Translate

Quotes

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”
(Pramoedya Ananta Toer)

Rabu, 23 Maret 2011


Nurul Faridah, Penerobos Badai Kehidupan.
Kisah Srikandi SMANEGRA peniti karir dalam lintas pendidikan…

Ketika angin fajar mulai merapatkan dinginnya di sekujur tubuh manusia. Sorot sang mentari tinggal sekilas menantang dibalik pohon. Seketika itu juga gadis kelahiran Pasuruan, 10 mei 1994 ini mulai merangkai aktifitas kesehariannya.
                Nurul Faridah, begitu seluruh dunia akrab memanggilnya. Garis berparas ayu yang merupakan anak ke dua dari tiga bersaudara ini, tinggal di daerah Nguling. Tepatnya di Jl. Pemandian Penunggul, RT/RW: 03/14 Gunungan, Nguling. Perlu menempuh jarak ± 10 km untuk melangkah di SMANEGRA. Namun jarak tak mampu mengalahkan kobar semangat yang melekat di benaknya agar dapat menimba ilmu yang bermanfaat bagi kehidupannya kelak.
                Tinggal pada rangkulan keluarga yang telah bercerai, tak jua tanamkan guratan duka di wajahnya. Meskipun kesendirian kini mulai menghampiri untuk bersahabat. Sejak ia tamat SMP, Sang bunda merantau ke Riyadh, Arab Saudi untuk bekerja menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW) dengan kontrak kerja selama dua tahun. Pekerjaan yang dilakoni ibunda tercinta semata-mata hanya ingin mencukupi kebutuhan hidup. Tujuannya agar ke dua buah hatinya yang masih bersekolah dapat melanjutkan pendidikan hingga tingkat perguruan tinggi.
                Bukan hanya Sang bunda, kehadiran ayah pun tak selalu indahkan hari-harinya. Ayahnya yang bekerja di Brangga hanya menyempatkan diri pulang menengok ke dua buah hatinya setiap tiga atau empat hari sekali. Itupun kehadirannya hanya  memberikan uang Rp 15.000,00 untuk mencukupi kebutuhan makan sehari-hari sekaligus uang saku sekolah yang harus cukup untuk dua hari. Cukup tak cukup harus ia sisakan untuk keperluan lainnya.
                Hidup adalah sebuah perjuangan. Perjuangan untuk melengkapi sebuah keterbatasan. Begitu pula dengan apa yang dilakukan oleh gadis yang bercita-cita menjadi dokter ini. Karena minimnya uang yang di berikan, ia rela harus bekerja sampingan untuk menutupi kekurangannya. Salah satu pekerjaan yang di gelutinya adalah bejualan kerudung yang diambil dari kakak pertamanya yang telah berkeluarga. Selain itu, Nurul juga menjadi pelatih pramuka di SDN NGULING 3 kecamatan Nguling dengan honor Rp 50.000,00 setiap empat kali pertemuan.
                Namun, di tengah lika-liku hidup yang harus dihadapinya, Nurul Faridah mampu melebarkan sayapnya untuk tetap eksis di dunia pendidikan. Berbagi prestasi telah banyak ia torehkan. Ia Sang Juara Olimpiade Matematika tingkat SMP se Kabupaten Pasuruan. Bahkan tidak hanya berkecimpung di Pasuruan saja, ia juga mengukir tinta emasnya di Kabupaten Probolinggo.
                Pernah suatu ketika, jabatan yang di embannya sebagai bendahara kelas berujung pada keresahan. Pasalnya uang LKS ± Rp 1,7 juta raib dicuri salah seorang yang tinggal di Lingkungan rumahnya saat ia hendak mandi. Perasaan panik, kecewa dan bimbang tentu mendera. Sungguh malang sekali nasibnya, tiada orang tua yang seharusnya bisa ia jadikan sandaran beban hidupnya.Tangisan, rintihan dan jeritan hati seakan  menjadi hal biasa bagi gadis ini. Karena  semua itu tertutupi oleh kesabaran dan ketabahannya. Ia ambil uang tabungannya yang ia kumpulkan sedikit demi sedikit dari hasil menjadi pemenang lomba. Dan syukur Alhamdulillah akhirnya uang tersebut bisa tergantikan.
                Setegar-tegarnya batu karang masih bisa tergoyahkan oleh hempasan ombak. Tak beda dengan figur gadis yang satu ini. Setegar-tegarnya seorang Nurul dalam menghadapi badai kehidupan, disisi lain masih tersirat sebuah kerinduan yang membayang dijiwanya. “Sebenarnya, saat saya melakukan sesuatu, saya selalu teringat ibu, tak ingin rasanya melupakan beliau meski hanya sekejap dan meskipun aku tidak merasakan hasil dan uang jerih payah ibuku tidak masalah, yang penting ibuku pulang dengan selamat”, ujarnya saat timred mengunjunginya pada hari Rabu (23/03/2011) lalu.
                Berlarut-larut dalam kesedihan bukanlah cirinya. Untuk menghilangkan rasa rindu pada Sang Ibu, ia alihkan sejenak fikirannya. Dengan mengisi waktu luangnya dengan kegiatan yang positf seperti : les, pembinaan OSN, keja kelompok, berbisnis serta melatih pramuka adalah agenda setiap harinya.
Dari figur seorang Nurul Faridah inilah kita dapat berkaca diri. Menata hari esok untuk menjadi yang lebih baik lagi. Dan perlu kita ingat, perbuatan yang nyata jauh lebih indah dari sekedar kata-kata.

Hilyatul Aulia (XI-BHS)
Jefri Setyawan (X-6)

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites