Translate

Quotes

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”
(Pramoedya Ananta Toer)

This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label Cerbung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerbung. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 Januari 2012

Lafadz Cinta Kala Senja 2





Entah takut atau malu. Didit dan Lili kembali duduk di kursi guru, mereka berdua tak berani mengeluarkan

sepatah kata apapun. Akupun mulai berbicara. Hatiku sudah kembali dingin.

"Maaf kalau kakak buat kalian takut, kakak cuma ingin kalian niat sekolah. Kalau kalian nggak ada niatan buat sekolah, kasihan oarang tua kalian yang ada dirumah. Apa kalian tidak ingin menjadi orang yang sukses? Apa kalian tidak ingin menjadi orang hebat? Dan menjadi orang yang bisa membuat nasib bangsa ini lebih baik?," suaraku kini mulai mengiba.

"Siapa yang ingin jadi presiden?,"suaraku kini dibalasnya dengan angkat tangan mereka.

"Jadi dokter? Polisi? Guru?," semua pertanyaanku mereka jawab dengan angkat tangan. Lalu kembali ku melanjutkan ocehanku.

"Bagus si Beni ingin jadi polisi, Rita jadi guru, kalau Dina jadi dokter dan semuanya saya do'akan sukses. Tetapi, kalian harus rajin belajar, harus patuh sama guru. Kalau guru menjelaskan harus di perhatikan," ucapanku mirip sekali dengan guru TK ku dulu.

"Janji ya......?????," tambahku dengan mengangkat jari kelingking tanganku.

Bel pulangpun berbunyi. Giliran kelas satu sampai tiga yang memasuki kelas. Tiba-tiba saja aku tak enak badan. Aku meminta izin pulang pada kepala sekolah. Lili rupanya membarengiku sampai ke rumah. Entah kenapa Lili seakan menyihirku untuk mengaguminya. Di tengah perjalanan aku bertemu Salimah yang tengah berangkat sekolah.

"Kok baru berangkat dek?,"tanyaku.

Namun dia tidak membalas pertanyaanku. Aneh sekali.

Sesampainya dirumah Lili membuatkanku semangkok bubur dan jus alpukat. Ia sungguh memperhatikanku layaknya seorang istri.

"Ah....nggak mungkin, aku tak boleh mengingkari janjiku," kembali ku teringat akan pesan bapak ibuku di Jakarta kalau tidak menjalin hubungan sebelum lulus kuliah. Aku benar menghormati beliau.

"Mikirin apa Rey sampai bubur didepanmu tak kau gubris?"

"Nggg...anu, itu...nggg..gak deh,"jawabku bingung.

"Apa, ayo cerita?,"paksa Lili.

"Aaaa...aku suka kamu, aku sayang kamu," tenggorokanku begitu keluh rasanya.

"Aku juga Rey,"jawabnya singkat. Aku semakin bingung. Haruskah aku bahagia karena kami mempunyai rasa yang sama atau sedih karena aku teringat janjiku.

"Terima kasih Li, tapi aku memegang amanah ibu bapakku Li. Aku tak bisa menjalin hubungan selama aku kuliah"

"Tenang Rey, sampai kapanpun aku tetap menunggu waktu itu tiba," Lili memelukku bahagia. Namun aku menyadari seseorang melihat kami dari luar jendela. Lalu orang itu menghilang. Kami menyadari kehadirannya.

Sore harinya kami mempunyai janji untuk mengajari masyarakat desa untuk membatik. Kegiatan ini kami tujukan agar warga disini mempunyai keahlian yang bisa dijadikan modal untuk mencari peruntungan. Setelah sholat ashar aku, Lili, Didit, Arif pergi menuju desa wilayah barat. Sedangkan ke empat teman lainnya berada di wilayah rumah kost kami. Suasana tempat yang akan dijadikan latihan sangat ramai sekali. Banyak dijumpai gerobak-gerobak es yang berjejer di tepi jalan. Semua warga menyambut gembira kedatangan kami. Hampir 50 orang ikut berpartisipasi baik laki-laki maupun perempuan. Tahap pertama menggambar pola selesai. akhirnya tahap yanh ditunggu-tinggupun tiba. Seusai sholat maghrib kami mulai mewarnai kain putih polos itu.

"Melelahkan ya Rif?,"tanyaku.

"Iya, tapi tuh lihat si Lili tetap semangat walau hari semakin malam. Benar-benar cewek yang tangguh. Pantas jika kemarin IP nya 3,77"

"Kau menyukainya Rif?,"tanya Rey khawatir.

"Sepertinya begitu,"jawab Arif sambil ia melihat perubahan muka Rey. Rey berubah pucat pasi.

"Hahahaha...Nggak mungkinlah aku menyukai cewek yang sudah dipesan sahabat sendiri," Arif rupanya menggoda Rey. Mengetahui itu Rey menjitak kepala Arif.

"Sakit tau!!!,"rintih Arif.

"Biarin"

"Jujur Rey, gue suka ama Lili, tapi aku rela melepas rasa ini. Aku lebih memilih persahabatan ini tetap sampai nanti," ucapan Arif hanya dirinya yang tahu.

"Rif, loe sahabat gue yang paling baik. Loe kapan saja bisa jadi abang gue adakalanya juga gue jdi abang loe"

"Thanks Rey. Loe kalau mau curhat tentang Lili harus beliin gue pulsa dulu"

"Songong banget loe, baru dibaikin dikit udah ngelunjak," cibir Rey pada rekannya itu.

"Gue kan abang loe, mau nggak?,"tawar Arif menggoda Rey.

"Iya deh bang"

"Hahahahaha.....," Arif tertawa penuh kemenangan. Namun hati kecilnya begitu hancur ketika ia mengingat kejadian Rey berpelukan dengan Lili. Tapi, bagi dia persahabatan takkan tergantikan dengan apapun.

"Yuk pulang!!!!!," suara Lili mengagetkan mereka berdua.

"Bentar, nunggu Didit dulu," jawab Rey.

"Emang tuh anak kemana?"

"Tuh ngobrol sama ibu-ibu yang diujung sana,"tunjuk Rey kepada ibu-ibu berbaju merah.

"Haahh...itu mah bonsai Rey,"celetuk Arif.

"Gitu-gitu idaman Didit banget,"tambah Rey. Suasana tawa terus menyelimuti mereka.



Pagi hari yang cerah membiuskan warna mentari pada padi yang tengah menguning. Anugerah Tuhan begitu kental terasa hari ini. Para petani turun bekerja memanen padinya dengan semangat 45. Seharian ini kuhabiskan waktuku dalam gubuk tua. Mengamati mereka penuh tawa. Kerja kerasnya hanya untuk mengganjal perut. Aku rindu bapak ibuku. Hingga tetesan air mata tak lumrah sebagai pelengkap lamunanku. Tak terasa sang Mega terlukis pada kanvas langit. Titik-titik aku satukan menampilkan rona ceria. Entah ini harus ku paksakan. Aku tegar atas diriku. Lagu dari ungu "Yang Pertama" ku setel dengan suara yang keras. Suasana ini membuat mood aku begitu sempurna. Kawan, sahabat dan kekasih adalah ilusi nyata, mereka yang ada, ia yang mampu, ialah kenikmatan. Kenarsisanku kambuh, jepretan kamera HP kerap kali menghentikan lagu yang ku setel.

"Kenapa aku bukan senja? Tak mungkin aku alami ini, senja yang indah bahkan warnanya buatku lupa atas diriku. Aku ingin menjadi senja. Tapi mungkinkah?," aku sungguh rapuh atas diriku. Linangan air mata kembali terurai tatkala teringat kawan, sahabat, bapak ibuku juga dengan dia, Lili.

"Ah, ini lagi," ku rogoh celanaku untuk mencari suatu barang yang kubutuhkan. Tetapi nihil. Aku bergegas pulang dengan tubuh sedikit menunduk. Kepalaku pusing namun aku mencoba menguatkan diriku sendiri. Kubuka kamar dan untungnya tak ada siapapun dalam rumah itu. kutemukan barang itu dalam tumpukan baju dalam tas ransel itu.

"Oh Tuhan, kuatkan hambaMu ini," ku kembali terisak tatkala melihat darah kental pada sapu tangan abu-abuku. Segera ku ke kamar mandi dan membersihkan wajah dan hidungku. Darah masih merembes pada hidungku. Kuseka dengan air hangat. Lalu ku cuci kain itu.

"Ngapain Rey, kemana aja loe? Tuh dari tadi Lili nyariin loe," ucap Arif mengagetkanku.

"Loe keluar lagi, aku ambilin obatnya ya?," tawar Arif, ku mengangguk pelan. Aku menderita kanker otak entah sudah stadium berapa. Sudah sebulan yang lalu baru ku mengetahuinya. Dan Arif, hanya ialah yang ku beritahu tentang hal ini. Keluargaku sangat tak kuharapkan tahu akan hal ini. Aku hanya ingin membahagiakan mereka.



Sudah menginjak waktu tiga bulan usia kami di desa ini. Pagi ini kami harus berkemas setelah tadi malam menggelas pisah kenang dengan warga. Bebagai proyek telah kami selesaikan selama tiga bulan terakhir. Dari mulai membatik, mengajari warga menari dan bermain alat musik di sekolah dasar telah kami jalankan dengan baik.

"Aku suka kakak," jawabnya singkat.

"Apa yang kamu sukai dari kakak?"

"Kebaikan kakak. Sejak malam itu aku mulai cinta sama kakak. Dari kakak meminjamkan laptop untukku juga mengajari sekaligus,"jawab gadis itu panjang lebar.

"Maaf dek, kakak sudah mencintai mbak Lili dan itupun perasaan yang tumbuh sudah lama," perjelas aku padanya.

"Kakak sudah menganggap kamu sebagai adik, kakak nggak ingin menjalin hubungan lebih, kakak juga belum pacaran sama mbak Lili, karena kakak ingin kuliah dulu. Adek juga harus sekolah yang rajin......," tambahku panjang lebar. Namun sebelu ku menyelesaikan ceramahku Salimah pergi meninggalkanku yang tengah terpaku di beranda rumah.

"Maaf dek, jika kamu terjebak dalam hubungan ini," gumamku lirih. Dari arah pintu Lili keluar membawa barang-barang kami.

"Hei pemalas, ayo bantuin dong," perintah Lili sambil memasang muka cemberut, ku anggukkan kepala segera.

BRUUUUUUGGGGH.......!!!

Suara itu terdengar seperti sesuatu yang jatuh. Firasatku tak enak, ini pasti ulah Rey lagi. Ku tengok keluar rumah. Disana nampak berserakan barang-barang kami. Dan sosok yang ku kenal tengah mencoba berdiri dari sekumpulan barang tadi.

"Rey!!!! Kau kenapa?,"ternyata dia Rey dan kulihat ia nampak menyembunyikan sesuatu dariku.

"Rey!!! Kau tak apa-apa?,"teriakku sekali lagi, tak ada jawaban darinya.

"Hidungmu Rey! Kenapa sampai....".

BRUUUGGGGHH!!! belum sempat ku melanjutkan pertanyaanku dia kembali terjatuh.





"Dimana aku?," ucapnya membangunkan tidurku.

"Rey, dah bangun loe, tadi loe dibawa ke Rumah Sakit sekalian kita langsung pulang, sakit loe kambuh lagi"

"Perasaan loe tadi ke rumah Pak Lurah Rif?"

"Lili udah tahu Rey, tentang penyakit loe. Sekarang dia pulang, sepertinya dia nggak tega liat loe," ujarku.

"Tapi urusan kita dengan Pak Lurah gimana?,"tanya Rey dengan mata terpejam.

"Didit dan teman-teman lain yang ngurus, loe tenang aja kayak nggak tahu Didit aja, ocehannya kayak penyiar radio saja"

"Emang dia penyiar radio kan?," celetuk Rey lalu disertai tawa kami yang menggema sampai keluar ruangan kelas melati ini.



"Aku siap dok, saya siap apapun resikonya"

"Baiklah, silakan mbk tanda tangan perjanjian ini,"ucap dokter itu sambil menyerahkan kertas itu.

"Mari mbak ikut kami," ajak dokter itu menuju ruangan bersama dua orang perawat.



"Saya terima nikah dan Kawinnya Lili Ambarwati Binti Joko Suyitno dengan mahar tersebut tunai"

"Bagaimana saksi? Sah?,"tanya penghulu itu meyakinkan.

"SAH....SAH....SAH,"teriak saksi-saksi pernikahanku.

Hari ini begitu istimewa bagi pasangan pengantin Rey dan Lili. Hangat senyum terlihat dari rona mereka berdua. Terlihat hadir rekan-rekannya dalam acara itu. Lurah desa Sukamaju yang menjadi tempat magangnya setahun lalu juga terlihat gembira. Kehadiran Didit memandu sorak-sorai tamu undangan memberi suasana tersendiri dalam setiap tutur katanya. Benar-benar sebuah perjuangan cinta yang indah.



5 tahun kemudian......

"Hai anak manis, siapa namanya?," ujar lelaki bertubuh tinggi itu.

"Lala om,"jawabnya pendek.

"Lala anaknya siapa?," tanya lelaki itu kembali.

"Papa ye om," ucapnya dengan gaya cabel.

"Om punya es krim buat Lala nih, rumahnya Lala dimana?", lelaki itu membawa Lala menuju arah yang ditunjuk jemari kecilnya.

"Lala, kemana saja kamu?," ucap Rey cemas.

"Ini pa, om ini kasih Lala Es kyim"

"Anak yang pintar Rey, mirip sekali dengan Lili," sahut lelaki itu. Tatapan mata Rey melihat tajam lelaki itu. Berharap jawaban pasti ia dapatkan.

"Rif, benarkah kau itu?"

"Maaf Rey, aku dulu tak bisa hadir di pernikahanmu. Kamu tahu kan aku tak mungkin menangis melihat wanita yang kucintai bersanding dengan sahabat sejati sepertimu," Arif menitikkan air matanya perlahan.

"Iya Rif tak masalah bagiku,"jawab Rey haru.

"Keman Lili Rey?," Arif mendongakkan kepalanya mnuju seisi dalam rumah.

"Lili meninggal Rif, sudah dua tahun yang lalu. Ketika usia pernikahan kami sudah dua, Lili hamil. Lili meninggal karena melahirkan Lala, Rif. Ia memilih bayi di rahimnya hidup daripada dirinya," penjelasan Rey membuatnya membuka kembali kebaikan Lili selama ini.

"Aku hidup untuk Tuhanku Rey, dalam kehidupan kita harus berkorban, bahkan demi orang yang kita cintai pun"

"Tapi tak seperti ini caranya"

"Aku takkan pernah menyesal Rey dengan keputusanku"

"Li, jika aku ini beban bagimu, engkau boleh tinggalkan aku. Kamu tak sepantasnya sampai seperti kepadaku," ucapku lirih.

"Apa kamu tak ingat Rey, tuhan ciptakan kita bukan untuk pasrah. Tuhan ciptakan kita untuk tegar. Kamu nanti pasti akan merasakan sebuah pengorbanan Rey, percaya padaku!," Lili memegang tangan Rey lalu mengecup keningnya.

"Kamu pasti sembuh Rey"

"Makasih Li," ujar Rey penuh percaya diri.

"Ya, dia memang sosok yang sangat ku kagumi Rey. Tak ada yang berani perempuan lain mengikuti jejaknya,"jawab Arif disertai anggukan dari Rey.

"Tanpa sum-sum tulangnya aku takkan hidup Rif,"ucapnya mengiba.

"Sekarang aku benar mengerti apa yang Lili maksud dari nasehatnya di Rumah Sakit dulu. Adakalanya kita merasakan pengorbanan. Iya, aku harus membesarkan Lala dan mendidiknya seperti sosok ibunya"

"Sungguh beruntung kau," Arif mengusap air matanya. Ia mendekati Lala yang mematung dengan puzzle "Anak manis, om boleh ikut main?," Arif mencoba mendekati Lala.

"Boleh om, tapi..... Om cium Lala dulu dong,"ujarnya memunjuk pipi kirinya.

"Rey, rupanya sifatnya yang satu ini bukan Lili banget,"

"Kalo mirip Lili semua ntar loe naksir anak gue lagi" suara candaan mereka menggema seisi ruangan. Kondisi seperti ini begitu Rey rindukan.

Air matanya mengalir. Aku memejamkan mata, rasanya jiwaku menjadi lega. Aku merasakan kehangatan menelusup dalam relung hatiku. Suara angin berhembus menggerakan daun daun dan pohon, terdengar bagai lantunan musik yang indah ditelingaku. Aku masih punya esok yang cerah.. Merajut hari hari indah tanpa beban.. Jiwaku seakan terbang tinggi.

"Terima Kasih Tuhan, Engkau sempatkan untuk memilikinya" berharap dunia ini kembali indah.

Lafadz Cinta Kala Senja 1


Mentari fajar kembali memperlihatkan sosok yang tegar walau rentah termakan usia. Sinarnya begitu tajam berhamburan layaknya kapas beterbangan tertiup angin. Sederet aurora menghilang sejalan sinarnya yang mulai sepenggalan. Udara segar menjadi idaman para insan yang berniat olah raga atau sekedar jalan kaki. Suara malam masih melekat pada dedaunan yang meneterkan embun paginya. Burung-burung yang masih bertengger pada ranting pohon yang rupanya enggan memulai aktifitasnya. Masih tak terlihat rentetat mobil besar sepanjang jalan in. Bahkan tak satupun yang melintasi. Aku lupa. Iya, aku lupa kalau aku tak lagi berada di kota Jakarta. Suara bising dan lalu lalang kendaraan yang kerap kali kudengar kini sudah tiada. Semua sunyi. Lagu seperti inilah yang selalu kurindukan jauh dalam hati. Bahkan begitu sangat mendalam.

"Rey, ayo cepat!!! Entar kita kesiangan nyampe sana," lamunanku buyar seketika Didit memukul pundakku. Didit adalah teman satu jurusan denganku. Tubuhnya tinggi dan berkacamata. Garis sunda dan Manado yang mengalir pada dirinya membuat siapa saja kaum hawa yang melihat akan terkesima. Dia agaknya sosok pria yang cerewet dan asal blak-blakkan bila berbicara. Namun, tetap asik bila keluar ilmu pelawaknya. Selain itu adapula Desi, Arif, Hendra, Mei, Riska dan juga Lili. Mereka semua adalah kelompok untuk KKN kami. Iya, ini adalah tugas dari universitas kami. Perjalanan menuju desa Sukamaju ini begitu menarik indraku. Sepanjang jalan mataku dimanjakan oleh ladang sawah yang membetang luas. Serta keadaan alamnya yang masih perawan.

"Menakjubk`n!!," ucapku dalam hati.

Langkah kaki yang telah berjalan akhirnya menempuh batas akhir. Rumah-rumah penduduk terpajang di kanan kiri jalan. Bukan, ini bukan seperti rumah. Hampir bangunan disini semuanya dari kayu. Dinding yang kokoh pun tak kujumpai. Ini hampir mirip kandang ternak di kotaku. Bahkan lebih bagus daripada ini. Namun anehnya ada manusia yang terlihat duduk santai di dalam bangunan itu. Bahkan mereka terlihat asik dengan dunia di dalamnya.

Aku hanya diam.

Sepanjang perjalanan ku habiskan dengan berpikir desa ini.

"Permisi pak, rumahnya pak Lurah dimana pak?," tanya Lili kepada salah seorang warga. Lili adalah ketua tim kami. Dia adalah gadis keturunan Pakistan dari abanya. Tapi dia memiliki tubuh yang pendek dibanding teman cewek kami lainnya. Namun kelebihannya dalam akademik tak diragukan lagi. Tak salah bila dia menjadi ketua. Juga menjadi pencuri hatiku. Gadis yang sangat menarik sepertinya, membuatku harus bersaing dengan orang seluruh kampus mendapatkan cintanya. Namun dia adalah tipe cewek yang sulit untuk didekati. Bahkan seperti temanku Arif yang terkenal alim pun.

"Oh, lurus saja dek nanti di kanan jalan ada gapura masuk saja rumahnya yang ada pagarnya," mendengar jawabannya, Lili mengucap terima kasih dan tersenyum pada lelaki paruh baya di depannya. Rupanya lelaki itu membalasnya dengan senyum seindah mungkin. Kecut. Aku menilai senyumnya begitu norak.

."Ah.. Masak aku cemburu sama bapak tadi,"gumamku sinis.

Akhirnya rumah pak lurah ketemu juga. Kami telah menyampaikan tujuan kami untuk melakuan magang kami selama 3 bulan di desa ini. Pak lurah segara mengantarkan kami pada tempat yang akan kami singgahi untuk kegiatan kami. Diarahkannya kami menuju bangunan yang menurutku lumayan layak dihuni. Entah bagaimana bagi teman yang lainnya. Dindingnya dari tembok dan atap rumahnya tertutup genting namun tak ada asbes di bawahnya. Namun, ini justru jauh lebih baik daripada bangunan yang pertama kulihat tadi. Ini berbeda jauh dari angan-anganku. Selaksa ku mengikuti acara reality show yang ditayangkan pada televisi swasta seusai maghrib itu.

"Bener-bener gila, melarat sekali hidup gue,"namun perkataanku ini ku ucapkan dalam hati mengingat aku menjaga perasaan teman yang lainnya. Sepertinya aku menjaga perasaanku hanya kepada Lili saja. Lebih tepatnya begitu.

"Pesetan"............................

Hawa dingin malam ini meraung-raung mencabik tubuhku. Kusibakkan selimut merah jambu berharap dapat memberi kehangatan lebih. Si empunya malam rupanya tetap bersikeras memelukku. Badanku menggeliat ke kiri dan kanan sehingga membuat kisruh teman satu ranjangku.

"Kenapa loe Rey?," pertanyaan Arif itu membuatku tak enak hati untuk menjawabnya. Mulutkupun serasa kaku untuk sekedar berucap sepatah kata.

"Dingin," jawabku singkat.

"Hemmm..."

"Sorry"

"Hemmm" ucapnya lagi.

"Hah, baru sehari disini seperti dikutub saja," gumamku yang segera beranjak keluar dari kamar ini. Kulangkahkan kaki ini dengan gontai.

"Tek..tek..tik..tak..tek..tek"

Suara itu menarik perhatian telinga Rey. Didekatinya suara yang berasal dari ruang tamu itu. Keadaan cahaya penerangan masih menyala.

"Jangan-jangan maling" belum selesai menerka, tiba-tiba dia dikagetkan oleh si empunya suara.

"Hei kak Rey, masih belum tidur?," ucap seorang gadis yang mematung didepan mesin tiknya.

"Dingin"

"Mau kubuatkah teh manis?,"tawar gadis itu.

"Boleh," jawabku singkat.

Segera gadis itu beranjak dari tempat duduknya. Ku melihat apa yang dia lakukan dengan mesin tik yanh sudah tua itu.

"Oh....." gumam Rey sambil menganggukkan kepala. Tak lama kemudian gadis itu sudah meletakkan secangkir teh hangat didepan Rey.

"Thanks ya"

"Iya kak, aku lagi ngerjakan tugas sekolah" jawab gadis itu seraya ia terus memamerkan senyumnya yang menarik.

"iya sudah tau"

"Kenapa nggak pakai laptop saja,"tambahnya.

"Nggak kak, bapak nggak ngasih katanya nunggu kuliah saja boleh," jawab gadis itu yang diketahui namanya adalah Salimah anak Yang masih duduk dibangku kelas dua SMK.

"Pakai punya kakak saja, biar tugasnya cepat," tawar Rey.

"Nggak deh kak, kakak juga ada tugas kan?"

"Nggak papa, pakai aja dulu, bentar aku ambil," Rey segera beranjak menuju kamarnya kembali, disamping itu Salimah terus tersenyum akan kebaikan seorang Rey.



Suara riuh gemercik hujan pagi ini mengguyur ranah Sukamaju. Bahagia dan tawa tergariskan pada senyum muka anak desa. Aku teringat akan cerita suku Indian yang begitu bahagianya bila hujan datang. Sudah beberapa hari kami berada disini. Tetapi belum satupun program kerja yang kami lakukan. Tak satupun. Entah kenapa hujan begitu egoisnya datang tiap kami ingin bekerja. Mungkinkah ini ada hubungannya dengan kedatangan kami. Teringat kembali dengan suatu hikayat. Arwah leluhur tak mengizinkan orang asing untuk menhinjakkan kakinya di tanahnya. Kematian yang misterius kerap terjadi seiring irang asing yang menjajaki tanahnya. Bodoh amat.

"Mau kopi kak?" ujar Salimah mengagetkanku. Aku hanya menjawab tawarannya dengan anggukan saja. Fikiranku begitu memutar, melilit kuat lalu hancur.

Bruuuuaakkkkkk.....

Seluruh isi ruangan itu mendekati sumber suara itu. Nyaris telinga mendengar sebutan nama "Rey" yang selalu diulang-ulang.

"Makan dulu Rey, ini ada bubur buatmu," mataku secar perlahan menerwang gadis didepanku.

"Panas..!!!!," aku membuka mulutku lebar menghembuskan nafas dari dalam untuk mendinginkan bubur yang masih di mulutku.

"Ah...maaf Rey," seketika itu ia tiup mulutku layaknya ibu kepada anaknya. Spontan aku terpaku menyaksikan pemandangan yang indah. Gadis yang ku sayang itu.

Lili tak henti-hentinya meminta maaf sambil meniup bubur di mulutku. Ada rasa enak. Tapi aku tak ingin dianggap lelaki mesum.

"Sudah li, makasih," senyumku padanya meyakinkan kalau aku tidak apa-apa.

"Ini makan lagi," dia terlebih meniup bubur yang ada di sendok.

"Kakak, tidak apa-apakah?," tanya Salimah sambil meletakkan kopi di sebelah meja kasur. Aku menganggukkan kepala pertanda tak terjadi apa-apa kepadaku. Bubur terus Lili suapkan seakan rasanya begitu membuatku ingin terus memakannya. Aneh. Padahal aku anti sama bubur. Ku lihat Salimah sepertinya tidak suka keadaanku dengan Lili. Tak seperti biasanya yang selalu perhatian kepadaku. Ia memilih pergi.

"Perempuan betul-betul aneh," fikrku.

"Ayo, satu sendok lagi" kali ini aku memang tak kuat merasakan enaknya bubur itu. Rasa kecanduan tadi sekarang berubah menjadi rasa yang campur aduk. Ingin mual dan muntah rasanya. Aku tahan, aku gengsi. Aku harus jaga image didepannya.

"Hore... Habis, anak pinter," tawa Lili penuh kemenangan.

"Hueeeeeekkkk"

Houuuuugh"

"Lega......,"melihat aku muntah begitu Lili sangat panik sekali. Diambilnya air botol kemasan ditasnya.

"Minum Rey!!!!,"ucapnya histeris.

"Maaf Li, aku tiba-tiba mual," jelasku.

"Aku yang minta maf Rey, aku terlalu memaksa bubur itu masuk," rintihnya.

"Oh Tuhan, dia wanita yang begitu baik sekali," suara itu hanya aku dan Tuhan yang mendengar. Lili pun bergegas keluar. Hingga tak begitu lama ia kembali masuk ke kamar dengan seorang perempuan paruh baya. Aku tafsir ia adalah mantri desa ini. Ya tepat dugaanku.

"Ini obatnya diminum dua kapsul sekaligus tiga kali sehari dan jangan minum kopi terus beri saja bubur atau jus pisang" ujarnya bu mantri tesebut kepada Lili dan kawanku yang lain.

"Menyebalkan," aku terus saja mengeluh berharap sakit ini tak hinggap terlalu lama. Pasalnya aku tak ingin merepotkan yang lainnya.



Senja kaian berpangku pada peraduan yang memiliki tubuhnya. Suara camar, tiupan angin dan balutan hujan menggema hingga rongga dada. Kabut pelangi merona tak sadar merenggut perhatianku. Sudah tiga hari aku tergeletak di kasur ini. Sudah tiga hari pula dia menjadi motivasi untuk bisa sembuh. Lili Dewanti, nama yang begitu indah.

Hari ini aku mulai mengikuti kegiatan yang direncanakan oleh tim kami. Hampir dua minggu lamanya baru hari ini cuaca terik meneropong desa Sukamaju. Kali ini kami akan datang ke sekolah-sekolah setempat. Kami adalah mahasiswa jurusan Seni dan Budaya yang akan mengenalkan budaya bangsa Indonesia kepada siswa disini. Tak menutup kemungkinan kami ingin mengajarkan kepada warganya tentang kesenian nusantara. Begitu kagetnya kami melihat kondisi sekolahnya yang amburadul itu. Kelas hanya ada tiga ruang dan itu harus ada giliran masuk pagi dan siang. Miris sekali. Namun kami tetap semangat. Jantungku tambah berdebar ketika akan memasuki ruangan kelas empat ini. Hari ini kelas empat sampai enam mendapat giliran masuk pagi. Ini kali pertama aku akan mengajar.

"Tunggu Rey, sama aku ya? Nggak masalah kan Didit?," begitu kagetnya aku seorang Lili meminta untuk begabung dengan kami.

"Nggg...ggak papa kok,"ujarku gugup.

"Ah, silakan saja apa perlu aku yang mengalah?," tambah Didit seraya mencubit punggungku.

Aku mengerti apa maksudnya. Didit memang sahabat sedari dulu selain juga dengan Arif.

"Hah nggak, kita bertiga saja ayo!!!," aku tak bisa membayangkan jika mengajar berdua dengan Lili. Bisa-bisa pingsan aku didalam. Di sela-sela pelajaran hatiku begitu miris sekali. Aku masih tak mempercayai kami adalah generasi yang bakal menggantikan pemimpin negara kelak.

"Ayo, masak nggak ada yang tahu kain khas Indonesia?,"pertanyaan itu kembali diulang oleh Didit.

"Kain kafan kak!!!!," ujar salah seorang siswa lalu disertai dengan teriakan tawa seisi kelas kecuali aku. Ini sungguh tak lucu.

"Hentikan semua!!!! Ini bukan PERMAINAN, ini bukan tempat untuk melawak anak-anak. Kita ini adalah Bangsa yang besar, bangsa yang disegani oleh masyarakat dunia, dan kita? Kita adalah calon pemimpin negara ini, tergantung kita akan dibawa kemana nasib bangsa ini. Sekarang kakak tanya, siapa disini yang mau menjadi orang bodoh?," seluruh siswa melongo.

"Beni kakkkkk!!!!,"ujar anak itu kembali sambil menunjuk siswa yang berada di sudut kelas.

"Hahahahahaha," lagi-lagi suara itu. Suara jeritan hati para pemimpi.

"Sudah diam!!! Kalau kalian tidak mendengarkan kakak kalian akan kakak hukum mengelilingi desa ini," ancamku yang entah kenapa terbesit hal yang begitu aneh. Aku ingin mencoba apa mereka berani melawan kami lagi. Suara kelas sekejap hening. Angin semilir memasuki jendela kawat mendinginkan suasana kelas. Juga dengan aku. Lama aku menatap mata mereka satu-satu. Lalu mereka menunduk.





Apa yang terjadi selanjutnya ?

Menegangkan, dan akankah situai kelas yang tadinya ceria terubah sekejap hanya ''Ke-nasionalime-an'' ook Rey?

Benarkah akan terjadi ''kekeraan dalam dunia penddkan'' ?

Dan, bagaimanakah kelanjutan dari kiah cinta Rey dan Lili?

Cerpen part ke 2 akan mengungkap sesuatu yang begitu mengejutkan Apakah itu?

Simak di LAFADZ CINTA KALA SENJA Part 2.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites