Translate

Quotes

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”
(Pramoedya Ananta Toer)

This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label PUISI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PUISI. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 Mei 2012

Anak-Anak Senja


Senja..
Adalah titik-titik besar yang memutar
Misteri dan mitosnya adalah sosok yang memerah
Memutar kembali menghubungkan titik-titik
Merombak warna jadi sebuih miniatur pelangi
Sang duplikat yang artinya tersurat

Senja Pertama..
Riuh anak emak bapak
Menyulam titik-titik merah
Tawa ranah ramadhan memukau sanubari

Senja Kedua..
Cerita sebuah pengakuan
Celetuk yang meleburkan suasana
Ada tawa..selalu
Ada Tangis..mungkin
Ada Amarah..setiap
Ramadhan yang terlalu lama bagi mereka..

Senja Ketiga..
Barisan yang dulu ada
Lunglai merangkai titik-titik merah
Teralihkan dalam senja yang bisa mereka sentuh
Merah..
Hijau..
Kuning..
Yang mereka tukar dengan uang jajan..

Senja Terakhir..
Mengkamuflase senja-senja
Merangkai titik-titik merah
Dalam raga dan jiwa
Yang menang melupakan senja
Mereka menatap
Senja baru tak seindah..
Senja Menjelang Tarawih..

Sabtu, 10 Maret 2012

CURAHAN SEORANG KAUM KEPADA NABI-NYA TENTANG NEGERI DI SURGA


Oleh: Jef Kenzie

Yaa Nabi, adakah suatu kaum yang kan temanimu..
Menapaki jalanan yang selalu tersimpan dalam anganku..
Yaa Nabi, apakah diri ini pantas melangkah bersama dirimu..
Mungkinkah, cerita tentangmu dapat kusentuh nyata?
Yaa Nabi, bagaimana bila kuterlalu rindu janji Tuhan-Mu?
Bagaimana bila terlalu lama kumenunggu?
Yaa Nabi, adakah jawaban atas obsesiku?
Sebelum aku melangkah haluan yang nyata bukan jalanmu..

Aku terlalu takut, kapan..
Bila masaku mulai bosan mengingatmu,
Tentang cerita yang mendentingkan nuraini,
Hingga keyakinanku penuh, tapi..
Aku terlalu lemah, untuk..
Membiarkan godaan kini, untuk bersamamu dalam istana kekal-Nya

Yaa Nabi, biarkanlah sebaris puisi ini
Kurangi risauku atas kerinduan jawabmu
Sepanjang tiga musim berlalu..
Aku selalu kekal, berjalan ikuti alurmu..

Senandung Rindu, 8 Februari 2012


SUARA MERDEKA: Kuterlahir Karena Apa Adanya.


Oleh: Jef Kenzie

Kutipanku,
: tukang becak
Kami hidup sendiri.
Keluargaku tak butuh keadilan.
Tak bisa mengenyangkan, hanya repot belakang.
Tak perlu urus kami,
Mengenal hukum hanya mimpi.

Kutipanku,
: pemulung bawang
Aku tak tahu siapa kamu.
Aku tak mengerti abdimu.
Juga, tak perlu buatku tahu.
Hanya perut curahan kasihku.

Kutipanku,
: pedagang kaki lima
yang aku tahu bukan hokum.
Tapi ocehan serdadumu.
Bila tak datang kami untung.
Tapi modal hancur bila ia mengonyak lapakku.
Buatku terserah kamu membawa negeri ini kemana,
yang penting kami tenang dalam panas jalanan.

Kutipanku,
: sopir angkot
Tak ada yang aku takutkan darimu,
Hanya juragan yang kan mengolokku.
Tak perlu bensin membencimu,
secuil kebijakan pun buatku ragu.

Kutipanku,
: sarjana pengangguran
Baru sadar, pendidikan tak penting.
Bukan!
Baru kupaham, kau salah mendidikku.
Hingga aku sekarang, aku tertawa, marah, kecewa dan benci ditindas.
Kau sadar?
Kaumku berjuang pengadilan,
kau tenang dengan bokep paripurna.

Jumat, 09 Maret 2012

NANG-NING-NUNG


Oleh: Jef Kenzie

Kita, secakup lidi pada lumpur.
Integritas penginjak jidat setan.
Menyatukan paradigma kaum mati.
Bersama kentut, engkau,
terlahir dalam mandul, engkau,
berdandan pada pungguk.
Menebarkan kolera.
Kaulah penyandiwara, negeriku,
dan melenggang, telanjangi hak bumi.
Melempar paksa, terkuliti.
Bersama pada riwayat jeruji.
Dan kau, tertawa.
Menarikan lagu kebangsaan konyol.
Kutip otakmu, mandul!.

Kamis, 08 Maret 2012

PADA MALAM 12 ROBIUL AWAL




Oleh: Jef Kenzie
Dalam tasbih yang tersirat jam-jam zikir..
Malam ini ku datang pada-Mu
Sama seperti kali waktu lalu..
Yaa Allah, engkau mungkin bosan akan pertanyaanku..
Tapi, aku juga tahu engkau dzat yang tak pernah bosan dengarkan latah layaknya hamba..
Mungkin kuterlalu cepat mengartikan rasa ini.
Rasa yang sejujurnya ketakutan pada malam-malam sebelumnya.
Yaa Rab, adakah kabar tentang nabiku?
Engkau tahu, ribuan kali kubertanya...
Seperti kali aku yang terdiam menepi pada baris-baris dalilmu..
Yaa Allah, bolehkah kupinta sedikit harap padamu?
Setelah itu, mungkin tak ada lagi pintaku setelah ini,
Matikan aku Ya Rabb,
Matikan nadi yang mengurat ini
Tahukah engkau?
Sudah berapa lama jua kupinta ini?
Ribuan..
Jutaan..
Ah.. Aku tak begitu pintar menghitung keluhku, Yaa Rabb!
Pada malam yang melambaikan robiul awal
Sampaikan rinduku dalam semampai angan sepertiga waktu

Pasuruan, 8 Februari 2012

Selasa, 06 Maret 2012

SEPETIK 'NUR' PADA TEMARAM GANG DOLLY


Oleh: Jef Kenzie

Rindu melangkah
Menapaki ranah terjal
Adakah usaimu tergumam menuju fajar
Hingga tasbih terakhir semakin tergolek antara hitam dan putih?
Seperti seseorang nun kembali dari keterasingan
Ke bumi beradab,
Ada yang mengutuk disini
Tak menutup sana 'tuk membelamu
Berkas rindu mulai menggumpal bersama ruh mu
Menjadi awal atas pengakhiranmu
Lalu wajahmu memanggil
:Kembalilah aku,
Kau memanggilnya dirimu
Tersungkup memeluk iman di ujung temaram

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites