Translate

Quotes

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”
(Pramoedya Ananta Toer)

This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label Karya Tulis Ilmiah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Karya Tulis Ilmiah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 November 2012

Upaya Memberantas Bibit Koruptif di SMA Negeri 1 Grati


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pada tahun 2005, menurut data Political Economic and Risk Consultancy, Indonesia menempati ururtan pertama sebagai negara terkorup di Asia. Jika dilihat dalam kenyataan sehari-hari korupsi hampir terjadi di setiap tingkatan dan aspek kehidupan masyarakat. Mulai dari mengurus Ijin Mendirikan Bangunan, proyek pengadaan di instansi pemerintah sampai proses penegakan hukum.
Tanpa disadari, korupsi muncul dari kebiasaan yang dianggap lumrah dan wajar oleh masyarakat umum. Seperti memberi hadiah kepada pejabat/pegawai negeri atau keluarganya sebagai imbal jasa sebuah pelayanan. Kebiasaan itu dipandang lumrah dilakukan sebagai bagian dari budaya ketimuran. Kebiasaan koruptif ini lama-lama akan menjadi bibit-bibit korupsi yang nyata.
Kebiasaan berperilaku koruptif yang terus berlangsung di kalangan masyarakat salah satunya disebabkan masih sangat kurangnya pemahaman mereka terhadap pengertian korupsi. Selama ini, kosa kata korupsi sudah populer di Indonesia. Hampir semua orang pernah mendengar kata korupsi. Dari mulai rakyat pedalaman, pelajar, mahasiswa, pegawai negeri, orang swasta, aparat penegak hokum sampai pejabat negara. Namun jika ditanyakan kepada mereka kepada mereka apa itu korupsi, jenis perbuatan apa saja yang bisa dikategorikan sebagai tindak pidana korupsi? Hampir dipastikan sangat sedikit yang dapat menjawab secara benar tentang bentuk/jenis korupsi sebagai dimaksud oleh undang-undang.
Munculnya perilaku koruptif berawal dari perjalanan pendidikan yang tidak sempurna. Seseorang yang menjalani proses belajar di bangku sekolah sangatlah rawan menjadi agen korupsi. Sekolah yang memiliki peranan mendidik karakter sesuai dengan pengamalan pancasila nyatanya gagal dalam pemberian sosialisasinya melainkan menjadikan tempat sebagai pendukung pelatihan tindak korupsi seorang individu. Hal ini diperkuat oleh sistem sekolah yang memakai cara konvensional dalam segala kegiatan belajar mengajar. Munculnya kecurangan dalam ujian, tindakan nerimo ing pandum pada Program Intensifikasi Belajar (PIB) juga berbagai macam jenis pelanggaran dalam ujian lainnya. Selain itu, kegiatan curang dalam ujian tidak sepenuhnya dilakukan oleh pelajar melainkan secara tidak langsung tenaga pendidik juga berperan di dalamnya. Dalam kaitannya, dunia politik dan pendidikan sangat berkaitan. Politik Indonesia yang semakin bekembang tentunya berdampak pada lembaga pendidikan yang seharusnya dilakukan perubahan. Sistem pembelajaran yang tidak sesuai dengan situasi politik Indonesia menyebabkan gagalnya fungsi sosialisasi sekolah sebagaimana mestinya. Hal inilah yang selama ini mendukung aksi kegiatan koruptif yang semakin menjadi. Semestinya diperlukan beberapa pembenanahan dalam proses pembelajaran sekolah agar tidak melanjutkan sistem konvensional sebagai cara dalam mendidik siswanya.
Berangkat dari keadaan demikian penulis mengangkat judul “Upaya Memberantas Bibit Koruptif di SMA Negeri 1 Grati” dalam makalah ini.


1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah adalah: “Bagaimana upaya memberantas bibit koruptif di SMA negeri 1 Grati?”





BAB II
METODE PENELITIAN

2.1 Pendekatan Penelitian
Pada penelitian ini kami menggunakan pendekatan kualitatif yaitu pendekatan yang berusaha menangkap kenyataan sosial secara keseluruhan, utuh, dan tuntas sebagai suatu kesatuan kenyataan. Menurut pendekatan ini, objek penelitian dilihat sebagai kenyataan hidup yang dinamis, sehingga dengan penelitian ini data yang diperoleh tidak berupa angka-angka, tetapi lebih banyak deskripsi, ungkapan, atau makna-makna tertentu yang ingin disampaikan. Dalam pendekatan ini kami menggunakan penelitian deskriptif. Deskriptif dimaksud untuk mendeskripsikan suatu situasi. Pendekatan deskriptif juga berarti untuk menjelaskan fenomena atau karakteristik individual, situasi atau kelompok sosial secara akurat.

2.2 Populasi dan sampel
2.2.1 Populasi
  Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian (Arikunto, 2002: 18).
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X, XI dan XII SMA Negeri 1 Grati kabupaten Pasuruan pada tahun 2012 dengan jumlah populasi lebih dari 850 jiwa.


2.2.2 Sampel
Sampel adalah sebagian atau wakil dari populasi yang diteliti (Arikunto, 2002: 109). 
Besar sampel dalam penelitian ini diambil dari populasi kelas X dan XII RSBI yang terdiri dari X-1, X-2, XI-IA 1, XI-IA 2 yang secara akumulatif berjumlah 120 sampel. Hal ini mempertimbangkan pemilihan kelas RSBI sebagai sampel berdasarkan segi manajemen pembelajaran yang lebih baik dari kelas lainnya.

2.3 Metode Pengumpulan Data
2.3.1 Observasi
Metode observasi adalah teknik penelitian dengan melakukan pengamatan subjek kajian secara langsung turun ke lapangan untuk mengkaji subjek kajian secara spontan dan alamiah. Melalui inilah peneliti berusaha menjelaskan realitas dengan berusaha memperkecil atau bahkan menghilangkan subjektivitas peneliti.
2.3.2 Interview
Metode interview adalah wawancara atau dialog yang dilakukan oleh peneliti dan subjek penelitian yang bersifat dua arah, adapun pertanyaan telah terlebih dahulu disistematisasi sesuai dengan tema penelitian, pertanyaan secara fleksibel dapat berubah sesuai dengan arah pembicaraan agar tidak menimbulkan kecanggungan subjek kajian.






BAB III
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil Penelitian
3.1.1 Ulangan Harian
Kebiasaan mencontek yang semakin lumrah serta berbagai banyaknya modus/cara mencontek yang lebih canggih. Hal ini berdasarkan pengamatan merupakan kecenderungan untuk menghindari nilai mati (< KKM). Namun dalam perkembangannya menghindari nilai mati bukan lagi yang dinomor satukan, melainkan meraih nilai sempurna atas dasar “gengsi” antar sesama teman. 
Disisi lain, perbedaan nilai yang mencolok antar teman sepermainan membuat “si-oknum” memakai berbagai cara agar nilai dalam berbagai ulangan hariannya terangkat, minimal sama dengan temannya.

3.1.2 Ujian Tengah Semester
Merupakan kasus kecurangan terbaik sepanjang masa sekolah saya. Semua berlomba-lomba memiliki nilai sempurna baik melalui cara yang benar bahkan tidak sedikit melalui cara yang kotor. Hal ini didasarkan pada rasio mereka bahwa “UTS tidak ada remidi dan orangtua mengetahui nilai asli mereka, jadi UTS harus bagus”, sehingga pemikiran seperti yang sudah tertanam ini semakin memperparah kasus kecurangan yang masih belum tertuntaskan. Saya menemukan berbagai kejanggalan yang tidak hanya dilakukan oleh siswa, melainkan melalui “oknum” guru sendiri. Seperti, membiarkan kerjasama dalam situasi ujian berlangsung. Pada Ujian Tengah Semester diberlakukan penulisan presentase nilai kejujuran dalam pengerjaannya. Pemberian nilai 100% berarti siswa mengikuti ujian dengan sikap jujur tanpa melakukan kontak kecurangan. Berbeda dengan nilai 98% atau 75% ini dihitung sebagai kasus kecurangan meskipun tingkat kejujurannya tidak menurun drastis. Artinya, selain 100% maka telah melakukan kecurangan. Tolak ukur ujian tulis sebagai sistem acuan kemampuan siswa membuktikan sudah tidak cocok lagi digunakan. Berdasarkan data yang didapat pada pelajaran bahasa Inggris, tingkat kecurangan pada sampel lima kelas adalah sebagai berikut:
No. Kelas Jumlah Siswa Jumlah Kejujuran 100% % Kejujuran Tiap Kelas
1.     X-2              30                           5                                         16,6%
2.    XI IA 1         30                           4                                         13,3%
3.    XI IA 2         30                           6                                          20%
4. X-1              30                           8                                         26,6%
Total Responden  120 Siswa       23 Siswa                               19,1 %

Kesimpulan:
Dari jumlah total 120 sampel didapat tingkat kejujuran 19,1 %. Dengan demikian,  Ujian Tengah Semester dengan sistem tulis, sudah tidak cocok digunakan. Hal ini mengindikasikan sebanyak 80,9 % melakukan kecurangan. Jadi, kesimpulan dari hal ini ialah Ujian Tengan Semester dengan sistem ujian tulis mampu mendorong tingkat perilaku koruptif sebesar yang telah disebutkan diatas. 

3.1.3 Program Intensifikasi Belajar (PIB)
Opini saya selama mengikuti kegiatan PIB ini adalah sangat sia-sia. Alasannya: Sistem PIB lebih ditekankan pada pengerjaan soal yang terbilang materi kelas 10-12 dimana dominan siswa akan mengalami kesulitan dan akhirnya banyaknya waktu yang disediakan terhabiskan hanya dengan obrolan semata. Tidak ada usaha dalam menjawab soal PIB. Kegiatan dan tradisi mencontek masih berlanjut. Hal ini berlatar belakangkan bahwa hasil PIB “tidak akan” mempengaruhi nilai raport mereka. Kesimpulannya, PIB bukan jawaban yang efektif bagi pengukuran tingkat kejujuran maupun tahap pelatihan persiapan menghadapi Ujian Nasional. Karena PIB berkesan lebih memberikan porsi pengerjaan soal lebih banyak ketimbang waktu pembahasan yang relatif singkat.

3.1.4 Kantin Kejujuran
Kantin kejujuran merupakan upaya agar para pengunjung khususnya siswa di lingkungan SMA Negeri 1 Grati berperilaku jujur. Kantin kejujuran adalah kantin yang menjual makanan kecil dan minuman maupun alat tulis. Kantin kejujuran tidak memiliki penjual dan tidak dijaga. Barang dipajang dalam kantin (etalase). Dalam kantin tersedia kotak uang, yang berguna menampung pembayaran dari yang membeli makanan atau minuman. Bila ada kembalian, pengunjung mengambil dan menghitung sendiri uang kembalian dari dalam kotak tersebut. Di kantin ini, kesadaran pengunjung sangat dituntut untuk berbelanja dengan membayar dan mengambil uang kembalian jika memang berlebih, tanpa harus diawasi oleh  pegawai kantin. Namun dalam praktiknya, kantin kejujuran SMA Negeri 1 Grati yang dijalankan setelah dua hari peresmian sudah mendapatkan kerugian. Dari sinilah, selayaknya generasi muda berkaca, ternyata kejujuran untuk masyarakat SMA Negeri 1 Grati masih mahal harganya.

3.2 Pembahasan
Melihat latar belakang diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa permasalahan yang dihadapi ialah:
1. Kecurangan berorientasi pada nilai
2. Kecurangan berorientasi pada rasa malu dalam teman sepermainan
3. Tindakan guru yang membiarkan siswa berkerja sama dan memukul nilai sama rata juga merupakan tindakan kecurangan.
4. Kecurangan berawal dari adanya kesempatan
5. Kebijakan sistem yang tidak sesuai

3.2.1 Oral Test
Oral test (Ujian Lisan) merupakan bentuk ujian yang dilakukan secara langsung face to face (bertatap muka) dengan penilai. Ujian lisan ini sudah banyak dikenal sejak dulu. Namun penerapannya yang dirasa rumit, membuat metode ini jarang dipakai.

Keuntungan bagi tenaga pengajar:

  • Efisiensi dan efektifitas seorang pengajar untuk memberikan nilai, karena nilai akan lebih cepat diketahui.
  • Pelaksanaannya begitu sederhana. 
  • Pengajar lebih mengetahui masing-masing kemampuan siswa hingga mampu memberikan pengayaan dan perhatian yang seimbang terhadap setiap siswanya.
  • Turut menciptakan karakter jujur dalam pendidikan. Bayangkan bila dalam ujian masih menggunakan sistem konvensional. Setiap pertemuan 2x45 menit. Pengajar akan meluangkan waktu sepuluh menit untuk membacakan soal, sementara untuk 80 menit yang tersisa akan dimanfaat sebaiknya oleh setiap siswa untuk mengerjakan soal. Tidak menutup 80 menit tersebut untuk melakukan kecurangan. Dan siapa yang ikut andil?

Keuntungan bagi pelajar: 
  • Siswa mampu mengetahui kemampuan aslinya.
  • Siswa akan berusaha untuk menjadi terbaik hanya dengan kemampuan dirinya, karena ia tidak akan mampu meminta bantuan teman lainnya.
  • Siswa lebih termotivasi berbuat lebih baik karena tekanan “gengsi” untuk menghindari dari nilai buruk.
  • Siswa merasa lebih dihargai dan diperhatikan apabila mendapatkan pengayaan dan perhatian khusus pengajar.
  • Tidak ada konflik antar siswa yang menggunakan cara baik dan siswa yang menggunakan cara kotor dalam hasil ujian, karena setiap siswa lebih mengetahui masing-masing kemampuan kompetitornya.




Kelemahan bagi tenaga pengajar:

  • Oral test tidak bisa diterapkan pada pelajaran tertentu, yang membutuhkan keterampilan untuk berhitung (bukan penalaran). Tidak cocok untuk pelajaran eksak..
  • Membutuhkan manajemen waktu yang baik.

 Kelemahan bagi pelajar:

  • Sebagian siswa yang mempunyai karakteristik pendiam cenderung kurang bisa beradaptasi dengan sistem ini.



3.2.2 Online Test
Banyak cara diupayakan untuk mempermudah pelaksanaan tes, salah satunya adalah mengadakan tes online. Tes online dilakukan dengan menggunakan media komputer dan internet.Pelaksanaan tes online ini pada dasarnya sama seperti tes yang dilakukan seperti biasanya. Soal tes dapat berbentuk:
- Benar Salah
- Pilihan Ganda
- Menjodohkan
- Mengisi
Namun dengan tes online, banyak kelebihan yang dapat diperoleh, seperti soal yang urutan nomornya dapat diacak, jumlah pilihan yang dapat disesuaikan, hasil tes (untuk bentuk tes tertentu) yang dapat diketahui secara langsung setelah tes selesai dilakukan, dan masih banyak kemampuan lainnya.

Kelebihan bagi tenaga pengajar:

  • Semua bidang studi bisa dijalankan dengan sistem ini. Bidang studi yang membutuhkan perhitungan lebih cocok digunakan dengan sistem online test.
  • Tenaga pengajar mampu mengevaluasi setiap butir soal dari jawaban siswa
  • Memberikan kemudahan dalam pengolahan nilai, karena nilai ujian dapat diketahui saat itu juga.

Kelebihan bagi siswa: 
  • Siswa mampu melatih kemandiriannya dalam menjawab butir soal karena setiap unit computer yang dipegang siswa memiliki soal yang berbeda.
  • Penilaian cenderung terbuka, demokratis dan transparan.


Kelemahan bagi pengajar dan sekolah:

  • Sekolah perlu menyiapakan akses sistem informasi yang baik, agar tidak terjadi gangguan dalam ujian berlangsung.
  • Apabila memakai laboratorium sekolah, perlu memiliki manajemen waktu yang baik.
  • Tidak semua guru mampu mengoperasikan sistem ini.
  • Masih terbuka kesempatan untuk mencontek, bertanya dan melakukan kecurangan lainnya, seperti membuka buku atau lainnya.
Kelemahan bagi siswa:
  • Tidak semua siswa memiliki komputer. 





3.2.3 Peningkatan Standar Ujian Nasional
Sangat disadari oleh berbagai pihak, kecurangan pada penyelenggaraan UN 2012 masih terjadi. Kecurangan baik bersifat teknis maupun non teknis tidak dapat dihindari. Kecurangan ini ada yang terpublikasikan secara luas. Namun, ternyata lebih banyak yang tidak dipublikasikan. Hal ini karena berlangsung pada lingkaran orang-orang yang memiliki kepentingan sama. Sehingga lenyap ditelan bumi. Dalam konteks inilah, pemerintah mengeluarkan kebijakan menggunakan 20 paket soal UN. Kebijakan ini dikeluarkan untuk mengurangi kecurangan dan mengintegrasikan hasil UN sebagai instrumen untuk masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN). 

3.2.4 Penerapan Kembali PMP (Pendidikan Moral Pancasila)
Diperlukan upaya yang signifikan melalui pendidikan sejak dini untuk menyelamatkan Pancasila. Untuk itu salah satu cara adalah menghidupkan kembali Pendidikan Moral Pancasila (PMP) di sekolah. Hancurnya nilai-nilai Pancasila saat ini, lebih dikarenakan bobroknya moral para pejabat penyelenggara negara. Kondisi seperti ini, sudah sangat mengkhawatirkan, sehingga sangat berpengaruh terhadap kondisi negara yang berujung pada ketidakadilan. Yang dirugikan, adalah rakyat jelata, baik secara ekonomi, pendidikan, maupun hokum. Pengkhianatan Pancasila itu, tidak saja terhadap Sila Kedua, yakni "Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, dan Sila Kelima "Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia", tetapi sudah mencakup seluruh sila yang ada.
 Sila Pertama, juga sudah dikhianati, dimana seluruh elemen masyarakat, baik di tingkat elit, maupun di tingkat akar rumput, tampak sudah menjadi bagian dari pengkhianatan itu. Seperti soal lunturnya sikap toleransi beragama dengan munculnya konflik antar agama yang belakangan marak terjadi.





BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan sebelumnya, maka kami dapat mengambil kesimpulan bahwa:
1. Tingkat kecurangan pada Ujian Tengah Semester siswa SMA Negeri 1 Grati mencapai 80,9 % yang berakibat semakin tingginya perilaku koruptif siswanya.
2. Kantin kejujuran mengalami kerugian setelah dua hari beroperasi.
3. Upaya metode oral test maupun online test mampu dijadikan alternatif pengganti ujian tulis yang sudah tidak sesuai dengan kondisi siswa SMA Negeri 1 Grati berdasarkan rasio perbandingan kejujuran dalam Ujian Tengah Semester,
4. Pengembangan paket 20 soal merupakan upaya pemerintah dalam pemberantasan perilaku curang dalam Ujian Nasional.
5. Penerapan kembali mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila merupakan peningkatan fungdi dari mata pelajaran PKn selama ini.

4.2 Saran
Mengingat betapa banyaknya kekurangan dalam makalah ini, untuk kesempurnaannya kami sebagai penyusun mengharap berbagai kritikan dari pembaca agar berguna bagi kami ke depannya.


DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, 2002. Prosedur Penelitian Pendekatan Praktek (Edisi Revisi V). Jakarta: Rineka Cipta

Jauhari, Heri.2010. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (Edisi Revisi). Bandung: 
Pustka Setia

KPK, 2006. Memahami untuk Membasmi (Buku Saku untuk Memahami Tindak Pidana Korupsi). Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi

Senin, 05 November 2012

Ujian Lisan (Oral Test) sebagai Media Kontrol Kejujuran Pelajar SMA Negeri 1 Grati


Judul: 

 Ujian Lisan (Oral Test) sebagai Media Kontrol Kejujuran Pelajar SMA Negeri 1 Grati


Latar Belakang:

• Ulangan harian. Kebiasaan mencontek yang semakin lumrah serta berbagai banyaknya modus/cara mencontek yang lebih canggih. Hal ini berdasarkan pengamatan merupakan kecenderungan untuk menghindari nilai mati (< KKM). Namun dalam perkembangannya menghindari nilai mati bukan lagi yang dinomor satukan, melainkan meraih nilai sempurna atas dasar “gengsi” antar sesama teman. 
Disisi lain, perbedaan nilai yang mencolok antar teman sepermainan membuat “si-oknum” memakai berbagai cara agar nilai dalam berbagai ulangan hariannya terangkat, minimal sama dengan temannya.

• Ujian Tengah Semester. Merupakan kasus kecurangan terbaik sepanjang masa sekolah saya. Semua berlomba-lomba memiliki nilai sempurna baik melalui cara yang benar bahkan tidak sedikit melalui cara yang kotor. Hal ini didasarkan pada rasio mereka bahwa “UTS tidak ada remidi dan orangtua mengetahui nilai asli mereka, jadi UTS harus bagus”, sehingga pemikiran seperti yang sudah tertanam ini semakin memperparah kasus kecurangan yang masih belum tertuntaskan. Saya menemukan berbagai kejanggalan yang tidak hanya dilakukan oleh siswa, melainkan melalui “oknum” guru sendiri. Seperti, membiarkan kerjasama dalam situasi ujian berlangsung. Tidak hanya itu, salah satu nilai UTS mata pelajaran hampir kebanyak satu kelas dipukul sama rata. Rata-rata berkisar diantara 75-80. Hal ini berbeda bila dilihat dari segi soal ujian yang masih terbilang mudah, dan mampu siswa prediksikan meraih nilai kisaran 90.

• PIB (Program Intensifikasi Belajar). Opini saya selama mengikuti kegiatan PIB ini adalah sangat sia-sia. Alasannya: Sistem PIB lebih ditekankan pada pengerjaan soal yang terbilang materi kelas 10-12 dimana dominan siswa akan mengalami kesulitan dan akhirnya banyaknya waktu yang disediakan terhabiskan hanya dengan obrolan semata. Tidak ada usaha dalam menjawab soal PIB. Kegiatan dan tradisi mencontek masih berlanjut. Hal ini berlatar belakangkan  bahwa hasil PIB “tidak akan” mempengaruhi nilai raport mereka. Kesimpulannya, PIB bukan jawaban yang efektif bagi pengukuran tingkat kejujuran maupun tahap pelatihan persiapan menghadapi Ujian Nasional. Karena PIB berkesan lebih memberikan porsi pengerjaan soal lebih banyak ketimbang waktu pembahasan yang relatif singkat.


Pembahasan:

Melihat latar belakang diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa permasalahan yang dihadapi ialah:

1. Kecurangan berorientasi pada nilai ujian
2. Kecurangan berorientasi pada rasa malu dalam teman sepermainan
3. Tidakan guru yang membiarkan siswa berkerja sama dan memukul nilai sama rata juga merupakan tindakan kecurangan.


Keuntungan sistem Oral Test bagi tenaga pengajar:

1. Efisiensi dan efektifitas seorang pengajar untuk memberikan nilai, karena nilai akan lebih cepat diketahui.
2. Pelaksanaannya begitu sederhana. 
3. Pengajar lebih mengetahui masing-masing kemampuan siswa hingga mampu memberikan pengayaan dan perhatian yang seimbang terhadap setiap siswanya.
4. Turut menciptakan karakter jujur dalam pendidikan. Bayangkan bila dalam ujian masih menggunakan sistem konvensional. Setiap pertemuan 2x45 menit. Pengajar akan meluangkan waktu sepuluh menit untuk membacakan soal, sementara untuk 80 menit yang tersisa akan dimanfaat sebaiknya oleh setiap siswa untuk mengerjakan soal. Tidak menutup 80 menit tersebut untuk melakukan kecurangan. Dan siapa yang ikut andil?

Keuntungan sistem Oral Test bagi siswa:

1. Siswa mampu mengetahui kemampuan aslinya.
2. Siswa akan berusaha untuk menjadi terbaik hanya dengan kemampuan dirinya, karena ia tidak akan mampu meminta bantuan teman lainnya.
3. Siswa lebih termotivasi berbuat lebih baik karena tekanan “gengsi” untuk menghindari dari nilai buruk.
4. Siswa merasa lebih dihargai dan diperhatikan apabila mendapatkan pengayaan dan perhatian khusus pengajar.
5. Tidak ada konflik antar siswa yang menggunakan cara baik dan siswa yang menggunakan cara kotor dalam hasil ujian, karena setiap siswa lebih mengetahui masing-masing kemampuan kompetitornya.

Jumat, 11 Mei 2012

MENGKAJI PERMAINAN TRADISIONAL BENDAN DALAM IMPLIKASINYA PADA KARAKTER ANAK-ANAK DUSUN PASAR KECAMATAN NGULING KABUPATEN PASURUAN

MENGKAJI PERMAINAN TRADISIONAL BENDAN DALAM IMPLIKASINYA PADA KARAKTER ANAK-ANAK DUSUN PASAR KECAMATAN NGULING KABUPATEN PASURUAN


KARYA TULIS ILMIAH

Disusun sebagai syarat pemenuhan nilai tugas Bahasa Indonesia
DISUSUN OLEH :

JEFRI SETYAWAN (5724)
LILIK THOYYIBAH (5749)
NINIT CAHYANTI (5798)
M. ROFIK RIDWAN


PEMERINTAH KABUPATEN PASURUAN
DINAS PENDIDIKAN
SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI
UPTD PENDIDIKAN SMA NEGERI 1 GRATI
Jl. Sumurwaru No. 32 Telp (0343) 481017 Nguling – Pasuruan




LEMBAR PENGERSAHAN

KARYA TULIS : MENGKAJI PERMAINAN TRADISIONAL BENDAN DALAM IMPLIKASINYA PADA KARAKTER ANAK-ANAK DUSUN PASAR KECAMATAN NGULING KABUPATEN PASURUAN

NAMA :
1. JEFRI SETYAWAN (5724)
2. LILIK THOYYIBAH (5749)
3. NINIT CAHYANTI (5798)
4. M. ROFIK RIDWAN ( )


KARYA TULIS ILMIAH INI TELAH DIPERIKSA DAN DISETUJUI

NGULING, 5 MEI 2012


  Mengetahui
Kepala SMAN 1 GRATI



Nur Hasan, M.Pd
NIP.19570415 198403 1 012



 Pembimbing


Dwi Hariyanti S.Pd
NIP. 1972 1022 200902 2 001


KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan ke – Hadirat Tuhan Yang Maha Esa sehingga penulis dapat menyelesaikan karya tulis berjidul “MENGKAJI PERMAINAN TRADISIONAL BENDAN DALAM IMPLIKASINYA PADA KARAKTER ANAK-ANAK DUSUN PASAR KECAMATAN NGULING KABUPATEN PASURUAN “ dengan tepat waktu.

Karya tulis ini ditulis sebagai pemenuhan nilai tugas Bahasa Indonesia yang berkenaan dengan Menulis Karya Tulis Ilmiah. Sesungguhnya penulis meyakini tanpa bantuan dan uluran tangan, pendapat atau input dari berbagai pihak, penulisan karya ilmiah ini tidak akan membawa hasil yang maksimal.

Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada:

1. Bapak Drs. H. Nur Hasan, M.Pd, selaku Bapak Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Grati.
2. Ibu Dwi Hariyanti, S.Pd, selaku pengajar Bahasa Indonesia kelas XI IPS 4 SMA Negeri 1 Grati
3. Semua pihak yang telah membantu menyelesaikan karya tulis ini.

Kami sebagai penulis telah menyadari bahwa karya tulis ini masih jauh dari kata maksimal, jadi kritik dan saran yang membawa ke arah positif masih kita nantikan



Nguling, 29 April 2012


Penulis









BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang

Kebudayaan merupakan karakter masyarakat bukan karakter secara individual. Semua yang dipelajari dalam kehidupan sosial dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya merupakan kebudayaan. Kebudayaan selalu dipergunakan sebagai pedoman hidup artinya sebagai sarana untuk menyelenggarakan seluruh tatanan kehidupan warga masyarakat tersebut (Atik Catur Budiati: 2009: 86).

Kebudayaan terlahir dari berbagai sumber kearifan lokal maupun secara spontanitas dari masyarakat tersebut. Bentuk dari kebudayaan sangatlah beranekaragam. Dalam bidang seni yang meliputi seni tari, seni tulis, seni sandiwara, seni lukis, dan lain-lain. Sedangkan banyak lagi kebudayaan yang masing-masing teraplikasikan dalam berbagai kategori. Salah satunya adalah kebudayaan yang berupa permainan tradisional.

Permainan tradisional merupakan sarana interaksi tempo dulu yang bersifat rekreatif atau menghibur. Jenis permainan sangatlah bermacam-bacam, dari yang menggunakan peralatan sederhana hingga peralatan yang rumit sudah mendarah daging pada masayarakat tradisional kemudian terbawa hingga masyarakat modern kini. Salah satu permainan tradisional yang sangat sederhana yaitu Bendan.

Bendan merupakan nama permainan yang umum dikenal pada masyarakat Kabupaten Pasuruan. Cara bermain yang unik, mudah, sederhana dan edukatif merupakan faktor pendukung proses penanaman nilai-nilai pada anak-anak usia dini.

Berangkat dari keadaan demikian penulis mengangkat judul “Mengkaji Permainan Tradisional Bendan dalam Implikasinya pada Karakter Anak-Anak Dusun Pasar Kecamatan Nguling Kabupaten Pasuruan” dalam karya tulis ini.
1.2 Rumusan Masalah

Rumusan masalah adalah: “Bagaimana Peranan Permainan Tradisional Bendan dalam Proses Pembentukan Karakter Anak-anak Dusun Pasar Kecamatan Nguling Kabupaten Pasuruan?”

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Untuk mengetahui peranan permainan tradisional Bendan dalam proses pembentukan karakter anak-anak di Dusun Pasar Kecamatan Nguling Kabupaten Pasuruan.

1.3.2 Tujuan Khusus

1.3.2.1 Mengidentifikasi permainan tradisional Bendan dalam proses pembentukan karakter anak-anak di Dusun Pasar Kecamatan Nguling Kabupaten Pasuruan.
1.3.2.2 Mengidentifikasi proses berlangsungnya penanaman nilai-nilai moral dalam permainan tradisional Bendan.
1.3.2.2 Mengidentifikasi pengaruh tradisional Bendan bagi pola perilaku anak-anak di Dusun Pasar Kecamatan Nguling Kabupaten Pasuruan.

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Bagi Masyarakat
Masyarakat dapat mengetahui nilai-nilai sosial yang terkandung dalam setiap permainan tradisional pada umumnya, dan permainan Bendan pada khususnya

1.4.2 Bagi Anak-Anak
Anak-anak mampu menghayati dan mengaplikasikan nilai-nilai yang terkandung dalam permainan tradisional Bendan sehingga setiap individu menjadi lebih arif dalam menjalani proses menuju tahap remaja.

1.4.3 Bagi Orangtua
Orangtua dapat menggerakkan putra-putrinya untuk bermainan berbagai permainan tradisional sebagai alternatif permainan modern.

1.4.4 Bagi Instansi Terkait
Memberikan masukan pada pihak terkait mengenai dampak baik dan potensinya dalam sumbangsihnya terhadap karakter bangsa, terutama anak-anak sebagai penerus bangsa.

1.4.5 Bagi Peneliti Lainnya
Sebagai masukan atau informasi tambahan dalam mengembangkan penelitian berikutnya yang berkenaan dengan cara–cara pengembangan karakter bangsa.








BAB II
KAJIAN TEORI



2.1 Permainan Tradisional

Permainan tradisional adalah bentuk kegiatan permainan dan atau olahraga yang berkembang dari suatu kebiasaan masyarakat tertentu. Pada perkembangan selanjutnya permainan tradisional sering dijadikan sebagai jenis permainan yang memiliki ciri kedaerahan asli serta disesuaikan dengan tradisi budaya setempat. Kegiatannya dilakukan baik secara rutin maupun sekali-kali dengan maksud untuk mencari hiburan dan mengisi waktu luang setelah terlepas dari aktivitas rutin seperti bekerja mencari nafkah, sekolah, dan sebagainya.
(http://www.scribd.com/doc/55865763/Modul-4-Permainan-Tradisional-1, 29 April 2012, 17:57 WIB)

2.2 Permainan Bendan

2.2.1 Definisi

Permainan Bendan merupakan permainan klasik yang dilakukan dengan menggunakan kaki dan strategi dalam bidang datar yang dimainkan sesuai dengan pola yang dibuat sebelumnya.
(Sumber: menurut masyarakat Pasuruan).


2.2.2 Nilai-nilai Moral

Setiap permaian tradisional menampilkan sisi tersendiri untuk perkembangan kecerdasan anak. Hal ini sangat berbeda sekali dengan permainan modern yang berkembang saat ini. Adapun pesan moral yang dapat disampaikan oleh permainan bendan ini adalah
a. Permainan ini mengajarkan untuk berbagi kepada sesama teman.
b. Harus dapat bersikap sportif terhadap setiap permaian yang dilakukan serta harus dapat menerima jika dia kalah.
c. Setiap orang jika ingin sukses harus berjalan mulai bawah setelah itu baru dia akan merasakkan hasil kerja kerasnya selama ini.
d. Anak akan berpikir kreatif terhadap hal-hal yang ada disekelilingnya sehingga diharapkan kelak anak-anak tersebut menjadi manusia dewasa yang kreatif serta berperilaku positif.
e. Seseorang jika ingin sukses harus berjalan satu per satu terlebih dahulu.


2.2.3 Tujuan Permainan

Adapun tujuan diadakan ini adalah :
a. Melestarikan permainan tradisional sebagai ciri khas bangsa Indonesia
b. Memperkenalkan permainan tradisional Indonesia terutama ke masyarakat Indonesia sendiri yang tidak kenal dengan permainan tradisional tersebut.
c. Memberikan pengertian kepada orang tua-orang tua bahwa anak tersebut membutuhkan hiburan permainan. Bukan suatu kewajiban yang terus dituntutkan yang membuat anak tersebut stres.
d. Mengajarkan anak-anak Indonesia berfikir kreatif dengan apa yang ada di sekitarnya sehingga diharapkan kelak anak-anak tersebut menjadi manusia dewasa yang kreatif.


2.2.4 Tata Cara Permainan

Bendan merupakan permainan tadisional lompat-lompatan pada bidang-bidang datar yang digambar di atas tanah. Permainan ini berbentuk kotak-kotak yang menyerupai tanda tambah namun memiliki kotak-kotak. Memainkan harus loncat dengan menggunakan satu kaki dari kotak satu ke kotak. Kita sebagai pemain memegang sebuah pecahan eternit untuk dilemparkan ke masing-masing kotak dan kemudian kita melakukan lompatan ke dalam kotak-kotak tersebut. Setelah selesai lompat ke semua kotak kita mengambil pecahan enternit tersebut kemudian dilemparkan lagi kotak selanjutnya tapi dalam melempar tidak boleh melebih batas kotak yang telah disediakan jika kita melebihi batas kotak yang telah disediakan maka kita dinyatkan gugur dan diganti oleh pemain lagi.
Permainan ini dilakukan oleh dua orang atau lebih. Hal yang perlu disiapkan dalam permainan ini adalah sebelum kita memulai permainan ini adalah harus mengambar kotak-kotak dipelataran semen, aspal atau tanah. Mengambar 5 segi empat dempet vertikal kemudian di sebelah kanan dan kiri diberi lagi sebuah segi empet untuk lebih jelasnya


2.2.5 Cara Bermain

a. Semua pemain melakukan hompimpa yang menang berhak melakukan permaian terlebih dahulu. Pemain pertama melemparkan gaco (pecahan enternit di kotak nomor satu). Saat melemparkannya tidak boleh melebihi kotak yang telah disediakan jika melebihi maka dinyatakan gugur.
b. Pemain Pertama melompat dengan satu kaki, dari kotak 1 sampai kotak 6 kemudian berhenti sejenak di kotak A kemudian kembali lagi dengan mengabil gaco yang ada di kotak satu dengan posisi kaki satu masih diangkat.
c. Setelah itu pemain melemparkan gaco tersebut sampai ke kotak 2 jika keluar dari kotak 2 maka pemain dinyatakan gugur dan diganti oleh pemain berikutnya.
d. Begitu seterusnya sampai semua kotak sudah dilempar dengan gaco. Pergiliran dilakukan jika pemain pelempar gaco melewati sasaran, atau menampak dua kaki dikotak 1,2,3,4,5,6 dan berhenti sejenak di kotak A kemudian lompat lagi di kotak 3 dan berhenti di kotak 2 untuk mengambil gaco di kotak 1.
e. Jika gaco berada dikotak 2 maka pemain mengambilnya di kotak 3, jika gaco berada di kotak 4, 5 dan 6 maka pemain mengambilnya di kotak A.
f. Kemudian jika semua telah dilakukan oleh semua pemain maka pemain melemparkan gaco dengan membelakangi gambaran Bendan-nya jika pas pada kotak yang dikehendaki maka kota itu akan menjadi rumahnya maka boleh berhenti dikotak tersebut seperti pada kotak A tapi hanya berlaku pada pemain yang menang pada permaian tersebut begitu seterusnya sampi kotak-kotak mulai dari angka 1 sampai 6 menjadi milik para pemain. Jika semua telah dimiliki oleh sang pemain maka permainan dinyatakan telah selesai.
g. Pemenang adalah pemain yang paling banyak memiliki rumah dari kotak-kotak pada yang digambar.
(martini-pgsdum.blogspot.comlain, 10 April 2012, 14:19 WIB)

2.3 Karakter

Menurut H. Soemarno Soedarsono, karakter merupakan nilai-nilai yang terpatri dalam diri kita melalui pendidikan, pengalaman, percobaan, pengorbanan, dan pengaruh lingkingan, dipadukan dengan nilai-nilai dari dalam diri manusia menjadi semacam nilai intrinsik yang mewujud dalam sistem daya juang melandasi pemikiran, sikap dan perilaku kita.



2.4 Dusun Pasar Kecamatan Nguling Kabupaten Pasuruan

Dusun pasar terletak di Desa Mlaten, Kecamatan Nguling, Kabupaten Pasuruan. Dusun pasar ini berjarak 500 meter dari pantura yang sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai nelayan, petani dan pedagang. Dinamakan Dusun Pasar karena diantara satu desa dengan desa lain yang ada pusat perbelanjaan pada zaman dahulu. Sehingga dinamakan Dusun pasar. Dusun pasar terdapat 2 RT (RT 15 dan RT 16) dan 2 RW(RW 5 dan RW 6).
Dusun pasar berbatasan dengan Gudang sebelah barat, Buyuk sebelah timur, serta Krajan sebelah selatan. Dusun pasar memiliki ±350 jiwa penduduk. Adapun keanekaragaman penduduk yang sebagian besar adalah suku jawa, selain itu bisa juga ditemui suku-suku lain seperti sukun Madura serta keturunan Thionghoa Indonesia dan arab. Adapun potensi yang di miliki Dusun Pasar itu sendiri adalah wilayah perairan laut. Dusun Pasar ini berada pada tanah seluas ±10 hektar. Ciri khas terkenal di Dusun Pasar ini adalah tersedianya lembaga pendidikan keagamaan seperti sekolah madrasah.








BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Pendekatan Penelitian

Pada penelitian ini kami menggunakan pendekatan kualitatif yaitu pendekatan yang berusaha menangkap kenyataan sosial secara keseluruhan, utuh, dan tuntas sebagai suatu kesatuan kenyataan. Menurut pendekatan ini, objek penelitian dilihat sebagai kenyataan hidup yang dinamis, sehingga dengan penelitian ini data yang diperoleh tidak berupa angka-angka, tetapi lebih banyak deskripsi, ungkapan, atau makna-makna tertentu yang ingin disampaikan. Dalam pendekatan ini kami menggunakan penelitian deskriptif. Deskriptif dimaksud untuk mendeskripsikan suatu situasi. Pendekatan deskriptif juga berarti untuk menjelaskan fenomena atau karakteristik individual, situasi atau kelompok sosial secara akurat.

3.2 Populasi dan sampel

3.2.1 Populasi

Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian (Arikunto, 2002: 18).
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh anak-anak Dusun Pasar Kecamatan Nguling kabupaten Pasuruan pada tahun 2012 dengan jumlah populasi lebih dari 75 jiwa.

3.2.2 Sampel

Sampel adalah sebagian atau wakil dari populasi yang diteliti (Arikunto, 2002: 109).
Besar sampel dalam penelitian ini diambil dari populasi Dusun Pasar RT 15/RW 02 yang berusia 5-10 tahun dengan jumlah 20 jiwa secara akumulasi sebanyak 50% dari populasi tersebut, hingga perkiraan besar sampel 10 orang.

3.3 Metode Pengumpulan Data

3.3.1 Observasi

Metode observasi adalah teknik penelitian dengan melakukan pengamatan subjek kajian secara langsung turun ke lapangan untuk mengkaji subjek kajian secara spontan dan alamiah. Melalui inilah peneliti berusaha menjelaskan realitas dengan berusaha memperkecil atau bahkan menghilangkan subjektivitas peneliti.


3.3.2 Interview

Metode interview adalah wawancara atau dialog yang dilakukan oleh peneliti dan subjek penelitian yang bersifat dua arah, adapun pertanyaan telah terlebih dahulu disistematisasi sesuai dengan tema penelitian, pertanyaan secara fleksibel dapat berubah sesuai dengan arah pembicaraan agar tidak menimbulkan kecanggungan subjek kajian.


3.4 Tempat dan Waktu Penelitian

Tempat penelitian Dusun Pasar RT.15/RW.02 Desa Mlaten Kecamatan Nguling ± 1 km ke arah utara dari jalur perbatasan Pasuruan-Probolinggo Kabupaten Pasuruan pada tanggal 18-19 April 2012.






BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil Penelitian

4.1.1 Gambaran Umum Tempat Penelitian

Dusun Pasar ini berbatasan dengan Gudang sebelah barat, Buyuk sebelah timur, serta Krajan sebelah selatan. Dusun pasar memiliki ±350 jiwa penduduk. Adapun keanekaragaman penduduk yang sebagian besar adalah suku jawa,selain itu bisa juga ditemui suku-suku lain seperti sukun madura serta keturunan thionghoa Indonesia dan arab.Adapun potensi yang di miliki dusun pasar itu sendiri adalah laut.Dusun pasar ini berada pada tanah seluas ±10 hektar. Dusun pasar mempunyai beberapa lembaga pendidikan keagamaan seperti sekolah madrasah.


4.1.2 Hasil Interview

Hasil interview yang didapat dari 10 responden Dusun Pasar RT 15/RW 02 yang berusia 5-10 tahun adalah sebagai berkut:
                                                                                Tabel.1
Kesimpulan:
Seluruh responden mempunyai tujuan untuk mendapatkan kesenangan. Untuk itu, para pemain berusaha untuk menang dengan jujur. Namun keadaan dominan akan peranan orang tua yang membatasi anak bermain hingga memarahi anaknya.


4.2 Pembahasan

4.2.1 Mengidentifikasi Permainan Tradisional Bendan dalam Proses Pembentukan Karakter Anak-anak di Dusun Pasar Kecamatan Nguling Kabupaten Pasuruan.

Permainan tradisional memberikan kontribusi yang baik bagi anak-anak Dusun Pasar. Nilai-nilai yang terkandung mampu membuat anak-anak di wilayah tersebut terus berpegang teguh pada ajaran dan niilai-nilai kemasyarakatan. Beberapa individu yang kami teliti adalah salah satu dari kelompok bermain yang berdomisili di daerah tersebut. Jika dilihat dari latar belakangnya, mereka sejak kecil mendapat pengajaran lokal yang kuat sehingga mereka tidak merasa canggung lagi dengan berbagai macam kebudayaan yang dimiliki. Ketika ditanya tentang motivasi mereka bermain kegiatan tersebut, mereka menjawab secara normatif misalnya karena mengisi waktu senggang, mencari kesenangan tersendiri, dan yang paling utama yaitu mendapat kemenangan dari teman sepermainan lainnya. Dari banyaknya permainan tradisional yang mereka ketahui, salah satu yang sangat termasyhur adalah permainan Bendan.
Di akhir permainan Bendan, individu yang kalah harus mematuhi dan menjalankan instruksi yang diinginkan oleh individu yang menang. Hal ini dilakukan sebagai imbalan bagi baik yang menang atau yang kalah.

4.2.2 Mengidentifikasi Proses Berlangsungnya Penanaman Nilai-nilai Moral dalam Permainan Tradisional Bendan.

Dalam permainan tersebut terdapat pengajaran atau transfer mengenai kompetisi. Mengamati antara satu dengan lainnya lalu saling berpikir membentuk strategi permainan. Dalam proses itulah penanaman nilai-nilai dilakukan. Nilai-nilai yang dimunculkan tentu saja nilai-nilai moral. Proses penciptaan nilai dilakukan antar individu yang bermain. Seorang individu yang lebih cekatan dalam bermain, secara tidak langsung membuat pemain lainnya merasa geram. Hal ini mampu memicu munculnya strategi baru yang kemungkinan bisa lebih baik atau bahkan menjatuhkan mental pemain selanjutnya. Hal tersebut berdampak baik apabila anggota tersebut telah mengerti dan telah merekam strategi lawan dalam dirinya, dan selanjutnya dengan mudah mengaplikasikannya. Intinya, proses penanaman nilai-nilai sosial pada permainan tradisional bendan dikomunikasikan secara serentak ketika pemain lain memegang permainan.

4.2.3 Mengidentifikasi pengaruh tradisional Bendan bagi pola perilaku anak-anak di Dusun Pasir Kecamatan Nguling Kabupaten Pasuruan.

Menurut tabel.1 faktor mencari kesenangan adalah yang paling besar dalam memberikan dorongan memainkan bendan. Bagi mereka bendan dianggap sebagai sarana rekreasi yang menginterpretasikan permainan desa sederhana sebagai suatu kebutuhan yang mutlak bagi mereka.
Pembentukan karakter kepribadian bermula dari semenjak kelahiran individu, di mana secara normal kelompok primerlah yang mengajarkan pertama kali dan selanjutnya kelompok-kelompok sekunder yang selanjutnya menanamkan pada perilaku-perilaku berikutnya. Dalam kelompok bermain yang kami teliti, sejak awal permainan berlangsung terlihat ambisi yang besar untuk menang. Semua individu memiliki cara yang berbeda, hal ini menunjukkan keberagaman cara berfikir untuk menang. Setiap individu secara tersirat dituntut untuk lenih baik dari individu lainnya. Pemahaman nilai-nilai berupa intens, sehingga semakin membentuk kesadaran anggotanya. Selanjutnya, karakter tersebut akan di aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari di sekolah. Secara tidak langsung anak-anak yang sering bermain bendan terus berhati-hati dan berfikir untuk bisa menjadi yang terbaik pada sahabat atau orang di sekitarnya.
Untuk pola pikir sendiri mereka cenderung bersifat kompetitif. Misalnya dalam ulangan harian sekolah, mereka cenderung bersikap perfeksionis, Dilain sisi pengaruh 8% dari kebiasaan orang tua memarahi anaknya merupakan hal yang mampu menghambat proses transaksi nilai-nilai permainan bendan. Dalam artian, tidak sepenuhnya seorang anak dikekang dan diberikan kebebasan untuk mengisi waktu senggang. Peranan orangtua yang bijak dengan mengatur jadwal anak lebih diprioritaskan guna menyeimbang antara keinginan anak untuk bermain dan peran orangtua sebagai controlling.







BAB V
PENUTUP



5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan sebelumnya, maka kami dapat mengambil kesimpulan bahwa:
1. Sebanyak 100% dari 10 responden menyatakan dirinya bermain untuk merasakan kesenangan
2. Sebanyak 70% dari 10 responden melalui permainan tradisional bendan dirinya mampu mengakrabkan diri.
3. 80% responden berusaha untuk menang
4. Tujuan lain responden adalah 60% untuk memperoleh pujian
5. 80% peranan orangtua yang kontra terhadap kebebasan anak dalam bermain
6. Permainan bendan mengandung nilai kompetitif yang mampu memicu anak menjadi pribadi yang lebih baik dan berhati-hati.
7. Permainan bendan bisa menjadi kegiatan alternatif seorang anak dalam mengisi waktu senggangnya karena bersifat rekreatif edukatif, dimana dalam bermain mendapatkan dua manfaat sekaligus.

5.2 Saran

5.2.1 Bagi Masyarakat

Diharapkan masyarakat dapat mengetahui nilai-nilai sosial yang terkandung dalam setiap permainan tradisional pada umumnya, dan permainan bendan pada khususnya.

5.2.2 Bagi Anak-anak

Diharapkan anak-anak mampu menghayati dan mengaplikasikan nilai-nilai yang terkandung dalam permainan tradisional bendan sehingga setiap individu menjadi lebih arif dalam menjalani proses menuju tahap remaja.

5.2.3 Bagi Orangtua

Diharapkan orangtua dapat menggerakkan putra-putrinya untuk bermainan berbagai permainan tradisional sebagai alternatif permainan modern.

5.2.4 Bagi Instansi terkait

Diharapkan menjadi masukan pada pihak terkait mengenai dampak baik dan potensinya dalam sumbangsihnya terhadap karakter bangsa, terutama anak-anak sebagai penerus bangsa.

5.2.5 Bagi Peneliti Lainnya

Diharapkan penelitian ini dapat digunakan sebagai dasar dalam mengembangkan penelitian berikutnya yang berkenaan dengan cara-cara lain pengembangan karakter bangsa. 





Selasa, 10 Mei 2011

PEMANFAATAN LIMBAH MINYAK GORENG


BAB II
PEMBAHASAN

A. Siapa yang menjadi objek penelitian?
Kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh ibu Supatmi ini telah berjalan cukup lama. Dimulai dari sekitar tahun 1990 beliau sudah menggeluti profesi ini. Awalnya beliau memproduksi makan berat seperti molen, donat serta bakpao goreng.
Namu seiring perkembangan waktu, beliau tidak lagi meneruskan usaha yang dirintisnya. Pasalnya berbagai bahan-bahan yang dibutuhkan mengalami kenaikan harga yang signifikan. Akhirnya, diputuskan mulai tahun 2000 beliau merintis kembali usahanya dengan membuat “Kripik Pisang”. Beliau tinggal di Gg.Kyai Hasyim Sumur waru depan Lapangan Sumur waru. Pertengahan tahun 2010 beliau memperluas produknya dengan membuat “Peyek Kacang”. Dan sekarang beliau lagi mengembagkan produknya dimulai dari “Peyek bayam”, “Kripik Singkong” dan lainnya. Namun, karena Kripik Pisang serta Peyek Kacang menjadi ikon favorit dilidah konsumen, beliau harus konsentrasi pada kedua ikon produknya tersebut.

B. Berapa modal yang diperlukan?
Dalam menjalankan usahanya beliau membutuhkan modal Rp 500.000,00 yang terinci untuk membeli pisang (Raja Nangka), bumbu dapur, minyak goreng, tepung beras, kacang tanah beserta plastik pembungkus. 
C. Apa yang menjadi permasalah dalam produktifitas kripik pisang dan peyek kacang?
Sisa limbah minyak goreng merupakan masalah yang serius bagi pengusaha seperti ibu Supatmi karena setiap menggoreng limbah yang dihasilkan berkisar  ¼- ½ kg per sekali menggoreng. Sifat fisik limbah tersebut berwarna cokelat kehitaman, terdapat partikel-partikel padat yang terlarut dalam minyak. Pengotor minyak goreng berasal dari pemanasan minyak yang berlebih dan debu-debu dalam krecek atau bahan yang digoreng hancur/gosong dapat juga menjadi pengotor. Kualitas minyak tersebut akan cepat turun/menjadi jelek bila minyak yang digunakan tidak baik. Oleh karena itu, pengusaha sangat membutuhkan cara mengolah sisa minyak goreng sehingga dapat memanfaatkan minyak limbah tersebut dengan kualitas produksinya (hasil penggorengan tetap baik) serta dari segi hygienitas hasil produksi tetap tinggi.
D. Bagaimana cara mengolah limbah minyak yang dihasilkan?
Cara mengelolahnya mudah sekali, beliau memberikan taburan tepung beras pada minyak goreng yang mulai menghitam dan alhasil menjadi kuning kembali tapi agak keruh. Kemudian beliau saring . Tapi ini bukan jaminan bahwa warna kuning menjadi jaminan minyak goreng yang bersih dan hygienis. Ibu Supatmi hanya menggunakan  2-3 kali saja dalam kebutuhan seperti menggoreng lauk atau ikan. Setelah itu, minyak tersebut beliau simpan dan beliau berikan kepada bengkel yang membutuhkan dengan imbalan seikhlasnya.
BAB III
TIPS MENGATASI LIMBAH MINYAK GORENG BEKAS
Minyak goreng merupakan salah satu sembako yang kita gunakan setiap hari. Namun minyak goreng bukanlah produk yang habis saat digunakan. Akibatnya, semakin banyak minyak goreng yang digunakan, maka semakin banyak limbah minyak goreng yang dihasilkan.
Apalagi minyak goreng yang kita gunakan sebagian besar berasal dari berbagai kelapa sawit. Perkebunan kelapa sawit sendiri sebagian besar berasal dari lahan hutan alam yang kemudian diubah fungsinya. Pertanyaan yang timbul kemudian adalah bagaimana cara mengurangi, membuang dan mengatasi limbah tersebut agar tidak mencemari lingkungan.
Berikut adalah tips-tips yang dapat kita terapkan:
Kurangi penggunaan minyak goreng: Dari sisi kesehatan, terlalu banyak dan sering mengkonsumsi makanan yang digoreng tidaklah bagus. Nah, walaupun tampaknya sulit, jika kita mau, kita dapat mengurangi mengkonsumsi makanan yang digoreng. Dengan begitu, selain tubuh kita lebih sehat, kita juga dapat mengurangi jumlah timbulan limbah minyak goreng.

Gunakan alat masak yang hemat minyak goreng: Kamu penggemar gorengan? Hmm, jika memang tidak dapat menghindari penggunaan minyak goreng ketika memasak makanan favorit, maka gunakanlah alat masak (misal, penggorengan) yang hemat minyak atau malah justru yang tidak perlu minyak sama sekali untuk menggoreng. Teknologi sudah canggih, ayo cari gadget untuk masak.


Jangan membuang minyak goreng bekas sembarangan: Hindari membuang minyak goreng ke saluran dan/atau badan air karena selain minyak goreng tersebut lama-kelamaan dapat membeku dan menyumbat saluran, limbah tersebut juga dapat mencemari air sehingga mengganggu ekosistem air yang ada. Ngga mau dong punya predikat ‘pencemar lingkungan'?

Apakah minyak goreng bekas dapat didaur ulang? Yang paling baru, limbah minyak goreng juga dapat dijadikan bahan campuran untuk membuat bahan bakar biodiesel. Berita bagus bukan? Karena selain tidak ada lagi limbah minyak goreng (zero waste), hasil daur ulangnya dapat digunakan sebagai solusi ketergantungan kita terhadap penggunaan minyak bumi.


Nah, daripada kita buang sembarangan sehingga mencemari lingkungan, mulai sekarang kumpulkanlah minyak goreng bekas di rumah. Jika sudah banyak, kita dapat menjualnya pada pihak berwenang di kota setempat yang menerima minyak goreng bekas untuk diolah menjadi bahan bakar biodiesel.


BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Sisa limbah minyak goreng merupakan masalah yang serius bagi pengusaha seperti ibu Supatmi karena setiap menggoreng limbah yang dihasilkan berkisar  ¼- ½ kg per sekali menggoreng. Oleh karenanya, jangan membuang minyak goreng bekas sembarangan: Hindari membuang minyak goreng ke saluran dan/atau badan air karena selain minyak goreng tersebut lama-kelamaan dapat membeku dan menyumbat saluran, limbah tersebut juga dapat mencemari air sehingga mengganggu ekosistem air yang ada.

B. Pesan
Lakukan beberapa tips cara mengolah limbah minyak goreng diatas secara bertahap.Entah dimulai dari lingkungan keluarga anda, lingkungan masyarakat hingga masyarakat luas.

C. Kritik dan Saran
Suatu karya apapun mustahil akan mencapai sebuah kata sempurna, namun disini penulis ingin meminta kritik dan saran anda guna memperbaiki penelitian kami yang berlanjut di waktu yang akan datang sehingga mendapatkan hasil yang memuaskan.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites