saya harus mengantri di warnet itu. Saya masih berkeliaran mondar-mandir kayak mandor berharap-harap cemas, eh berharap-harap melas. Salah satu dari orang yang ada di bilik itu seperti mau keluar. Dan benar jreengg....jrengggg!!! Ada juga yang keluar. Langsung saja aku tancap komputer itu. Buka www.facebook.com lalu log in dan buka wall tadi. Lama, dan masih mencari dimana gambar itu. Dimana….dimana…..dimana…..
Dan klik. Jrengggg....jreng.....
Ku baca dengan seksama kalimat yang ada di gambar tersebut.
"Monyet kampung!!!,"
“Eh Astagfirullah”
Siapa yang tak kesal bila itu adalah banner lomba cerita pendek yang diadakan oleh FLP cabang Probolinggo. Apa tidak tahu, saya sangat ogah banget ikutan. Gak ada waktu. Tapi, yang lebih tepatnya saya males ikut gituan. Sudah nggak bisa nulis eh mau ikut begituan. Jangankan nulis, baca saja emak saya harus habis-habisan ngomelin saya dulu. It's not my type!!!!!!
Tapi, kupandangi lagi. Hei....!!!!
Hadiahnya itu loh nggak tanggung-tanggung 500 ribu bro. Ah pusing banget kepala saya. Pengen ikut tapi, nggak pernah nulis. Yaiyalah gimana bisa nulis cerita, baca aja nunggu ditimpuk sapu.  Tapi, saya butuh uang. Beginilah nasib anak remaja, kemana-mana harus sok bawa uang.
Rupanya seorang Jefri akan berubah. Ya, saya mengambil tantangan itu. Dan anda tahu, apa yang saya lakukan setelah itu???
KLIK! tek-tek-tak-tak-tek KLIK!
Tertulis "Kumpulan Cerpen" pada google search. Ya, saya mulai mempelajari tulisan orang lain. Ampun dah, baca belum dua menit mata sudah kelap kelip. Rasa kantuk mulai menyergap si anti baca. Derita gue banget sih. Namun, karena tekad membara, semangat yang 45 dan niat lahir batin ingin memenangkan kontes itu, ceilah..... Kontes! maksud saya, lomba cerpen itu, tiap waktu terus saya mencari bahan untuk cerita saya. Saat sekolah tiap jam istirahat mencoba ke perpustakaan. Banyak yang memandang aneh diri saya waktu itu. Ada yang menggumam ada pula yang rupanya berbisik-bisik tetangga. Ya iyalah, seandainya kalian kenal saya tentu anda terheran-heran. Kena demam apa ini anak sampai masuk perpustakaan. Sekali lagi, semua itu terpatahkan dengan semangat 45, tekad membara dan niat lahir batin saya. Entah sudah mendekati deadline masih saja saya tak mendapatkan ide sama sekali. Ku ingat sepintas pesan bapak Dwi Cahyo guru matematika saya di SMA yang berkata "Menulislah selama sepuluh menit tanpa henti, dan tulislah apa yang ada di fikiranmu". Hal itulah yang saya lakukan menjelang deadline  malam itu. Bisa anda bayangkan, seorang yang phobia baca tulis, menulis cerita dalam waktu semalam? Apa jadinya??. Deadline kala itu 1 Juli 2011, dan tepat pukul tiga sore saya mulai mengetik cerita itu. Dengan ditunjang kemampuan ilmu komputer yang pas-pasan saja, ditambah niat yang menggebu-gebu. Akhinya tepat jam 10 malam cerita itu rampung sudah.
Tetapi tak lengkap bila seorang Jefri hidup tanpa kendala. Dan masalah datang lagi. Karena saat pelajaran TIK saya tidak suka membaca, maka saya kesulitan untuk mengirim email. Ah, betapa malunya anak SMA minta bantuan sama mbak pemilik warnetnya.
Haaaaaahhh!! Akhirnya selesai juga tepat jam setengah sebelas.
Dua minggu saya menanti pengumuman itu. Kembali rasa pengen pipis, tangan dingin untuk kedua kalinya saya rasakan.
Dan jrenggg...jreng..... Pengumuman sudah dimulai.
 Dan ternyata naskah first time saya berhasil tidak lolos. Mimik muka saat itu bagaikan hantu. Pucat pasi, mbak penjaga warnet menawari saya kopi susu. Gratis lagi. Semenjak kejadian itu, rasa anti membaca saya bukannya bertambah tetapi semakin menghilang. Keseharian waktu saya habiskan untuk browsing membaca cerita-cerita di internet. Dan rutinitas ke perpustakaan kini meningkat. Hingga uang jajan yang biasanya habis untuk main PS kini bisa ditabung untuk membeli buku. Tak tanggung-tanggung buku sekelas terjemahan yang tebalnya cukup untuk dijadikn bantal itu berhasil aku baca dalam waktu 3 minggu. Lama ya, memang dengan begini aku bisa lebih mencintai hidupku. Selain itu saya juga aktif dalam lomba online seperti mengikuti essai, cerpen, puisi. Dan berkat membaca yang ekstra, dalam 1 bulan saja 2 puisi dan 1 cerpen saya sudah lolos bergabung menjadi buku antologi yang diterbitkan secara indie. 
Tips Kiat Cinta Membaca:
Bagi pembaca pemula, hal yang perlu di sadari adalah jangan dulu memilih buku yang tebal-tebal. Hal ini diakibatkan kalian akan merasa bosan dan jenuh. Bacalah dulu buku yang tebalnya 50-100 halaman. Lalu jika sudah terbiasa tingkatkan dari 100-200 halaman begitu seterusnya. Untuk menunjang mood saat membaca, perhatikan tips dibawah ini:
-          Hindari membaca dalam suasana anda bercengkrama dengan orang di sekitar anda, hal ini selain mengganggu konsentrasi anda dalam membaca juga mereka akan risih melihat kondisi anda.
-          Posisikan tempat yang sepi, jiwa yang segar dan pikiran yang tenang dalam membaca
-          Dan yang terakhir, cover buku yang menarik bagi anda dapat membuat mood jadi berapi-api loh. Nggak percaya??? Buktikan dulu dong!!!
Biodata Penulis:
Jef Kenzie. Pemilik nama asli Jefri Setyawan ini lahir pada 27 Juli 1995 di Pasuruan, Jawa Timur. Saat kecil ia sempat mengikuti lomba menulis cerita rakyat lokal. Tetapi, nasib baik belum menghampiri cowok yang tak lepas dari lagu-lagu low end ini. Kini ia menginjakkan kakinya bersekolah di SMAN 1 GRATI. Prestasi yang pernah diraih yaitu finalis antologi cerpen Lelaki Beraroma Ayah, Puisi September dan Antologi 100 puisi, 100 penyair (semuanya masih proses penerbitan). Katanya ia ingin menjadi penulis best quality gitu...
Amin.
 Email dan FB : cute_enemy27@yahoo.co.id
 Twitter           : @jefrei_bj
 No.Hp                        : 087754417749

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites