Translate

Quotes

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”
(Pramoedya Ananta Toer)

This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label Kisah Inspiratif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Inspiratif. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Agustus 2013

SEBUAH KISAH: "SEPENGGAL WAKTU IBU DAN AKU"

Saudara/i ku seiman yang dirahmati Allah. Sungguh tak sekali pun kudengarkan muhadharah ini kecuali saya dalam keadaan berlinang airmata, saya terjemahkan untuk kita semua, moga kecintaan pada Ibu selalu diingatkan oleh Allah dalam hati-hati kita selama beliau masih bersama kita..

Ilustrasi
Suatu hari seorang wanita duduk santai bersama suaminya, pernikahan mereka berumur 21 tahun, mereka mulai mengobrol dan ia bertanya kepada suaminya, ”Tidakkah engkau ingin keluar makan malam bersama seorang wanita?”. Suaminya kaget dan berkata,” Siapa? Saya tak memiliki anak juga saudara”. Wanita itupun kembali berkata,” Bersama seorang wanita yang selama 21 tahun tak pernah kau temani makan malam”. Tahukah kalian siapa wanita itu??


Ibunya…

وَقَضَى رَبُّكَ أَلا تَعْبُدُوا إِلا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاهُمَا فَلا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلا

كَرِيمًا * وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”.

(Al Isra’: 23-24)

Wanita itu berkata pada suaminya, ”Selama kita bersama tak pernah engkau bersama ibumu walau sejenak saja, hubungilah beliau, ajak makan malam berdua. Luangkan waktumu untuknya”, suaminya terlihat bingung, seakan-akan ia lupa pada ibunya.

Maka hari itu juga ia menelpon ibunya, menanyakan kabar dan berkata “ Ibu, bagaimana menurut Ibu jika kita habiskan malam ini berdua, kita keluar makan malam. Saya akan menjemput ibu, bersiaplah.” Ibunya heran, ”Anakku, apakah terjadi sesuatu padamu?” jawabnya. ” Tidak ibu,” berulang kali sang ibu bertanya.

“Ibu, malam ini saya ingin keluar bersamamu.” Mengherankan! Ibunya begitu tak percaya namun sangat bahagia.

“Mungkin kita bisa makan malam bersama, bagaimana menurutmu?” Ibunya kembali bertanya, ”Saya keluar bersamamu anakku?”

Ilustrasi
Ibunya seorang janda, ayahnya telah lama wafat, dan anak lelakinya teringat padanya setalah 21 tahun pernikahannya. Hal yang sangat menggembirakannya, begitu lama waktu telah berlalu ia dalam kesendirian, dan datanglah hari ini, anaknya menghubunginya dan mengajaknya bersama. Seolah tak percaya, dia pun bersiap jauh sebelum malam tiba. Tentu, dengan perasaan bahagia yang meluap-luap! Ia menanti kedatangan anaknya.

Laki-laki itupun bercerita: “Setibaku di rumah menjemput ibu, kulihat beliau berdiri di depan pintu rumah menantiku”

Wanita tua… menantinya di depan pintu!

Dan ketika beliau melihatku, segera ia naik ke mobil. Saya melihat wajahnya yang dipenuhi kebahagiaan, beliau tertawa dan memberi salam padaku, memeluk dan menciumku, dan
berkata: "Anakku, tidak ada seorang pun dari keluargaku, tetanggaku yang tidak mengetahui kalau Ibu keluar bersamamu malam ini, saya telah memberitahukan pada mereka semua dan mereka menunggu cerita Ibu sepulang nanti”

Lihat bagaimana jika seorang anak mengingat ibunya!

Sebuah syair berbunyi :

Apakah yang harus kulakukan agar mampu membalas kebaikanmu?

Apakah yang harus kuberikan agar mampu membalas keutamaanmu?

Bagaimanakah kumenghitung kebaikan-kebaikanmu ?

Sungguh dia begitu banyak.. sangat banyak.. dan terlampau banyak!

Dan kami pun berangkat, sepanjang jalan saya pun bercerita dengan ibu, kami mengenang hari-hari yang lalu.

Setiba di restoran, saya baru menyadari bahwa baju yang dikenakan ibu adalah baju terakhir yang Ayah belikan untuknya, setelah 21 tahun saya tak bersamanya tentu pakaian itu terlihat sangat sempit, dan saya pun terus memperhatikan ibuku.

Kami duduk dan datanglah seorang pelayan menanyakan menu makanan yang hendak kami makan, kulihat ibu membaca daftar menu dan sesekali melirik kepadaku, akhirnya kupahami kalau ibuku tak mampu lagi membaca tulisan di kertas itu. Ibuku sudah tua dan matanya tak bisa lagi melihat dengan jelas.

Kubertanya padanya,”Ibu, apakah engkau mau saya bacakan menunya?” Beliau segera mengiyakan dan berkata, “Saya mengingat sewaktu kau masih kecil dulu, saya yang membacakan daftar menu untukmu, sekarang kau membayar utangmu anakku, kau bacakanlah untukku”

Maka sayapun membacakan untuknya, dan demi Allah, kurasakan kebahagiaan merasuki dadaku.

Beberapa waktu datanglah makanan pesanan kami, saya pun mulai memakannya. Tapi ibuku tak menyentuh makanannya, beliau duduk memandangku dengan tatapan bahagia. Karena rasa gembira beliau merasa tak selera untuk makan.

Dan ketika selesai makan, kami pun pulang, dan sungguh, tak pernah kurasakan kebahagian seperti ini setelah bertahun-tahun. Saya telah melalaikan ibuku 21 tahun lamanya.

Setiba di rumah, kutanyakan padanya: “Ibu, bagaimana menurutmu kalau kita mencari waktu lain untuk keluar lagi?” beliau menjawab,” Saya siap kapan saja kau memintaku!”

Maka haripun berlalu, Saya sibuk dengan pekerjaan, dengan perdagangan dan terdengar kabar Ibuku jatuh sakit. Dan beliau selalu menanti malam yang telah kujanjikan. Hari terus berlalu dan sakitnya kian parah. Dan… Ibuku meninggal dan tak ada malam kedua yang kujanjikan padanya.

Setelah beberapa hari, seorang laki-laki menelponku, ternyata dari restoran yang dulu kudatangi bersama ibuku. Dia berkata,”Anda dan istri Anda memiliki kursi dan hidangan makan malam yang telah lunas”

Kami pun ke restoran itu, setiba disana, pelayan itu mengatakan bahwa Ibu telah membayar lunas makanan untuk saya dan istri. Dan menulis sebuah surat berbunyi :

iIlustasi
“Anakku, sungguh saya tahu bahwa tak akan hadir bersamamu untuk kedua kalinya. Namun, saya telah berjanji padamu, maka makan malamlah dengan uangku, saya berharap istrimu telah menggantikanku untuk makan malam bersamamu”

Saya menangis membaca surat ibuku…dimana saya selama ini? dimana cintaku untuk Ibu? 

Selama 21 tahun….

….dikisahkan kembali dari muhadharah syekh Nabil al ‘audhy-hafizhahullahu ta’ala-

Zilzaal


R.A

SEBUAH KISAH, "SELAMAT JALAN ISTRIKU"



Bismillahir-Rahmaanir-Rahim 

Tiba-tiba HP ku berdering, setelah menjawab salam suara diseberang telepon tampak panik “Ayah.. bunda mimisan nich.” Hmm.. kumaklumi kepanikan istriku saat itu karena belum pernah dia mengalami mimisan seperti ini.

Memang cuaca di bulan Agustus 2007 siang itu begitu teriknya. Aku pikir ini akibat cuaca yang terik itu. Kemudian aku sarankan dia untuk segera ke dokter.

Beberapa hari kemudian istriku sakit pilek. Seperti biasanya kalau sakit ia hanya minum obat warung dan jarang sekali mau periksa ke dokter. “ oalah bunda…. ke dokter ajah kok takut,” ledekku, ku sorong pipi kenyalnya dengan ujung jari, ia merajuk bibirnya maju 2 centi, lucu melihatnya seperti itu.

Dua minggu berselang tapi pileknya belum juga hilang. Malah katanya ada yang terasa menyumbat di saluran hidungnya, rasanya tak nyaman dan susah bernafas. “Bun… besok kita ke Rumah Sakit ya! biar ayah ijin masuk siang,” rayuku agar ia mau ke Rumah sakit.

Keesokan harinya saya ajak ia ke RS. Bhakti Yudha Depok. Saat itu dokter THT bilang istriku alergi pada debu dan juga bulu-bulu binatang. Tapi sampai obatnya habis pileknya belum juga ada tanda-tanda kesembuhan.

Anehnya yang sering keluar lendir hanya hidung sebelah kiri saja. Bahkan istriku mulai susah bernafas melalui hidung, ia hanya bisa bernafas melalui mulut. Dan ketika saya membawanya periksa untuk kedua kalinya dokter menyarankan untuk rontgen. Namun dari hasil rontgen tidak terlihat adanya kelainan apapun di hidung istriku.

***
Tanggal 3 Nov 2007 ...

Aku mengajaknya periksa ke RS Proklamasi Jakarta, karena menurut informasi di sini peralatanya lebih lengkap. Ternyata benar, dengan alat penyedot dokter mengeluarkan lendir dari dalam hidung istriku. Senang rasanya melihat ia dapat bernafas dengan lega. “Alhamdulillah…..”

Beberapa hari kemudian sumbatan itu kembali muncul. “Duh..bunda!” Kontrol kedua ke RS. Proklamasi masih saja dokter belum bisa menyampaikan penyakit apa yang dialami istriku ini. Dokter memasukkan kapas basah ke hidung istriku (ternyata itu adalah bius lokal), beberapa saat kemudian sebuah gunting kecil dimasukkan kedalam hidung dan.. “krek” potongan daging kecil diambil.

Belakangan baru aku tau tindakan inilah yang dinamakan biopsi. Tak ada yang disampaikan kepada kami. Dokter menyarankan dilakukan CT Scan. Kemudian kami menuju ke RSCM untuk CT Scan.

Keesokan harinya hasil CT Scan aku bawa kembali ke Dokter RS Proklamasi. Setelah melihat hasil Scan, Dokterpun menyampaikan hasilnya dan juga hasil biopsi dari laboratorium.

“ini ibu positif,” kata dokter sambil menunjukkan foto CT Scan. Nampak ada sebuah massa diantara belakang hidung dan tenggorokan istriku. Cukup besar seukuran kepalan tangan. Aku masih belum mengerti maksud kata-kata nya dan memang sama sekali tak ada pikiran yang aneh aku coba bertanya, “maksudnya apa dok?”

“ibu positif kanker!”

Dek.. seolah detak jantungku berhenti “KANKER…Dok?” Tiba-tiba mataku jadi gelap, sebuah beban berat serasa menindih badanku. Aku diam dan tak bisa berkata apa-apa, lama aku terdiam.

“Kanker..?” tanyaku, tapi kalimat itu tak mampu terucap hanya bersarang di kepalaku. Sebuah penyakit yang selama ini hanya aku kenal lewat informasi dan berita-berita, kini penyakit itupun menghampiri orang terdekatku orang yang paling aku sayangi. Penyakit yang menakutkan itu menyerang istriku.

Kutatap wajah cantik istriku yang dibalut jilbab favoritnya, tenang.. teduh… tak ada ekspresi apa-apa aku makin bingung.
“duhh…bunda apa yang ada dalam fikiranmu bunda…”
“Sekarang bapak ke RSCM ke bagian Radiologi kita harus bertindak cepat,” tiba-tiba aku tersadar. Segera kuambil surat pengantar dokter dan menuju RSCM.

Sungguh tak pernah terpikirkan sedikitpun sebelumnya, kini kami berada dalam deretan orang-orang penderita kanker di ruang tunggu spesialis Radiologi ini. Aroma kecemasan bahkan keputus asaan tergambar di wajah mereka. Sebenarnya ini juga saya rasakan, tapi saya harus menyembunyikan raut ini di hadapan istriku. Aku harus tetap menyuguhkan energi penyemangat padanya.

Dihadapan dokter Radiologi aku bertanya, “sebenarnya istriku kena kanker apa dok?”

“kanker nasofaring.” jawab dokter singkat.

Ya Allah….kanker apa lagi ini? Istilahnya saja aneh bagiku. Kenapa harus istriku yang mengalaminya?

“Tapi Insya Allah masih bisa disembuhkan dengan pengobatan sinar radiasi dan kemoterapy,” dokter mencoba menangkap kegalauan diwajahku.

“Nanti ibu harus menjalani pengobatan radiasi selama 25 kali.”

Terbayang beratnya derita dan kelelahan yang harus dialami istriku. Belum lagi dengan kombinasi pengobatan kemoterapy yang melemahkan fisik.

Keluar dari ruang radiologi seolah semuanya jadi gelap, rasanya aku tak kuat menahan segala beban ini. Segera aku sms family dan teman-teman dekatku, aku kabarkan keadaan istriku dan kumintakan do’a dari mereka. Tak terasa bulir-bulir bening air mata bermunculan disudut mataku.

“Ayah kenapa? nangis yach..?” dengan polos pertanyaan itu keluar dari bibir istriku.

“iya, ayah sayaaang…. sama bunda,” suaraku gemetar.

Ku usap lembut kepala istriku. Ku tepis perlahan tangannya yang mencoba mengusap air mataku, ku gengggam kuat jari-jari lemahnya. Hatiku berbisik “kenapa tak ada kesedihan diwajahmu bunda? apakah bunda ga tau penyakit ini begitu berbahaya? Atau Allah telah memberitahukan ini semua kepadamu?”

“Bunda biasa ajah koq..” Jawabanya malah makin membuatku tak bisa bernafas, air mataku akhirnya jatuh juga.

Kususuri lorong-lorong RSCM dengan langkah lemas tak bertenaga seolah aku melayang, tulang-tulang terasa tak mampu menyangga badanku yang kecil ini.

Tanggal 5 Desember 2007 ...

Mulai hari itu istriku harus dirawat inap di RS. Proklamasi. Semua persiapanpun dilakukan mulai dari USG, Bond Scan dll. Hasilnya rahim masih bersih dan tulangpun normal artinya kankernya belum mejalar ke bagian lain, Alhamdulillah…sempat kuucap kata syukur itu.

Tanggal 8 Desember 2007 ...

Hari ke empat. Sore itu aku dipanggil ke ruang Dokter Sugiono yang akan melakukan Kemoterapy. Dikatakan bahwa kanker istriku stadium 2A dan Insya Allah masih bisa diobati. Istrikupun siap untuk menjalani pengobatan dengan kemoterapy. Kemudian kami minta ijin ke Dokter untuk diperbolehkan pulang sambil mempersiapkan segala sesuatunya.

Malam hari ketika kami di rumah, kami minta pendapat dari pihak keluarga tentang pengobatan yang akan kami lakukan. Dengan berbagai pertimbangan dan alasan pihak keluarga menyarankan agar kami tidak menempuh jalan kemo dan radiasi. Kami disarankan untuk menjalani pengobatan dengan cara alternatif dan pengobatan herbal.

Akhirnya sejak saat itu kami melakukan ikhtiar pegobatan dengan cara alternatif dan minum obat-obat herbal. Karena saat itu istriku sudah susah untuk menelan maka obat herbal yang diberikan tidak berupa kapsul, melainkan berupa rebusan. Setiap hari istriku harus minum ramuan dan rebusan obat-obat herbal yang baunya sangat menyengat. Tapi aku lihat ia dengan telaten dan sabar rutin minum semua obat-obatan itu.

Semangatnya untuk sembuh begitu besar. Doa pun tiada henti kupanjatkan siang dan malam. Dan malam-malamku selalu ku habiskan dengan tahajud dan hajat.

Aku mulai rajin mencari semua informasi yang berhubungan dengan kanker nasofaring, mulai dari makanan, cara pengobatan, bahkan alamat klinik pengobatan alternatif. Semua informasi aku cari melalui internet, koran dan dari rekan-rekan kerja.

Tiga bulan pengobatan, tapi Allah sepertinya belum memberi jalan kesembuhan dengan cara ini, akhirnya obat herbal aku tinggalkan. Bahkan pengobatan alternatif sudah aku tinggalkan sejak 1 bulan pertama karena aku ragu. Beberapa keluarga istri mulai putus asa. Malah ada yang beranggapan penyakit ini adalah kiriman dari orang. Tapi aku bantah semuanya,sempat ada pertentangan di antara kami. Aku yakinkan istriku bahwa ini adalah memang ujian dari Allah,

“Bun..semuanya atas kehendak Allah, bahkan jauh sebelum kita lahir sudah tertulis takdir ini, usia segini bunda sakit, berobat kesini-sini itu semua sudah ada dalam catatan Allah bun. Yang penting sekarang kita jangan lelah berihtiar dan bunda tetep harus semangat untuk sembuh.” Ia mengangguk perlahan.

Berat badan istriku mulai turun drastis karena tak ada asupan makanan, sebelum sakit beratnya 53 Kg kini tinggal 36 Kg. Kondisinya makin parah dan puncaknya ketika aku lihat mata kirinya sudah tak focus. Cara ia melihat seperti orang juling. Menurut Dokter herbal yang menangani istriku inilah rangkaian perjalanan kanker tersebut yang lama kelamaan akan menyerang otak. Dokter menganjurkan untuk segera dibawa ke rumah sakit.

Tanggal 26 Maret 2008 ...

Akhirnya aku kembali membawanya ke Rumah Sakit. Kali ini aku membawanya ke RS. Husni Thamrin. Istriku ditangani oleh team yang terdiri Dokter THT, Dokter Internis dan Dokter spesialis ahli kemoterapy, Kebetulan Dokter Sugiono ahli kemoterapy yang dulu merawat istriku di RS. Proklamasi juga praktek di sini. Dan kini Dokter sugiyono kembali menangani istriku.

Sore itu Dokter memanggilku ke ruangannya. Dokter menjelaskan stadium kanker istriku sudah menjadi 4C, dan kankernya sudah mulai menggerogoti tulang tengkorak penyangga otak. Melihat hasil CT Scan nya aku merinding, terlihat jelas tulang-tulang tengkorak itu keropos layaknya daun termakan ulat. Aku ingin menjerit, “Ya Allah… begitu berat cobaan ini Kau timpakan pada kami”

“Ma’afkan ayah bun, ayah tak mampu menjaga bunda…!”

Yang lebih mengagetkan ketika dokter mengatakan, “kita hanya bisa memperlambat pertumbuhan kankernya bukan mengobati.” Seolah hitungan mundur kematian itu dimulai. Aku limbung dan hampir taksadarkan diri, sekuat tenaga aku mencoba untuk tetap tegar. Dengan dipapah adik aku keluar dari ruang dokter.

Segera aku menuju Mushola kuambil air wudhu dan kujalankan sholat. Entah sholat apa yang kujalankan ini.

“Aku ingin ketenangan aku butuh pertolonganMu ya Robb. Kutumpahkan segala permohonan ini dihadapanMu yaa Allah. Bisa saja dokter memfonis dengan analisanya, tapi Engkaulah yang maha kuasa atas segala sesuatunya. Engkau maha menggenggam semua takdir, sakit ini dariMu ya Allah dan padaMU juga aku mohon obat dan kesembuhannya.”

Segala ikhtiar dan do’a tiada lelah kulakukan tuk kesembuhan istriku. Malam-malamku kulalui dengan sujud panjang disamping bangsal rumah sakit. Kubenamkan wajahku diatas sajadah lebih dalam lagi, tiba-tiba aku merasa tak mimiliki kekuatan apapun, aku berada dalam kepasrahan dan penghambaan yang lemah.

“Robb…Engkau maha mengetahui, betapa segala ihtiar telah kami lakukan. Tiada menyerah kami melawan penyakit ini, kini aku serahkan segalanya padaMu, tidak ada kekuatan yang sanggup mengalahkan kekuatannMu yaa…Robb, Tunjukkan pertolonganMu, beri kesembuhan pada istriku Ya..Allah.”

Saat itu istriku masih bisa bicara meski dengan suara kurang jelas. Karena tenggorokannya pun sudah menyempit tersumbat kanker, ia sangat kesulitan dalam bernafas. Untuk mengantisipasi agar tidak tersumbat saluran nafasnya, dokter menyarankan agar dipasang ventilator dileher istriku. Akupun menyetujuinya meskipun aku tak tega, tapi ini resiko terkecil yang bisa diambil.

Istriku pasrah, dia minta aku menemaninya ke ruang operasi. Aku sangat mengerti ia sangat takut dengan peralatan medis di ruang operasi. Kemudian aku mendampinginya kedalam ruang operasi untuk pemasangan Ventilator. Aku melihat dengan jelas leher istriku disayat kemudian dimasukkan alat bantu pernafasan itu. “Sebenarnya aku tak tega melihatmu seperti ini bunda, tapi inilah yang terbaik untukmu saat ini.”

Selesai pemasangan ventilator bicaranya sudah tak bersuara lagi. Sejak saat itu praktis komunikasi kami hanya dengan isyarat atau terkadang istriku menulisnya pada lembar-lembar catatan kecil yang sengaja aku siapkan. Tentu saja hal ini terasa capek baginya. Namun sekali lagi ia terlihat tegar tak pernah aku mendengar ia mengeluh.

Akhirnya dengan berbagai pertimbangan akupun menyetujui untuk dilakukan kemoterapy terhadap istriku

Tanggal 6 April 2008 ...

Kira-kira jam 12 siang kemo tahap pertama dilakukan. Dengan perasaan tak menentu aku melihat dokter meracik obat dengan perlengkapan pengaman yang lengkap. Karena menurut dokter obat ini memang keras.

“Ya Allah beri kekuatan pada istriku…!” Beri kesembuhan melalui ihtiar obat ini ya Allah..!”

Sepanjang proses pengobatan tak hentinya kupanjatkan do’a dan dzikir dibantu dengan beberapa anggota keluarga.

Menurut Dokter kemo ini dilakukan dalam 3 sampai 5 tahap. Satu tahapan kemo memakan waktu 5 hari kemudian jeda 3 minggu untuk dilanjutkan ke tahap berikutnya.

Hari kedua setelah kemo kurang lebih jam 9 malam, istriku mulai merasa mual dan muntah. Hari ketiga jam 12 malam mulai keluar mimisan dengan darah hitam mengental. Hari ke empat jam 8 pagi ketika saya memandikan dan membersihkan mulutnya yang terus menerus mengeluarkan lendir, terdapat lendir bercampur darah hitam pekat dan mengental.

Menurut dokter ini adalah tanda kankernya sudah mulai hancur. Malam harinya istriku tidur sangat nyenyak dan tidak banyak batuk berdahak seperti hari-hari sebelumnya.

Alhamdulillah kemo tahap pertama selesai. Dokter bilang jika kondisi istriku membaik maka tiga hari lagi boleh pulang. Terlihat wajah cerah istriku ketika mendengar kabar ini. “nanti kalo pulang mau kemana bun.. ke Sawangan apa ke Kebayoran (rumah ibunya)?”

“ke Sawangan aja rumah kita sendiri,” jawabnya melalui secarik kertas. Namun ternyata dua hari kemudian ia mengalami diare yang hebat ini adalah efek samping dari obat kemo, sehingga kondisinya kembali lemas. Rencana pulangpun harus ditunda menunggu kondisinya membaik. Tetapi makin hari kondisi istriku makin drop. Hingga menjelang kemo tahap kedua malah albumin dalam darahnya menurun.

Selama dirawat istriku meminta agar saya sendiri yang memandikannya, bahkan aku juga yang membersihkan kotorannya. Semuanya saya kerjakan dengan telaten karena aku merasa sekarang saatnya untuk membalas semua kebaikan yang telah dilakukannya kepadaku selama ini. Ketika istriku sehat dialah yang selalu merawatku, menemaniku dan selalu menyiapkan semua kebutuhanku.

Selama hampir satu bulan di Rumah Sakit kami merasa menemukan keluarga baru. Keakraban terjalin antara kami dengan team dokter, dengan para suster bahkan juga dengan cleaning service yang tiap hari membersihkan kamar istriku. Saya merasa senang ketika suatu hari istriku dapat tertawa riang bercanda dengan para suster meski tawanya tanpa suara.

Minggu, 4 Mei 2008 ...

Kemo tahap ke 2 dilakukan. Sepertinya Allah benar-benar menguji kesabaranku. Ketika hendak dilakukan kemo, tabung infus 1000cc yang digunakan untuk campuran obat kemo ternyata tidak ada. Rumah sakit kehabisan stock, dan ini adalah sebuah kecorobohan yang mestinya tidak terjadi.

Karena tentunya pihak rumah sakit telah mengetahui jadwal pelaksaan kemo ini. Dokterpun marah. Kemudian Dokter menyarankan saya untuk segera membeli sendiri tabung infus di tempat lain. Tujuan saya adalah RSCM sebagai Rumah sakit terdekat, namun jika menuju RSCM menggunakan kendaraan akan memakan waktu lama karena jalannya memutar. Sayapun berlari ditengah terik matahari pukul 12 siang menuju RSCM. Namun disanapun tidak tersedia, kemudian saya berlari lagi menuju RS Sant Carolus, di sinipun nihil.

Begitu juga ketika saya ke Apotik melawai tak bisa mendapatkannya. Akhirnya saya mendapatkan tabung infus tersebut di Apotik Titimurni RS. Kramat. Akhirnya kemo tahap ke 2 pun dapat dilakukan.

Senin, 5 Mei 2008 ...

Hari ini Dinda anak kami yang kecil ulang tahun ke 4. Perhatian dan kecintaan istriku pada anaknya tak pernah berkurang. Dibatas ketidak berdayaannya dia menuliskan sesuatu, “Ayah jangan lupa beliin hadiah buat Dinda, ayah beliin jaket nanti bunda titip mukena, kasihan mukena dede sudah jelek. Bilang ke dede ini mukena dari bunda.”

Atas permintaan istriku siang itu sebagai tanda syukur kami memotong 2 buah kue ulang tahun yang salah satunya untuk dibagikan ke suster-suster yang jaga. Kemudian istriku minta dibantu turun dari tempat tidur, katanya ingin duduk bareng deket Dinda. Ia mencoba memberikan senyum bahagia pada Dinda dan menyembunyikan rasa sakitnya. Sementara Dinda nampak bahagia dipangku bundanya, mungkin ia mengira bundanya hanya sakit biasa saja. Lagu “selamat ulang tahun” yang kami nyanyikan terdengar getir di telingaku. Terasa pilu aku menatap mereka.

Selasa, 13 Mei 2008 ...

Biasanya jika istriku menginginkan sesuatu ia akan membangunkan saya dengan mengetuk besi tempat tidurnya. Namun malam itu saya merasa sangat ngantuk dan lelah, saya menulis pesan pada istriku, “bun..nanti kalo perlu apa-apa panggil suster aja ya! Ayah ngatuk dan cape, jangan bangunin ayah ya!” Dengan isyarat lemah ia mengiyakan permintaanku, ia mengusap tanganku kemudian menuliskan sesuatu “ayah tidur aja gapapa kok, bunda juga mau istirahat.”

Rabu, 14 Mei 2008 ...

Entah mengapa pagi ini aku sangat ingin merawatnya. Ketika ia kembali diserang diare berkali-kali yang sangat hebat aku sendiri yang membersihkan semuanya. Kemudian memandikannya dan mengganti pakaiannya. Pagi itu aku minta Lia anak sulung kami yang masih duduk di kelas 5 SD untuk menjaga bundanya, sebelum kemudian aku tinggal berangkat kerja.

Siang pukul 11 Lia menelpon “Ayah, bunda pingsan nafasnya cepet banget.” Aku kaget dan sangat khawatir. Selang 15 menit Lia sms “bunda sekarang ada di ruang ICU”. Astaghfirullah haladziim… apa yang terjadi pada istriku. Segera aku minta izin meninggalkan kantor. Di Rumah Sakit aku dapati Lia menangis sesegukan tak berhenti. “bunda yah… tolongin bunda yahh….!”

Kuhampiri istriku yang tergolek taksadarkan diri. Perawat memasang semua peralatan pada tubuh istriku, entah alat apa saja ini. Kuusap perlahan keningnya, dingin sekali. Tangan dan kakinyapun sangat dingin. Hingga menjelang maghrib aku tak beranjak dari sampingnya. Tak hentinya mulut ini memanjatkan doa. Sementara di luar ruang ICU sudah banyak kerabat berdatangan.

Tekanan darahnya sangat rendah dibawah 70. Dokter memberikan obat penguat tekanan darah dengan dosis tinggi. Tekanan darahnya sempat naik namun masih dikisaran 75-80, sangat rendah. Berkali-kali dokter menyuntikkan obat perangsang namun hasilnya tetap sama tak berubah. Dokter memanggilku, perasaanku gelisah tak menentu, campur aduk antara cemas, bimbang dan ketakutan yang amat sangat. Dugaanku benar Dokterpun menyerah.

Melihat kondisinya yang terus menurun ia menyarankan agar semua alat bantu dilepas saja. “maksudnya dok..?” aku menodong penjelasan. “secara medis kondisi ibu sudah tidak dapat ditolong lagi, lebih baik kita do’akan saja.” Aku benar-benar lemas mendengarnya seluruh badanku gemetar merinding “benarkah tak ada lagi harapan.” Tiba-tiba aku merasakan ketakutan yang luar biasa. Aku tak mau menyerah, aku meminta agar semua alat bantu itu tetap terpasang pada tubuh istriku, sambil menunggu keputusan team dokter besok pagi.

“Aku tak mau kehilanganmu bunda.” Ku pegang kuat jemarinya, “buka matamu bunda sebentar saja, ayah ingin menatap mata bening bunda untuk terakhir kalinya,” kubisikan lembut ditelinganya.

Pukul 22, aku disodori surat pernyataan, tak sempat aku baca, kata suster ini adalah Surat persetujuan untuk melepas semua alat bantu dari tubuh istriku. “Tak sanggup aku melakukan ini bun, aku ingin tetap menatap wajahmu, aku ingin tetap mendampingimu meski dalam ketidakberdayaanmu.”

Akhirnya adikku yang menandatanganinya. Aku tak ingin selalu dihinggapi rasa bersalah jika menandatangani surat itu. Kemudian semua alat bantu dilepas dari tubuh istriku, tinggal tersisa alat pendeteksi detak jantung.

“Bun…..inilah yang terbaik yang diberikan Allah buat kita, maafkan ayah bun ayah tak bisa menjaga bunda. Ayah ikhlas bunda pergi, ayah terima semua dengan ihklas bun.. Jangan khawatir bun, ayah akan menjaga dan merawat anak-anak kita,” kubisikan lirih ditelinga istriku.

Kutemui Lia yang menunggu diluar ruang ICU, kubelai rambutnya penuh sayang. Ia menangis keras sejadi-jadinya, mungkin ia paham apa yang kumaksudkan. “Bundaa….. Lia ga mau kehilangan bunda, jangan tinggalin lia bundaa..!!” Tangisnya memekik, merebut perhatian semua orang diruang tunggu ICU ini. Semua mata menatap kami tapi mereka diam seolah mahfum dengan keadaan kami.

Dalam setiap rangkaian doaku tak pernah aku mengucapkan kata-kata menyerah “kalo memang hendak Engkau ambil maka mudahkan,” tak pernah aku menyebut kata-kata itu. Aku selalu minta kesembuhan, kesembuhan karena aku memang menginginkan istriku benar-benar sembuh.

Sepertinya kini aku harus menyerah dan pasrah “Ya.. Robb jika memang Engkau menentukan jalan lain aku ikhlas ya Allah…., mudahkan jalan istriku untuk menghadapmu dengan khusnul khootimah.”

Menurut suster dalam kondisi seperti ini pasien masih bisa mendengar. Kubimbing istriku menyebut kalimat “LAAILAHA ILLALLAH MUHAMMADUR ROSULULLAH..” perlahan aku membimbingnya. Rasanya aku mengerti betul setiap helaan nafasnya, raga kami bagai menyatu. Kuulang hingga berkali-kali dengan helaan nafas yang terirama pelan. Dua bulir bening tersembul dari sudut matanya. Aku merasakan ia sanggup mengikuti kalimat ini, terimakasih ya Allah..!

Kamis, 15 Mei 2008 ...

Aku terbangun ketika tiba-tiba seorang suster memanggil “Keluarga ibu Siti Nurhayati..!” Aku bergegas masuk ke ruang ICU, jam menunjuk Pukul 05.05, masih pagi dengan hawa dingin yang menyusup tulang. “Ma’af pak, ibu sudah tidak ada.” ujar suster tadi singkat. Meski aku tau maksudnya tapi aku masih tak percaya. Kutengok layar monitor yang terhubung ketubuh istriku. Tak ada lagi yang bergerak disana.

Bagai tersambar petir, kudekap tubuh lemas istriku. Bibirnya menoreh segaris senyum. “INNA LILLAAHI WAINNA ILAIHI ROOJIUUN.” Aku lunglai terduduk disampingnya tapi tak ada lagi air mata yang keluar. “Bun, Ayah ikhlas melepas bunda, Allah telah memilihkan jalan terbaik buat kita.”

Selamat Jalan Istriku…… jemput aku dan anak-anak nanti di pintu SurgaNya.

(didapat dari facebook, tertulis sumber : wadi.co.id)

Wallahua’lam bish Shawwab....
Semoga bermanfaat bagi yang membacanya

Selasa, 29 Mei 2012

KONTEMPLASI HITAM PUTIH


KONTEMPLASI HITAM PUTIH
Oleh : Jef Kenzie

Dimana….akan ku cari
 Aku menangis seorang diri
 Hatiku ingin slalu bertemu
 Untukmu aku bernyanyi
 Untuk ayah tercinta, aku ingin bernyanyi
 Walau air mata di pipiku….
 Ayah dengarkanlah, aku ingin berjumpa
 Walau hanya dalam mimpi…..
Bersahabat dengan lagu tak bisa dipungkiri lagi bagi kebanyakan orang. Persamaan nasib yang diceritakan, feel dan juga chemistry mampu membuat kesan tersendiri sebuah lagu. Iya, membuka kembali diorama saat bersama orang-orang yang kita sayang sekalipun.
Saat ini. Ku merindukan jiwa yang entah berapa kali membuat dadaku sesak. Mengembang kempiskan, menahan lalu mengakhirinya dengan air mata. Sepenggal lagu dari Broery Marantika tak ubahnya rasa kerinduanku pada Makhluk-Nya. Bapak.
Pagi ini. Fajar yang tengah mematung membius ruangan kamar berukuran 3x4 meter ini. Pekikan ayam berulang kali menyetrum indera pendengaranku. Syair yang menetes pada lantunan ayat suci Al-Qur'an terlewat sepintas. Semua berjalan tanpa kendali, lenyap tak berbekas.
Ku berlari secepat kilat menghindari serangan itu. Nafasku terengah-engah menahan geli mimik mukanya. Dia masih mengikutiku. Mengekor dan secepat kilat memegangi kakiku. Ku terpekik keras dan berlari kembali. Dia tetap memegangi kakiku. Langkahku terseret pelan membawa beban berat tubuh itu, dan aku terjatuh. Sosok bertubuh hijau mirip hulk di film hollywood menyetrum otakku. Ia menerkam dan menindihku. Ah, nafasku semakin berat. Sekuat tenaga aku mencoba melepas dari makhluk menjijikkan tersebut. "Persetan" berbagai sumpah serapah keluar lebat dari mulut jalang ku. Akhirnya ku bisa keluar dari dekapannya. Ku menatap jalan di depan mata selaksa berlari kembali. Ia mencoba meraih tubuhku kembali, namun gagal. Jalan yang berliku berulang kali kutemui. Tidak mungkin, sudah berapa kali ku memutari jalan tiada berbatas. Semua yang kulewati selalu berakhir pada tempat yang sama. Pohon-pohon yang melihat itu tertawa geli. Rerumputan acapkali mengumbar bisikan menghujat tingkahku. Ah, hidup semakin beringas. Sosok hulk itu tetap mengikuti dengan langkah seribunya. Kembali ku dipaksa untuk menghindar. Aku masih terus berlari. Dia tetap mengejarku, ku teringat pada sosok Suzanna, arwah pembunuh hingga ke akarnya. "Tetapi apa salahku?" berulang kali pertanyaan itu keluar. Di depan mata seketika akar pohon membelai kasar tubuhku. Aku terikat kuat. Sosok hulk itu kini tertawa sadis mirip chucky boneka pembunuh. Ia mendekat dan mengendus tubuhku. Ia sentil hidungku. Sakit!. Lalu dia mencekik leher putihku. Aku tak berdaya dibuatnya. Pasrah. Ia mengangkatku dan memesukkanku pada mulitnya. Happpp....
"Bapak...!!!," ucapanku terucap keras menggema pada sudut kamar.
Aku lega. Mimpi yang sangat seram seumur hidupku kandas. Ku merenungi apa yang barusan terjadi dalam pelarian malam tadi. Tak biasa rupanya. Wajah bapak teringat di ayang-ayang imajinasi. Menari seperti gasing. Entah kenapa bukan wajah emak yang terlintas. Benar,  sejak kecil aku tak mengenal siapa emakku. Sejak kecil ku hidup berdua dengan bapak. Kata bapak emak meninggal saat melahirkan adikku. Kehidupan keluarga kami yang pas-passan membuat bapak rela kerja hingga larut malam. Tujuannya satu. "dadi wong pangkat" itulah yang bapak impikan dari kehadiranku. Aku janji pak. Namun, aku tak bisa tinggal diam. Aku juga tak kalah berjuang demi bapak. Aku tak ingin melihat bapat kecewa kepadaku. Melalui beasiswa yang ku terima ini aku mencoba meringankan beban hidup bapakku. Sejak SMP aku hidup dari beasiswa yang selalu ku dapatkan. Kalau dikatakan pintar, aku justru tak memiliki itu. Aku diajarkan untuk berusaha dan kerja keras oleh bapak sejak kecil. Bapak memang sosok yang ku angan-angankan ketika berkeluarga nantinya. Kulihat jam di handphone menunjukkan waktu 06.00 pagi. Ku melihat juga satu pesan mendarat sejak jam 04.30 pagi tadi. Tertulis pada ikon amplop berwarna kuning dan putih nama bapakku.
"Assalamu'alaikum mas, ayo sholat dulu. Meskipun sesibuk apapun, jangan pernah tinggalkan sholat. Berdo'a sama Allah mas, minta petunjukknya.
Dari: Bapak"
Membaca sms itupun tak terasa air mataku jatuh. Aku semakin bersalah kepada Tuhanku yang telah memberikan kesempatan ini. Juga dengan bapakku, sosok yang ingin ku pelajari. Ingin aku balas sms nya, tapi hatiku tak enak sendiri. Hingga lama ku berpikir ada telepon masuk, kulihat dari bapak.
"Assalamu'alaikum pak!," jawabku menerima panggilannya.
"Wa'alaikum salam mas, gimana kabarnya di Surabaya?"
"Alhamdulillah pak, bapak sendiri gimana?"
"Sama mas, mas tadi sudah sholat?"
"Daaaaarrrrr," suara itu seketika menghujam jantungku. Entah jawaban apa yang harus ku berikan pada orang tua tercintaku ini.
"Hallo mas...," ucap napakku lagi.
"Eh... Iiiya pak, mas belum sholat. Soalnya tadi mas bangun kesiangan pak," ucapku tebata-bata. Ku menanti respon apa yang bakal aku terima.
"Lain kali jangan lupa sholat, perbanyak bersyukur mas," jawabnnya begitu membuatku kedua kalinya meneteskan air mata. Lama kami mengbrol via telepon untuk mengusir rasa kangen kami. Aku berasal dari kota Yogya, entah kenapa aku tertarik dan mendapat beasiswa di universitas terbaik di kota Surabaya ini. Di Yogya aku tinggal bertiga dengan adik dan juga bapakku. Adikku cewek bernama Lasmi, aku sendiri bernama Fadli. Adikku pun juga tak pernah tahu siapa emak kami. Usia kami terpaut setahun. Sekarang aku sedang menginjak pada semester ke delapan. Segala macam urusan skripsi, tesis dan tetek bengeknya sudah rampung ku jalani. Memang terlalu awal bagiku. Namun, aku tak ingin mengulur waktu beberapa bulan hanya untuk urusan skripsi. Cukup satu setengah bulan saja. Karena aku ingin menghabiskan masa kuliahku untuk bekerja paruh waktu disini. Nilai A plus sudah ku kantongi. Itu berarti kurang beberapa bulan lagi aku akan bertemu dengan bapak juga adikku.
Sinar cerah mentari mengilhami penduduk bumi. Baik miskin, kaya juga orang-orang tak bernama. Desisan angin pagi memasuk merasuki seisi kamar kostku. Hari ini hari yang kutunggu tiba. Pakaian hitam dengan topi toga merias tubuhku. Benar, acara wisuda sudah tinggal mengitung beberapa jam lagi. Di kampus suasana riuh peserta membuat sempurnanya acara hari ini. Banyak mahasiswa yang berdatangan dengan kedua orang tuanya. Bahkan dengan rombongan satu keluarga yang memarkir kendaraannya di depan. Melihat itu, aku harus menelan pil pahit. Bapakku tak mungkin menghadiri wisudaku. Ongkos alasan utama bagi orang miskin macam aku. Sudah asap dapur mengepul itu lebih dari cukup bagi kami.
"Iya pak," jawabku menerima panggilan telepon dari bapakku.
"Iya nggak apa-apa pak, pokoknya Fadli Insya' Allah akan menjadi yang terbaik, seperti janji Fadli dulu," jawabku tenang. Kembali air mata merapuh dan menyusuri pipiku.
"Do'akan sukses ya pak," ku akhiri telepon itu. Karena acara proses wisuda akan dimulai.
Lama ku menunggu waktu ikrar sumpah. Memang beribu-ribu orang peserta wisuda ini. Akhirnya, stelah lama menanti, tiba juga waktuku.
Beberapa jam kemudian akhirnya peringkat tiga besar kelulusan dari setiap jurusan diumumkan. Hatiku deg-degan. Ini akan menjadi pil pahit atau mungkin hadiah bagi aku untuk bapak di rumah. Lama sekali menanti jurusan ku disebutkan.
1 menit...
2 menit...
"Baiklah, untuk keputusan selanjutnya akan dibacakan lagi setelah penampilan paduan suara dari Gita Musika Nusantara," ucap pembawa acara itu yang membuatku semakin dag dig dug. jantungku dipermainkan saat itu. Kalau aku pingsan aku pasti kehilangan kesempatan ini. Kalau aku sadar, akankah aku tegar bila keinginanku tak tercapai. Dilema.
"Ya, selanjutnya dari fakultas Ilmu Sosial prodi S1 Ilmu Ekonomi," akhirnya kata-kata itulah yang sedari tadi kutunggu.
Peringkat ketiga sudah.
Peringkat kedua sudah.
"Dan peringkat pertama dengan nilai IPK 3.95 atas nama Nur Eka Fadliansyah putra dari Bapak Hendro Purnomo," sedetik jantungku berhenti mendengar ucapan itu. Derai air mata sahabatku terlihat bahagia. Mereka memelukku. Aku bahagia, tak sadar namaku pun di panggil untuk kedua kalinya menuju mimbar.
"Silakan wali mendampingi putra putrinya," ucapan itu membuatku sakau.
“Aku harus tegar,” ku coba untuk menguatkan diriku sendiri. Aku dengan sigap menuju mimbar meski tak ada wali untukku. Tiba-tiba sosok lelaki yang lama ku rindukan muncul dari barisan tempat duduk para orang tua. Itu bapakku. Air mataku jatuh membumi. Ku dekati beliau, dan ku tuntun menuju mimbar. Beliau memelukku erat. Kulihat wajahnya sembab entah beliau bahagia atau sedih. Tak habis pikir aku dengan apa bapak kesini. Tak mungkin beliau memiliki uang untuk ongkos sedangkan Lasmi membutuhkan uang untuk SPP nya tiap bulan. Apakah mungkin bapak meminjam kepada lintah darat?
Setelah acara prosesi wisuda itu selesai, ku mengajak bapak menuju tempat kostku. Sebelum keluar dari pelataran kampus, kami dikagetkan oleh seseorang yang memanggil namaku.
"Oh, Pak Budi, ada apa pak?," tanyaku dengan sopan. Pak Budi adalah dosen yang  selalu care sama aku. Setiap masalah yang aku hadapi ku ceritakan semua padanya. Keluarganya begitu hangat kepadaku. Apalagi Rehan anak semata wayangnya. Beliau sudah aku anggap sebagai pengganti bapak semenjak aku di Surabaya.
"Oh, ini mas… Pak Budi yang membantu bapak ke sini. Berkat Pak Budi bapak bisa ke sini," ucap bapak sambil menyalami Pak Budi.
"Aduh Pak, terima kasih banyak atas bantuannya," ku melihat rona bahagia dari mereka berdua.
"Iya dli, selamat ya... Jangan lupa kalau sudah sukses suka main kerumah, kasian Rehan tak ada temannya," jawabnya penuh bahagia.
Lama perbincangan yang kami lakukan, Pak Budi mengajak Bapak dan aku menuju depot depan kampus. Di sana kami menghabiskan begitu banyak obrolan mulai dari latar belakang keluarga kami, dan juga kehidupan aku yang bapak ulas layaknya talk show pada Pak Budi. Sementara aku dengan asik menyapa teman sekampus yang tak sengaja bertemu di depot itu. Sudah lama waktu berlalu, entah sejak kapan aku melamun. Terlihat guratan wajah bapak yang terbakar panas bukti tanggung jawab kepada kedua anaknya. Begitu banyak waktu berjalan, banyak pula air mata dan cerita-cerita kehidupan yang mungkin takkan kulupakan sampai nanti. Sampai nanti. Nanti.


BIODATA
Nama Pengirim    : Jefri Setyawan.
Nama Pena      : Jef Kenzie
TTL                       : Pasuruan, 27 Juli 1995.
Alamat               : Jln.Raya Sumurwaru No.19 RT/RW 11/05 Nguling-Pasuruan 67185
No. HP                  : 087754417749
Email dan FB        : cute_enemy27@yahoo.co.id

Selasa, 24 Januari 2012

Karena Kusanggup


KARENA KUSANGGUP...

Semua seperti mimpi. Semenjak kuberkenalan dengan sosok perempuan yang behasil membawaku pada dunia roman. Seperti lembayung senja dan aku terduduk di atas hamparan siluetnya. Lalu perlahan menghilang dan ketika itulah sosoknya jua buatku padam sebagai lilin tuhan.
****
Rabu, 12 Januari 2011...
Masih kuingat, senja sore itu adalah yang terpanjang dari senja biasanya. Senja yang terekam oleh dua sejoli pada awal jumpanya. Dua sejoli itu adalah aku dan dia. Tak perlulah aku menyebut namanya, sebut saja dia "Gadis Senja". Tak ada obrolan menarik untuk ukuran perkenalan pertama. Masih ada perasaan setengah-setengah sekedar mencari keingintahuan masing-masing. Memang terasa canggung bagiku yang memang pendiam. Aku sempat mengutip beberapa kalimat dari mulutnya. Yang justru itu membuat aku tersedak dan mencerna baik-baik kata per kata ucapannya.

Minggu ke-dua  Februari 2011...
Langit Februari meranggas tak ubahnya pohon jati. Kuning merekah sinarnya tajam menusuk pori kulit terkecil sekalipun. Kejadian sebulan lalu, membuat hubunganku dengan "Gadis Senja" semakin erat. Meskipun hubungan SLJJ perantaranya. Ada keinginan yang muncul untuk bertemu. Suatu waktu pernah keluar lagi kutipan itu darinya. Entah sadar atau tidak itu membuat aku kembali dilema. Cukup! Sudah kedua kalinya ia mengucapkannya.
Benar saja, sorenya kami sepakat untuk bertemu kembali. Hal yang tak terduga kembali terucap darinya di tengah lalu lalang jalan raya. Namun, ini beda, bukan kutipan yang terakhir kali lalu. Mendengar itu aku mencoba bersikap sewajarnya. Tak ingin aku kacau dalam keadaan berkendara. Aku beruntung memiliki ilmu sandiwara yang kupelajari di sekolah. Saat itu kulajukan kencang motorku, entah bagaimana hingga bermuara di sebuah pantai.
Sepanjang perjalanan menuju pantai itu, sesekali ia mengagumi panorama yang jarang ia lihat. Memang beberapa kawasan di Pasuruan begitu elok. Tak banyak aku menimpali kegembiraannya. Di pantai itu, ia begitu asyik bermainan dengan ombak. Dalam keadaan kacau, aku lebih memilih diam di atas motor. Aku mengingat kutipan yang masih terekam jelas saat senja dulu.
"Aku tak masalah bila kau tembak (baca: menyatakan cinta) aku saat ini". Hampir seminggu aku mengolah perkataannya. Kutipan pertama yang buatku mendilema.
Hingga tiba ketika aku sudah siap membangun cinta itu, ia kembali meyakinkanku kedua kalinya. "Kapan kau sempat nembak (baca: menyatakan cinta) aku?". Itu kutipan keduanya. Ya, aku mulai percaya akan cintanya. Bagiku, kata awal terlalu singkat untuk memulai entah bagi dia.
Memang setelah pernyataan keduanya itu, aku merasakan perbedaan yang mencolok dari sikapnya. Dari yang biasanya dia sms dulu, semenjak itu harus aku yang mendahului. Namun, perhatian dan kasihnya masih sama seperti biasanya. Lalu, aku beranjak dari kutipan kedua melanjutkan ke ucapannya tadi. Tidak!!! Aku tak ingin mengingat!! Kuamati dirinya yang tengah duduk di batu besar. Sesekali mata kita beradu, dan selalu akulah yang menyudahi. Tak bisa secara terus menerus menatap mata senjanya yang akan buatku canggung. Oh Lebay!! Kembali melewati hamparan alam yang menggoda mata. Tak terasa tangan kiriku menggenggam tangan kirinya. Jalanan menurun, tak kuhiraukan lagi satu tangan untuk menyetir. Hatiku was-was antara pikiran yang berkecamuk selama ini. Berharap ingin menuntaskannya segera. Senja indah menyinari tubuh kami. Kutafsir kala itu masih pukul 05.30 sore. Entah keyakinan apa yang buatku memberhentikan laju motorku. Tepatnya pada tikungan menurun yang begitu tajam. Kumasih berperang dengan pikiranku di atas motor. Sementara ia tengah asyik berfoto. Memang wanita, tak bisa lepas dari naluri narsisnya. Tak lama, ia menghampiriku. Ia mengajak pulang. Lalu, aku mengiyakannya. Namun, kembali kekuatan ajaib itu muncul. Aku balikkan tubuh menghadap kearah wajahnya. Kupengang tangan dan kusapukan mata dari ujung jalanan itu.
"Aku cinta kamu, aku mau cinta ini menyatu" perlu waktu satu menit untuk mengucapkannya. Aku malu, kualihkan wajahku menatap senja yang akan tenggelam. Aku juga sudah siap kata penolakan itu keluar darinya.
"Aku 'tlah menjalin hubungan dengan orang lain, meskipun jarak membentangkan kami, tetapi aku mencoba setia" kembali kutipan ketiga keluar dari mulutnya. Entah kekuatan apa hingga aku berani menyatakan cinta pada gadis yang jelas-jelas sudah menjalin cinta dengan lelaki lain. Tak kusadari ia telah beranjak menjauh dari hadapanku. Tak lama tubuhnya kembali sambil memberikanku setangkai kembang liar dari tepi jalan. Ia mengatakan, apabila ia memberikanku tiga tangkai bahwa ia menerima cintaku. Kami pulang, sepanjang perjalanan belum ada tanda-tanda kembang kedua ia berikan lagi. Harapanku perlahan hilang seiring tenggelamnya senja kami. Kurasakan dekapan tubuhnya menyenderkan kepalanya di bahuku. Aku semakin tak mengerti tingkahnya. Lambat, ia dongakkan lagi kepalanya. Di selipkan dua tangkai kembang itu sekaligus ditangan kiriku.
"Benarkah kau menerimaku?" tanyaku tak percaya. Namun hanya anggukan yang kudapat.
"Lalu, bagaimana seseorangmu di kota lain itu?" tanyaku agak canggung.
Dari kaca spion kulihat ia berfikir sejenak,"Denganmu aku milikmu, disana aku miliknya". Aku kaget mendengar ucapannya. Sosoknya kini buatku ragu. Ia menjalani dua hati, dua kasih yang buatnya kapan saja berubah. Rupanya masalah itu semakin melebar. Aku hanya tersenyum masam. Hatiku terdalam berkata untuk tetap mencintainya. Rasa memang aneh.

Minggu ke-tiga Februari 2011...
Ketika senja itu retak...
Seminggu sudah kisah cintaku berjalan. Sudah tiga hari pula aku tak mendengar kabarnya. Terakhir, ia berpamitan menjenguk pacar pertamanya di kota Blitar. Bagaimana dengan aku?
Entahlah, dibilang kecewa pastinya namun aku seakan bungkam. Apalagi semenjak aku menjadi kekasih gelapnya. Hanya pacarnyalah yang jadi trending topic setiap kami mengobrol. Seringkali pula ia mengatakan bahwa aku tak perlu mencemburuinya. Memang aku tak khawatir ia akan menemui pacarnya. Karena terbilang jarak kota Pasuruan dengan Blitar sangatlah jauh. Tetapi manusia hanya bisa berharap. Selama tiga hari itu, aku tak diizinkan berkomunikasi dengannya. Sekedar telepon bahkan sms pun. Kejamnya terduakan!

Awal Maret 2011...
Senjaku pudar...
Sudah dua minggu setelah hari jadian kami. Aku mencoba menelepon dia. Tepat saat ia tengah belajar untuk persiapan try out menjelang UN. Ya, dia SMA kelas tiga, sedangkan aku baru duduk di kelas satu SMA. Perbedaan usia tak dirasa penghalang hubungan kami. Pacarnya di Blitar ternyata kelas dua SMA. Lama tak berkomunikasi dia begitu wellcome atas sikapku. Tapi aku menyayangkan sikapnya yang seolah aku adalah tetangganya. Tak ada kesannya seperti sepasang kekasih. Tuhan, salahkan jiwa hamba mendapuk dirinya. Ia malah menyuruh aku untuk tak menseriusi hubungan itu. Ya, sepanjang obrolan yang tak menarik itu, terselipkan pujian untuk pacar pertamanya. Sesekali ia menceritakan jaket dan flashdisk serta beberapa barang lain pemberian pacarnya. Mendengar itu, aku sangat kecewa. Tak jarang ia juga memuji fisik "Orang Pertama" tersebut. Dan setiap kali membahas pacarnya, aku selalu menangis. Entahlah, tetapi aku tak mempunyai daya untuk berontak. Karena aku mencintai dia.
"Lalu yang kemarin apa artinya?" tanyaku mengingatkan pada hari aku menyatakan cinta itu.
"Lupakan, aku tak ingin buatmu sakit hati" begitu entengnya dia mengeluarkan kata najis tersebut.
"Aku ingin menghilang dari kalian, ku ingin tenang bersamanya". Aku tercekat mendengar penjelasan yang tak kuduga. Sesekali isakanku terdengar dari ujung teleponnya. Namun, sepertinya sosok gadis senja itu, tak memperdulikan keadaanku. Ia juga mengatakan, bukan hanya aku saja yang sakit hati. Tetapi masih ada seseorang yang lebih sakit hati. Dialah orang pertama yang memacari “Gadis senja” ku. Sehingga jelas sudah, aku bukanlah orang keduanya melainkan ketiga di hatinya. Ia lebih memilih orang kedua di kota Blitar itu.
"Sudahlah dek, aku belajar dulu" hanya itu kalimat terakhir darinya. Ia memanggilku adek, itu artinya tak ada hubungan istimewa lagi antara aku dan dia.
Semenjak peristiwa itu aku tak pernah lagi menghubunginya. Bahkan ia lebih dulu memblokir pertemananku di facebook. Tak ingin kalah start lagi aku mengganti nomor hapeku segera setelah aku mengirimkan sms perpisahan terlebih dulu. Ya, aku tak bisa marah. Toh ini aku yang bermain hati. Keseharianku di sekolah tak semenarik biasanya. Namun, perlahan aku berkat motivasi sahabatku lambat laun aku mampu berkonsentrasi menata masa depanku. Tak kusadari beberapa bulan aku masih menyimpan sesuatu dari “Gadis Senja” itu.
Di dalam toples itu, tiga tangkai bunga telah mengering. Seperti hatiku padanya kini. Kubuang semua tentangnya berharap tak ada lagi virus yang kemungkinan menginfeksiku suatu saat. 

Dalam senja lapang, setiap waktu...
 Sosokku begitu damai. Dalam balutan kehidupan baru. Bermain dan menantikan lagi senja baru. Menyaring dan memasukkannya lagi dalam toples kehidupannya. Senja yang terangi gelapnya sajak-sajak kejujuran.
 

Minggu, 22 Januari 2012

Dari Angkot Hingga Pada Pencapaian


Saya nggak panik. Saya juga heran mengapa saya enggak merasa takut. Padahal, saat itu saya sedang mengelilingi kota bali sendiri dengan angkot. Dan betul, saya NYASAR!!!!!.

Awalnya, tujuan saya adalah toko elektronik, karena baterai kamus elekronik saya habis. Ya, saya kira setelah hampir seminggu di Bali, akan lebih melancarkan conversation yang pas-pasan. Ujung-ujungnya e-kamus pilihan terakhir apabila bercakap dengan turis asing. Sekedar say hello! ato can i help you?. Sebatas itu saja. Padahal saya hanya mendapat libur sepuluh hari dari dua minggu liburan semester gasal.

Nah, toko sebenarnya akan buka jam 09.00. Saat itu masih pukul 07.40. Angkot yang saya tumpangi sebenarnya benar, yaitu kode B. Lah, kok bisa nyasar?

Yak, angkot-nya sudah benar, tapi saya malah pergi ke arah kebalikannya. Alhasil: saya menjauhi arah kota dan entah sekarang berada di mana. Setelah menyadari kebodohan itu, saya pun spontan tertawa. Beberapa orang melihat saya dan mungkin menganggap saya turis aneh tertawa-tawa sendiri. Gini-gini orang pasti menyangka saya orang Korea (ngarep banget!!!!). Bodo amat, dalam hati saya mengucap rasa syukur karena diberikan pengalaman ini. Entah mengapa, saya masih yakin hari itu nggak akan terlupakan.



Hari itu saya terselamatkan oleh seorang mahasiswa disitu yang juga salah satu penumpang di dalam angkot. Dia menjelaskan dengan logat inggrisnya. Mampus benar saya waktu itu. Saya hanya mengangguk menanggapi ucapannya, yang saya simpulkan bahwa saya harus kembali naik angkot yang sama dan berhenti di halte terakhir.

"Terima kasih ya Kak!" gadis itu terkejut mendengar responku, kami tertawa atas kesalah pahaman itu. Ternyata tak salah,wajahku mengalihkan dunianya. Thanks God!



Saya menyusuri jalan yang sama. Arah sebaliknya tentunya. Dengan nomorangkot yang sama, dan supir yang sama. Hal aneh lagi-lagi menghampiriku lagi. Tatapan sopir tadi melihatku dengan nanar dan curiga. "Ya Allah, masak makhluk ciptaanmu ini dicurigai maling!". Maling apa ya? Maling kutang? hehehehe..



Sekitar setengah jam tibalah saya di halte terakhir yang merupakan pusat dari halte di kota tersebut. Kusapukan mata, meneropong toko yang menjual bateraiku ini. Tak butuh waktu lama, saya sudah mendapatkan baterai kamus itu. Sekarang mengobrol dengan orang apapun jadi lebih percaya diri. Saat itu saya putuskan langsung pulang. Khawatir keluarga kakak saya mencari. Tiba-tiba terpikir kemungkinan kalau saya bakal nyasar lagi. Kalau nyasar sampai tempat tujuan sih masih oke, tapi kalau nyasar tak kembali? Duh, terlalu.

Alhasil, saya harus cari orang untuk bertanya. Tentunya orang lokal, kebayang kalau tanya sama bule, bukannya sampai rumah malah nyasar mungkin ke negeri Jiran (lebay!). Kebetulan ada seorang gadis yang dari penampakannya adalah seorang mahasiswi.



Setelah menyapa dan berbicara beberapa saat, saya mulai menyadari bahwa bahasa kami tidak nyambung. Sangat sulit saya memahami bahasa Indonesia yang di campur dengan bahasa daerah Bali. Akhirnya, kami berkomunikasi dengan bahasa awal para manusia: bahasa tubuh. Hasilnya, cukup maksimal, saya harus naik angkot B lagi. Tak lupa saya mengucapkan terima kasih kepada gadis itu. Saya kira mahasiswi kok bawa tas ransel besar, ternyata penjual minyak gosol. Pantas bahasa Indonesianya kurang lancar. Miris!



Bismillah, saya menaiki angkot itu. Mulai deg-degan, karena masih takut nyasar lagi. Sepanjang perjalanan saya hanya diam. Hingga tak merasakan orang di samping saya memanggil-manggil tak jelas. Dia bule. OMG!!! Pasti dia bakal mengajak saya ngobrol. Pasrah saja!



"Hei" jawabku menanggapinya.

"Are you foreign tourist?"

Ya, sebetulnya dia tak perlu menjawabnya, karena saya sudah tahu dia adalah BULE.

"I am domestic tourist, i stay in there for saveral day. Actually i life in East Java. Do you know East Java Mr....?"

What's your name?" tanyaku buru-buru

"George.."jawabnya.



Saya menceritakan ke dia tentang daerah Bali. Meskipun saya juga tak tahu banyak. Lalu, tentang Indonesia dari budayanya, makanan dan kebiasaannya. George begitu antusias ketika saya bercerita tentang kesenian kuda lumping. Meskipun keterbatasan vocab, rupanya George memakluminya. Dan untungnya, keterbatasan saya kala itu kembali terselamatkan. Kuambil handphone dan kuputar video kuda lumping dari mulai tarianya, mulai kesurupan hingga saat makan beling.



George sempat bertanya mengenai sejarah kuda lumping. Nah, disaat seperti ini kelayakan pemuda Indonesia diuji. Nyesel banget jaman SMP guru kesenian saya cueki dulu. Namun, saya menyarankan agar dia mencari sumber yang lebih banyak saja. Seperti buku dan internet. Perjalanan semakin mengasyikkan. Kuketahui George berkebangsaan Jepang. Aneh kan, biasanya orang Jepang namanya Yamamoto, Naruto, Suneo, Nobita, Honda, Yamaha dan apalah itu. George ternyata menikah dengan perempuan Jepang, kalau nggak salah di Toyama-Shi. Dan yang bikin saya terus menggoda Mr. George ini mereka adalah pengantin baru yang lagi honey moon. Oh, so sweet!

Waktu berjalan semakin cepat. Ah tidak, angkotnya yang lebih cepat. Kami harus berpisah. George berhenti di sebuah penginapan.



"Arigatoo Gozaimasu!"

"Iie do Ithasimashite!"jawabku yang artinya 'sama-sama'.

Kami pun harus berpisah.

"Good Luck!" ia menyemangatiku melalui luar jendela.



Tak lama aku sampa juga di rumah keluarga kakakku.

Pengalaman tersebutlah yang berhasil memotivasi saya untuk terus belajar bahasa asing, budaya dan tetek bengeknya. Syukur Alhamdulillah, tahun ini saya mewakili Jawa Timur dalam program exchange student YBA ke tahap seleksi nasional. Namun, saya harus bangga terhenti di seleksi ini. Karena dengan gagalnya saya, kesadaran akan kurangnya ilmu semakin bertambah.







Ingat, dimana kita berada jadilah manusia yang biasa dari kebiasaan anda.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites