Translate

Quotes

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”
(Pramoedya Ananta Toer)

Selasa, 06 Maret 2012

Ibu; Dimensi Yang Berbekas


Oleh: Jef Kenzie

Kasih ibu,
Kepada beta
Tak terhingga sepanjang masa
Hanya memberi
tak harap kembali
Bagai sang surya, menyinari dunia.

 Lagu itu, sudah sekian kali keluar dari mulut anak didikku. Membekaskan setetes kerinduan. Sebuah cerita panjang yang terukir dalam riwayatku. Terlalu indah dilupakan, jua sedih bila dikenang.
 “Bu Rina, kok bengong sih?,” ucapan kiki memudarkan lamunanku. Selalu, muridku yang lucu ini mengardik lamunan yang tiap pagi seakan terjadwal.
 “Enggak sayang, ayo semua menyayi lagi. Dengan suara yang lantang ya?” perintahku diikuti mereka. Satu, dua kali suara merdunya menjadi ajang penyaluran rindu pada sosoknya. Ibu, perempuan yang menjadi motivatorku kini.
 Jam pulang yang aku tunggu akhirnya tiba. Seperti biasa, menanti sosok yang seminggu ini tak kujumpai. Sapaan dari ibu-ibu yang mengantar anaknya, kerapkali membuatku iri. Jalanan trotoar yang aku lewati tak kunjung menampakkan sosok itu. Percikan kristal langit menyerbu orang-orang yang tengah barjalan. Ku berlari berharap blazzer abu-abuku tetap kering. Halte yang biasanya sepi, kini terusik kediamannya. Ucapan sumpah serapah keluar dari mulut bapak penjual es teller yang jaraknya tak bisa dikatakan jauh dariku. Gerutunya melengkapi tabuhan langit. Cahaya halilintar membuatku bergidik ngeri.
 Pelataran gereja di depan seakan menggoda memori yang lama kusembunyikan. Kulihat seksama tempat itu. Orang itu, yang aku cari selama ini tengah membenahi dagangannya. Suara petir kian bergemuruh. Hujan begitu egois memberikan jalan antara diam atau maju. Tak kuperdulikan ocehan orang di halte yang memanggilku. Pekatnya rintik hujan membuat softlense yang kupakai lepas.
 “Emak…..!!!,” teriakkanku seakan tertelan hujan. Tubuhnya yang kering bertulang masih tergambar jelas.
 “Mak….!!!,” ucapku seraya memegang bahunya. Tak ada daging yang membalut tubuhnya. Namun bahu yang begitu kokoh identik dengan pekerjaannya sabagai penjual jamu gendong.
 “Mak, panjenengan[1] ingat saya mak?,” beliau mengucek matanya, seakan kabut tebal menutup penglihatannya.
 “Oh, genduk[2]… nduk Rina ya?,” kali ini ia mendudukkanku pada pintu gereja. Lagi-lagi pandangannya tajam. Seakan aku ini adalah kencur yang biasa beliau samakan dengan kunir. Ya, bentuknya sama. Beliau harus melihat dengan seksama agar tak salah meramu jamu dagangannya.
 “Kok mboten teng sekolah Mak?,” beliau tak menjawab. Tangannya menepuk kakinya yang terbalut sewek coklat tua. Aku mengerti, jarak untuk menempuh sekolah sudah tak bisa dikatakan dekat lagi.
 “Laris Mak?,” aku mengambil segelas beras kencur dari tangannya. Tergurat senyum masam yang berarti kali ini beliau harus rugi. Aku memandangi lakat-lekat wajah Mak Yati, alisnya yang tak tertampak lagi menjadi bukti sejarah kota ini. Pikranku menerawang jauh, sedangkan Mak Yati bersendekap memeluk tangannya. Ia silangkan, dan menutup matanya.
 *******
 “Ayo Rin pulang….”
 “Enggeh mak, tak beto’aken[3] mak,” ibuku berjalan menyusuri gang desa. Kebiasaanku sepulang sekolah membatu ibuku berdagang jamu. Tangannya yang ta kuat lagi, membuatku tak kuasa melihat beliau berdagang. Namun, hanya ini jalan kami untuk makan. Seringkali teman-teman mengejek aku terlahir sebagai anak haram. Ayah yang lama kurindukan, nyata sekali tak menginginkanku. Entah semenjak usiaku 4 tahun, ayah pergi dan itu awal ibuku meretas nasib. Namun, tak lama menekuni nasib itu, ibuku meninggal. Liver menahun yang beliau derita membuatku syok. Selama ini tak ada keluhan dari tubuh tegarnya. Semua tersimpan rapi. Sepeninggalan ibuku, kehidupanku sepi. Keseharianku berteman dengan anak-anak yang statusnya sama denganku. Ya, panti asuhan. Usia 5 tahun harus merasakan kasih sayang yang terlupakan.
 *******
Langit Bangka seakan mulai berpijar. Menorehkan pelangi yang diselipkan pada gumpalan awan. Hal seperti ini selalu aku rindukan, ingin bertemu ibuku. Kulihat Mak Yati, sosok penjual jamu yang kerap aku ajak bercerita. Tentang hidupku, tentang ibuku. Hingga beliau cekikikan saat aku menceritakan kebiasaanku menumpahkan jamu buatan ibu.
 “Mak, terang mak!” Mak Yati terbangun perlahan. Entah apa yang ia mimpikan tadi. Mungkin sama halnya denganku, merindukan seseorang.
 “Mak, emak tidak pulang?”
 “Rugi emak Nduk, kalau pulang jam segini,” sembari kulihat tatapan matanya. Masih ada gambaran jamunya akan laku setelah hujan reda.
 “Yowes Mak, Rina wangsul[4] dulu…,” aku jabat tangan Mak Yati. Ya, aku sudah menganggap beliau sebagai ibu kandungku sendiri. Sosoknya yang aku rindukan selalu tersalurkan kepada Mak Yati.
 Kasih ibu..
 Kepada Beta…..
 Tak terhingga sepanjang masa….

 Liri lagu yang diciptakan Pak SM Mochtar seakan bukti cintanya anak kepada ibunya. Lagu itu, terus bergumam menemani langkahku pulang. Saat pelangi itu pudar, aku berharap kerinduanku tetap terjaga. Meski sebatas angan.

Catatan:

1.      Panggilan ‘kamu/anda’ dalam bahasa jawa halus

2.      Panggilan anak cewek dalam bahasa jawa

3.      Dibawa

4.      Pulang

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites